Oleh: Farid Wajdi
Peradaban modern berdiri di atas listrik. Gedung pencakar langit, pusat data, jaringan internet, rumah sakit modern, industri digital, transportasi massal, hingga telepon genggam di tangan manusia, seluruhnya hidup dari arus energi yang mengalir tanpa henti.
Ketika listrik menyala, manusia merasa dunia berjalan normal. Namun begitu listrik padam beberapa jam saja, kepanikan langsung menyebar. Kota modern mendadak terlihat rapuh. Teknologi yang selama ini dipuja berubah lumpuh.
Peradaban digital ternyata hanya sejauh colokan listrik. Listrik bukan lagi sekadar kebutuhan teknis. Energi listrik telah berubah menjadi syarat eksistensi peradaban modern.
Ironisnya, manusia modern sering merasa paling maju dalam sejarah, padahal ketergantungannya justru semakin ekstrem. Semakin canggih teknologi, semakin besar ketergantungan terhadap listrik.
Manusia abad digital hidup dalam paradoks besar: merasa menguasai dunia melalui teknologi, tetapi sangat tidak berdaya ketika arus listrik berhenti mengalir.
Bayangkan kota metropolitan tanpa listrik selama dua hari. Internet mati. ATM lumpuh. Pompa air berhenti. Lift tidak bergerak. Rumah sakit bertahan dengan genset darurat. Sinyal komunikasi melemah. Sistem pembayaran digital gagal bekerja. Makanan rusak di pendingin. Transportasi kacau. Dalam hitungan jam, modernitas berubah menjadi kekacauan.
Peristiwa semacam itu memperlihatkan satu kenyataan pahit: peradaban modern sangat kuat di permukaan, tetapi menyimpan kerentanan serius di fondasi dasarnya.
Dalam sejarah manusia, perubahan besar selalu ditentukan oleh energi. Peradaban agraris berkembang melalui tenaga manusia dan hewan. Revolusi industri bertumpu pada batu bara dan mesin uap. Abad ke-20 dikuasai minyak bumi. Abad ke-21 bergerak menuju peradaban listrik, digital, dan kecerdasan artifisial.
Namun ada satu ironi besar yang jarang dibicarakan. Dunia modern sibuk memamerkan teknologi canggih, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, dan transformasi digital, sementara fondasi energinya sendiri belum sepenuhnya aman. Banyak negara berlomba membangun aplikasi pintar, tetapi gagal membangun sistem energi yang benar-benar tangguh.
Euforia Modernisasi Simbolik
Akibatnya, satu gangguan listrik mampu melumpuhkan jutaan aktivitas manusia sekaligus.
Peradaban digital sesungguhnya sangat sensitif terhadap krisis energi. Data center membutuhkan listrik tanpa jeda. cloud computing bergantung pada stabilitas daya. Kecerdasan artifisial memerlukan energi dalam jumlah besar. Bahkan media sosial yang setiap hari dipenuhi narasi kemajuan teknologi, seluruhnya bergantung pada server yang terus menyala selama dua puluh empat jam.
Karena itu, slogan transformasi digital tanpa ketahanan energi hanya menghasilkan ilusi kemajuan.
Banyak negara berkembang terjebak dalam euforia modernisasi simbolik. Gedung pintar dibangun. Kota digital dipromosikan. Startup dipuji sebagai masa depan ekonomi. Namun infrastruktur energinya masih rapuh. Pemadaman listrik masih sering terjadi. Transmisi mudah terganggu. Distribusi tidak merata. Ketahanan sistem lemah.
Modernitas semacam ini ibarat membangun istana kaca di atas tanah retak.
Indonesia menghadapi paradoks tersebut secara nyata. Pemerintah berbicara tentang hilirisasi industri, ekonomi digital, kendaraan listrik, dan kecerdasan artifisial.
Namun dalam waktu bersamaan, pemadaman massal masih terjadi di berbagai wilayah. Ketika satu gangguan transmisi mampu memicu blackout luas, publik dipaksa menyadari satu kenyataan sederhana: Indonesia ingin melompat menuju peradaban digital, tetapi fondasi energinya belum sepenuhnya siap menopang lompatan tersebut.
Persoalan terbesar Indonesia bukan sekadar kekurangan listrik. Persoalan utamanya terletak pada ketahanan sistem.
Selama bertahun-tahun, pembangunan energi lebih sibuk mengejar angka megawatt. Pemerintah bangga mengumumkan tambahan pembangkit baru, tetapi lupa bahwa peradaban modern tidak hanya membutuhkan listrik tersedia, melainkan listrik yang stabil, tahan gangguan, dan mampu bertahan dalam situasi krisis.
Negara maju memahami logika tersebut sejak lama. Mereka membangun sistem berlapis. Jika satu jalur terganggu, jalur lain mengambil alih. Jika satu pusat gagal, sistem cadangan bergerak otomatis. Mereka mengembangkan smart grid, keamanan siber kelistrikan, artificial intelligence untuk deteksi gangguan, serta jaringan energi berbasis mitigasi bencana.
Sebaliknya, banyak negara berkembang masih terjebak pada pola reaktif. Infrastruktur dibiarkan menua. Sistem diperbaiki setelah krisis terjadi. Permintaan maaf lebih sering muncul dibanding reformasi mendasar.
Urat Saraf Peradaban
Padahal listrik bukan sekadar komoditas ekonomi. Listrik adalah urat saraf negara modern.
Tanpa listrik stabil, tidak ada industri kuat. Tanpa listrik stabil, tidak ada ekonomi digital. Tanpa listrik stabil, tidak ada keamanan nasional yang benar-benar kokoh. Negara boleh memiliki sumber daya alam melimpah, tetapi tanpa sistem energi tangguh, seluruh potensi tersebut dapat runtuh hanya karena satu gangguan besar.
Karena itu, energi hari ini telah berubah menjadi arena perebutan kekuatan global. Konflik Rusia-Ukraina memperlihatkan betapa energi dapat digunakan sebagai instrumen tekanan geopolitik. Eropa mengalami guncangan besar akibat ketergantungan gas terhadap Rusia. Harga energi melonjak. Inflasi meningkat. Industri terganggu. Krisis tersebut membuktikan energi bukan lagi urusan teknis, melainkan instrumen politik dan pertahanan.
Dunia sedang memasuki era perang energi. Dalam konteks tersebut, ketergantungan energi tanpa ketahanan sistem merupakan ancaman serius bagi masa depan negara.
Ironisnya, banyak elite politik lebih tertarik membangun pencitraan proyek besar dibanding memperkuat fondasi dasar energi nasional. Infrastruktur megah lebih mudah dipamerkan dibanding investasi jaringan transmisi atau modernisasi distribusi listrik yang tidak terlalu terlihat publik.
Padahal justru dari kabel-kabel yang jarang diperhatikan itulah kehidupan modern bergerak.
Krisis energi juga memperlihatkan wajah ketimpangan sosial. Di kota besar, listrik dianggap kebutuhan normal. Namun di banyak wilayah terpencil, akses listrik masih terbatas dan tidak stabil. Anak-anak belajar dengan penerangan minim. Aktivitas ekonomi tersendat. Teknologi sulit berkembang. Ketimpangan energi akhirnya berubah menjadi ketimpangan pendidikan, ekonomi, dan masa depan.
Karena itu, pembangunan energi sesungguhnya bukan hanya proyek infrastruktur, melainkan proyek keadilan sosial dan proyek peradaban.
Abad ke-21 akan ditentukan oleh negara yang mampu mengelola energi secara cerdas. Negara dengan sistem energi kuat akan memimpin industri digital, kecerdasan artifisial, dan ekonomi masa depan. Sebaliknya, negara dengan sistem energi rapuh akan terus tertinggal, meskipun memiliki sumber daya alam melimpah.
Peradaban modern bergerak melalui arus listrik yang nyaris tidak terlihat mata manusia. Namun dari aliran tak terlihat tersebut, ekonomi hidup, teknologi berkembang, industri bergerak, dan negara mempertahankan stabilitasnya.
Ketika listrik menyala, manusia merasa dunia aman. Ketika listrik padam, manusia baru sadar betapa rapuh peradaban yang selama ini dibanggakan.
Karena itu, energi listrik bukan sekadar soal cahaya. Energi listrik telah berubah menjadi penentu hidup-matinya peradaban digital modern. (*)
Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU
–





