TAJDID.ID~Jakarta || Pimpinan Pusat Himpunan Difabel Muhammadiyah (HidiMu) terus memperkuat pembinaan keagamaan bagi para anggotanya melalui program Ta’lim Qur’an Inklusif (TAQI). Memasuki seri ke-12, kegiatan yang telah berjalan selama dua tahun terakhir itu untuk pertama kalinya diselenggarakan di Masjid At-Tanwir Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya Nomor 62, Jakarta Pusat, Ahad (14/6/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri anggota HidiMu dari berbagai wilayah di Jabodetabek. Sejumlah pimpinan Muhammadiyah turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Ketua Umum PP HidiMu Fajri Hidayatullah, Wakil Sekretaris Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah Dedi Warman, serta Kepala Kantor PP Muhammadiyah Hefinal.
Pelaksanaan TAQI seri ke-12 menjadi momentum penting bagi HidiMu untuk memperluas jangkauan dakwah dan pembinaan kepada kalangan difabel. Selain menjadi wadah penguatan spiritual, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi dan penguatan jejaring antaranggota yang selama ini tersebar di berbagai daerah.
Pada kesempatan tersebut, PP HidiMu menghadirkan Buya Dr Risman Muchtar sebagai narasumber utama. Penasehat Majelis Tabligh PP Muhammadiyah itu menyampaikan kajian bertema Ibadah sebagai Pembeda Manusia dari Makhluk Lainnya.
Dalam pemaparannya, Buya Risman mengajak peserta memahami kembali hakikat penciptaan manusia sebagai hamba Allah SWT sekaligus khalifah di muka bumi. Menurutnya, kedudukan istimewa yang diberikan kepada manusia membawa konsekuensi berupa tanggung jawab moral dan spiritual yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki perbedaan mendasar dengan makhluk lainnya. Hewan dan tumbuhan hidup mengikuti ketentuan alam yang telah ditetapkan, namun tidak dibebani kewajiban beribadah sebagaimana manusia. Karena itu, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan-Nya.
“Karena itu, manusia memiliki konsekuensi pahala yang berbuah surga maupun dosa yang berbalas neraka,” ujar Buya Risman di hadapan peserta kajian.
Menurut dia, ibadah tidak hanya dimaknai sebagai ritual semata, tetapi juga menjadi sarana bagi manusia untuk menunjukkan ketaatan, rasa syukur, dan pengabdian kepada Sang Pencipta. Melalui ibadah, manusia membedakan dirinya dari makhluk lain sekaligus meneguhkan perannya sebagai khalifah yang bertugas menebarkan kebaikan di tengah kehidupan.
Materi yang disampaikan mendapat sambutan antusias dari peserta. Selain membahas aspek teologis, kajian tersebut juga memberikan penguatan motivasi agar para anggota HidiMu terus meningkatkan kualitas ibadah dan peran sosialnya di tengah masyarakat.
Ketua Umum PP HidiMu Fajri Hidayatullah mengatakan bahwa TAQI merupakan salah satu program unggulan organisasi dalam membangun kapasitas spiritual anggota. Program ini secara rutin dilaksanakan sebagai bagian dari upaya menghadirkan ruang pembelajaran agama yang inklusif dan mudah diakses oleh kalangan difabel.
Menurut Fajri, memasuki seri ke-12, TAQI tidak lagi hanya diarahkan untuk peserta di wilayah Jabodetabek. Ke depan, program tersebut akan diperluas agar dapat menjangkau anggota HidiMu di seluruh Indonesia melalui kombinasi kegiatan luring dan daring.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh anggota, tanpa memandang lokasi tempat tinggal maupun kondisi kedifabelannya, memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti pembinaan keagamaan dan memperkuat pemahaman keislaman.
“TAQI harus menjadi ruang belajar bersama yang dapat diakses oleh seluruh anggota HidiMu di Indonesia. Dengan dukungan teknologi, kajian ini dapat menjangkau lebih banyak peserta dan memberikan manfaat yang lebih luas,” ujarnya.
Fajri menambahkan bahwa TAQI tidak hanya dimaksudkan sebagai forum kajian keagamaan. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan pemberdayaan anggota dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi dan sosial.
Menurutnya, semakin sering anggota bertemu, berdiskusi, dan membangun interaksi, semakin besar pula peluang terciptanya kolaborasi yang bermanfaat. Pertemuan rutin juga memungkinkan anggota saling berbagi informasi mengenai peluang usaha, akses pendidikan, layanan sosial, maupun berbagai program pemberdayaan yang dapat meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas.
“Selain memperkuat aspek spiritual, kami ingin TAQI menjadi sarana mempererat persaudaraan dan membangun solidaritas antaranggota. Dari kebersamaan itu diharapkan lahir berbagai bentuk pemberdayaan yang memberi manfaat nyata,” kata Fajri.
Pelaksanaan TAQI seri ke-12 juga menandai perubahan penting dalam penyelenggaraan program tersebut. Jika sebelumnya kegiatan dilaksanakan secara bergilir di sejumlah masjid Muhammadiyah di wilayah Jabodetabek, mulai tahun ini Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah ditetapkan sebagai pusat atau episentrum kegiatan.
Penetapan Masjid At-Tanwir sebagai lokasi tetap diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam koordinasi dan penyelenggaraan program. Selain itu, lokasi yang berada di lingkungan Kantor PP Muhammadiyah dinilai strategis untuk memperkuat dukungan kelembagaan terhadap berbagai kegiatan HidiMu.
Untuk menjangkau peserta yang lebih luas, seluruh rangkaian kajian juga akan disiarkan secara daring. Dengan demikian, anggota HidiMu dari berbagai daerah dapat mengikuti kegiatan tanpa harus hadir secara langsung di Jakarta.
Melalui penguatan program TAQI, HidiMu berharap dapat terus menghadirkan ruang pembinaan yang inklusif, memperkuat pemahaman keagamaan anggota, sekaligus membangun jejaring sosial yang semakin solid. Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi penyandang disabilitas, kehadiran komunitas yang saling mendukung dan memberdayakan menjadi modal penting dalam mewujudkan kehidupan yang lebih mandiri, bermartabat, dan berkemajuan. (*)














