Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Minggu sore ini saya berkesempatan mengikuti pembukaan kegiatan Baitul Arqam Cabang Serbelawan, Kabupaten Simalungun, yang dilaksanakan di Komplek Perguruan Muhammadiyah Serbelawan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Kegiatan yang menjadi bagian penting dari sistem pengkaderan Muhammadiyah ini menghadirkan suasana penuh semangat, kebersamaan, dan harapan untuk melahirkan kader-kader yang memahami Islam dan Muhammadiyah secara utuh.
Ketua MPKSDI PCM Serbelawan, Muhammad Taufiq Pasaribu, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan Baitul Arqam berlangsung selama tiga hari, mulai 14 hingga 16 Juni 2026. Peserta berjumlah 76 orang yang berasal dari berbagai Amal Usaha Muhammadiyah di lingkungan PCM Serbelawan, meliputi SMA Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah, SD Muhammadiyah, dan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan dan penguatan kader Muhammadiyah di lingkungan amal usaha.
Selanjutnya, Ketua PCM Serbelawan, Karinadi, menyampaikan bahwa Baitul Arqam merupakan kegiatan yang sangat penting bagi Muhammadiyah di Serbelawan. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, tetapi juga menjadi sarana penyegaran dan penyemangat bagi para kader Muhammadiyah. Melalui kegiatan seperti ini, para kader dapat memperkuat kembali komitmen perjuangan, mempererat silaturahim, serta meningkatkan pemahaman keislaman dan kemuhammadiyahan dalam menjalankan amanah di amal usaha maupun persyarikatan.
Dalam kesempatan tersebut, Karinadi juga mengingatkan pentingnya menumbuhkan kesadaran ber-Muhammadiyah di kalangan guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah. Menurut beliau, ada perbedaan antara guru yang bekerja di Muhammadiyah dengan guru yang menghidupkan Muhammadiyah. Bekerja di Muhammadiyah adalah menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik, sedangkan menghidupkan Muhammadiyah berarti ikut membesarkan persyarikatan, aktif dalam kegiatan organisasi, serta menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.
Beliau juga mengingatkan agar para guru tidak hanya menjadi guru sosiologis, yaitu guru yang bekerja semata-mata untuk memperoleh pekerjaan, penghasilan, atau status sosial di tengah masyarakat. Muhammadiyah membutuhkan guru yang memiliki semangat dakwah, kepedulian terhadap persyarikatan, serta komitmen untuk memajukan Amal Usaha Muhammadiyah. Sekolah Muhammadiyah bukan sekadar tempat bekerja, tetapi juga ladang amal, dakwah, dan pengabdian.
Karinadi menambahkan bahwa seluruh kader, guru, dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah harus memahami dan mengimplementasikan gagasan Islam Berkemajuan yang menjadi karakter gerakan Muhammadiyah. Islam Berkemajuan mendorong lahirnya insan yang beriman, berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Sejalan dengan semangat “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya”, Muhammadiyah melalui pendidikan dan pengkaderan terus berikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun peradaban yang maju, dan menghadirkan manfaat bagi seluruh umat manusia.
Dalam sambutannya, Ketua PDM Simalungun, Asmen, S.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Baitul Arqam. Menurut beliau, pengkaderan merupakan investasi penting bagi masa depan Muhammadiyah. Para peserta tidak hanya memperoleh ilmu dan wawasan baru, tetapi juga mendapatkan kesempatan membangun jejaring silaturahim dengan sesama peserta, panitia, instruktur, dan pemateri.
Ketua PDM Simalungun juga menjelaskan bahwa seluruh guru dan karyawan yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah wajib mengikuti pengajian rutin setiap minggu di ranting Muhammadiyah masing-masing serta pengajian khusus yang diselenggarakan oleh Amal Usaha Muhammadiyah. Hal ini penting agar para guru dan tenaga kependidikan memiliki bekal keislaman dan kemuhammadiyahan yang kuat, sehingga mampu menjadi tenaga profesional sekaligus kader Muhammadiyah yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai persyarikatan dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau juga mengingatkan bahwa tantangan dunia pendidikan ke depan semakin berat. Munculnya berbagai sekolah baru dengan berbagai fasilitas dan keunggulan menuntut sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk terus berbenah, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memperkuat daya saing. Sekolah Muhammadiyah harus mampu menjadi pilihan utama masyarakat melalui mutu pendidikan, karakter, dan pelayanan yang unggul.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa tugas kader Muhammadiyah adalah menjadikan Muhammadiyah semakin dekat dengan masyarakat. Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang legal, resmi, dan telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan dakwah. Karena itu, Muhammadiyah tidak boleh dianggap asing oleh masyarakat. Sebaliknya, kader Muhammadiyah harus mampu menghadirkan wajah persyarikatan yang ramah, terbuka, profesional, dan bermanfaat.
Beliau juga mengajak seluruh kader untuk bersungguh-sungguh menjadikan Muhammadiyah sebagai rujukan masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan. Kepercayaan masyarakat kepada sekolah-sekolah Muhammadiyah harus terus dibangun melalui kualitas, pelayanan, keteladanan, dan pengabdian yang nyata.
Sementara itu, Wakil Ketua PWM Sumatera Utara sekaligus Koordinator MPKSDI PWM Sumatera Utara, H. Mario Kasduri, M.A., menegaskan bahwa Baitul Arqam merupakan salah satu instrumen penting dalam sistem pengkaderan Muhammadiyah. Melalui kegiatan ini para peserta dibimbing untuk memahami gerakan Muhammadiyah, tata kelola organisasi dan amal usaha, serta memperkuat pemahaman Islam yang menjadi landasan perjuangan persyarikatan.
Beliau menjelaskan bahwa fungsi Baitul Arqam tidak hanya memberikan pengetahuan organisasi, tetapi juga membentuk karakter kader agar sesuai dengan ajaran Islam menurut Muhammadiyah. Para peserta diharapkan memiliki integritas, semangat dakwah, dan komitmen yang kuat dalam mengemban amanah di berbagai Amal Usaha Muhammadiyah.
Menurut beliau, sistem pembelajaran yang digunakan dalam Baitul Arqam adalah andragogi, yaitu metode pembelajaran orang dewasa yang menempatkan peserta sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. Melalui diskusi, berbagi pengalaman, dan refleksi bersama, peserta diharapkan mampu memahami materi secara lebih mendalam dan kontekstual.
H. Mario Kasduri juga menekankan bahwa pengkaderan sejatinya adalah proses mencas ruhani, memperkuat pemahaman keislaman dan kemuhammadiyahan. Karena itu, pengkaderan tidak cukup dilakukan sekali. Seorang kader perlu mengikuti berbagai proses pembinaan secara berkelanjutan agar semangat perjuangan, wawasan, dan kualitas dirinya terus berkembang sesuai kebutuhan zaman.
Baitul Arqam bukan sekadar kegiatan formal, melainkan investasi jangka panjang bagi Muhammadiyah. Dari forum-forum pengkaderan seperti inilah lahir kader-kader yang memiliki pemahaman Islam yang kokoh, akhlak yang mulia, loyal terhadap persyarikatan, profesional dalam bekerja, serta mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan Baitul Arqam tidak hanya diukur dari berakhirnya kegiatan selama tiga hari, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai yang diperoleh mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika para peserta mampu menjadi guru yang menginspirasi, pengelola amal usaha yang amanah, dan kader yang menghidupkan Muhammadiyah di tengah masyarakat, maka tujuan pengkaderan telah tercapai.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, Muhammadiyah membutuhkan kader-kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, matang dalam berorganisasi, dan ikhlas dalam berkhidmat. Dari Komplek Perguruan Muhammadiyah Serbelawan, semangat itu kembali diteguhkan. Melalui Baitul Arqam, Muhammadiyah terus menyiapkan kader-kader terbaik untuk meneruskan dakwah pencerahan, mewujudkan Islam Berkemajuan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menghadirkan Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. (*)
Silaturahmi • Kolaborasi • Sinergi • Harmoni














