Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Sepak Bola, Nasionalisme, dan Mimpi Besar Bernama Indonesia

Mujaddid by Mujaddid
2026/06/03
in Daerah, Jufri Daily, Nasional, Olah Raga, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
Sepak Bola, Nasionalisme, dan Mimpi Besar Bernama Indonesia
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Jufri

Pagi ini, setelah selesai salat Subuh dan membaca Al-Qur’an, pikiran saya justru melayang ke sepak bola. Bukan karena ada pertandingan besar atau berita transfer pemain dunia, melainkan karena melihat sebuah foto seorang Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah yang sedang menonton pertandingan sepak bola dengan ekspresi khas seorang suporter. Wajahnya tampak serius, matanya mengikuti arah bola, mungkin waktu itu sesekali tersenyum dan tampak larut dalam suasana pertandingan.

Dari foto sederhana itu saya tersadar bahwa sepak bola memang memiliki kekuatan yang unik. Ia mampu menembus batas profesi, usia, pendidikan, organisasi, bahkan jabatan. Di tribun penonton, seorang petani, guru, ustaz, pengusaha, pejabat, dan profesor bisa duduk bersama mendukung tim yang sama. Semua larut dalam emosi yang sama.

Baru kemudian saya ingat bahwa tidak lama lagi dunia akan menyambut pesta sepak bola terbesar, yaitu Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Indonesia, seperti biasanya, masih menjadi penonton setia. Tentu sekaligus komentator yang sangat aktif. Bangsa ini memang memiliki jutaan pelatih, analis, dan pengamat sepak bola dadakan setiap kali pertandingan berlangsung.

Dulu ketika masih sekolah, terutama saat berada di Ujung Gading, Pasaman, saya sesekali ikut menonton pertandingan sepak bola di lapangan kampung. Pemainnya bukan pesohor dunia dengan bayaran miliaran rupiah. Ada guru kami Saripada Lubis, ada senior saya Muhammad Ribhan Sihaloho , ada pula kawan saya Risfan Sihaloho alias Maestro Sihaloho . Disamping keluarga aktifis Muhammadiyah , mereka juga keluarga sepakbola . Kami menonton dari pinggir lapangan tanpa tribun, tanpa kursi, tanpa papan skor elektronik, tanpa fasilitas apa pun. Tetapi suasananya hidup.

Debu berterbangan ketika pemain berlari. Penonton berteriak memberi semangat. Anak-anak kecil berlarian di sekitar lapangan. Kadang keputusan wasit menjadi bahan perdebatan hingga pertandingan selesai. Sederhana, tetapi penuh kenangan. Dari lapangan-lapangan seperti itulah sebenarnya kecintaan bangsa ini terhadap sepak bola tumbuh dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Kadang saya membayangkan bagaimana suasana tribun di Camp Nou, markas FC Barcelona. Atau di Allianz Arena, kandang FC Bayern Munich. Atau di Old Trafford dan Etihad Stadium. Puluhan ribu orang bernyanyi bersama, melompat bersama, menangis bersama, dan merayakan kemenangan bersama.

Namun di balik gemerlap stadion-stadion megah itu, ada satu pertanyaan yang sering muncul dalam benak saya.

Bagaimana jika suatu hari Indonesia benar-benar tampil di Piala Dunia?

Bahkan lebih jauh lagi, bagaimana jika Indonesia menjadi juara dunia?

Seperti apa suasana bangsa ini?

Saya bahkan membayangkan dampaknya jauh melampaui sebuah kemenangan di lapangan hijau. Indonesia memiliki lapangan-lapangan sepak bola yang terawat dan stadion-stadion megah yang selalu dipenuhi penonton. Anak-anak kecil di kampung-kampung tidak lagi hanya bercita-cita menjadi aparat negara, pegawai negeri, atau profesi-profesi yang selama ini dianggap paling menjanjikan. Mereka juga bermimpi menjadi pesepak bola profesional yang mengharumkan nama bangsa.

Dari lapangan-lapangan itu lahir pemain-pemain Indonesia yang bermain di liga-liga terbaik dunia dengan kemampuan dan penghasilan yang fantastis. Setelah masa bermain mereka selesai, lahir pula pelatih-pelatih Indonesia yang disegani di tingkat internasional. Bahkan wasit-wasit Indonesia dipercaya menjadi pengadil pada pertandingan-pertandingan paling bergengsi di dunia. Nama Indonesia tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi menjadi bagian penting dari perkembangan sepak bola dunia.

Lebih jauh lagi, roda ekonomi bergerak dengan sangat besar. Industri sepak bola menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha yang luas. Penjualan tiket pertandingan, hak siar televisi, sponsor, iklan, jersey, pernak-pernik suporter, pariwisata olahraga, hingga usaha kecil di sekitar stadion ikut menikmati manfaatnya. Sepak bola bukan hanya menghadirkan kebanggaan nasional, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi rakyat.

Membayangkannya saja sudah terasa luar biasa. Apalagi jika suatu hari nanti semua itu benar-benar menjadi kenyataan.

Mungkin jalan-jalan akan dipenuhi lautan Merah Putih. Mungkin media sosial akan dipenuhi ungkapan kebanggaan nasional. Mungkin perbedaan pilihan politik yang selama ini sering membuat kita berdebat akan menghilang sejenak.

Bahkan mungkin pada saat itu orang tidak terlalu peduli pada pidato seorang presiden. Tidak terlalu sibuk mengikuti pertengkaran politik. Tidak terlalu larut memikirkan berbagai kesulitan hidup yang sedang dihadapi. Seluruh perhatian tertuju pada satu hal: Indonesia.

Rakyat akan hanyut dalam rasa bangga dan gembira karena nama Indonesia menggema ke seluruh dunia. Lagu Indonesia Raya berkumandang di panggung tertinggi sepak bola dunia. Bendera Merah Putih berkibar di hadapan miliaran pasang mata. Nasionalisme tumbuh dengan sendirinya dari hati rakyat. Bukan karena perintah, bukan karena kampanye, melainkan karena kebanggaan kolektif sebagai sebuah bangsa.

Di titik itulah saya memahami mengapa sepak bola sering disebut lebih dari sekadar olahraga.

Di banyak negara seperti Brasil, Argentina, atau Prancis, sepak bola telah menjadi semacam agama sipil bangsa. Bukan agama dalam pengertian teologis, melainkan ruang bersama tempat rakyat menemukan identitas, kebanggaan, dan rasa memiliki terhadap negaranya. Tidak mengherankan jika para pemain sepak bola sering kali lebih dikenal daripada kepala negaranya sendiri.

Karena sepak bola menyentuh sesuatu yang tidak selalu mampu disentuh oleh pidato politik, program pembangunan, atau slogan-slogan kebangsaan. Sepak bola menyentuh emosi. Ia menyatukan orang-orang yang berbeda latar belakang dalam satu rasa bangga yang sama.

Di Indonesia, nasionalisme sering dibicarakan dalam seminar, pidato, dan diskusi akademik. Itu penting. Tetapi ada kalanya nasionalisme tumbuh lebih kuat dari sebuah pertandingan sepak bola daripada dari seratus pidato kebangsaan.

Ketika jutaan rakyat menyanyikan Indonesia Raya dengan mata berkaca-kaca sebelum pertandingan dimulai, di situlah nasionalisme bekerja. Ketika rakyat dari Aceh sampai Papua bersorak untuk kemenangan yang sama, di situlah persatuan menemukan bentuknya yang paling sederhana.

Sebagai bangsa, kita tentu berharap Indonesia maju dalam pendidikan, ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Namun tidak ada salahnya juga bermimpi besar di lapangan hijau. Sebab mimpi-mimpi besar sering kali menjadi bahan bakar kemajuan sebuah bangsa.

Karena itu, sepak bola sesungguhnya bukan hanya soal menang atau kalah. Ia adalah cermin tentang bagaimana sebuah bangsa belajar bermimpi bersama.

Dan mungkin suatu hari nanti, ketika Indonesia benar-benar tampil di panggung terbesar dunia, kita akan menyadari bahwa yang sedang bertanding bukan hanya sebelas pemain di lapangan. Yang sedang bertanding adalah harga diri, harapan, dan cita-cita sebuah bangsa bernama Indonesia.

Sampai hari itu tiba, kita tetap menjadi penonton setia. Tetap menjadi komentator yang kadang merasa lebih hebat dari pelatihnya. Tetapi yang lebih penting, kita tetap memelihara mimpi.

Karena setiap bangsa besar selalu dimulai dari keberanian untuk bermimpi besar.

Bahkan ketika mimpi itu lahir dari sebuah foto sederhana, setelah salat Subuh, sambil mengenang lapangan sepak bola berdebu di sudut kecil Ujung Gading, Pasaman. Di tempat yang jauh dari gemerlap stadion dunia, tetapi dekat dengan harapan tentang Indonesia yang suatu hari nanti mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar di lapangan hijau dan di panggung peradaban dunia. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Tags: Sepak BolaTimnasTulisan Jufri
Previous Post

Sentimen versus Argumen

Next Post

Herwina Bahar pada Webinar Milad ‘Aisyiyah ke-109 Ajak Pendidik Merayakan Keberagaman untuk Semua Anak

Related Posts

Perkuat Keadilan Ekologis, FH UMSU dan WALHI Nasional Jalin Sinergi Strategis Advokasi Hukum Lingkungan

Perkuat Keadilan Ekologis, FH UMSU dan WALHI Nasional Jalin Sinergi Strategis Advokasi Hukum Lingkungan

30 Juni 2026
108
FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
119
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Angka Kasus Keracunan Program MBG Terus Meningkat, Ethics of Care: Bukan Sekadar Statistik, tapi Potret Kegagalan Sistemik

Momentum HUT ke-436 Medan, Ethics of Care Desak Pemerintah Fokus Solusi Publik ketimbang Pencitraan

30 Juni 2026
107
UMSU dan Telkom Gelar Pelatihan AI Gemini Academy

UMSU dan Telkom Gelar Pelatihan AI Gemini Academy

30 Juni 2026
103
LPPM UMSU Hadir di Desa Gung Pinto, Wujudkan Pengabdian Nyata untuk Lingkungan, Kesehatan, dan Kemandirian Masyarakat

LPPM UMSU Hadir di Desa Gung Pinto, Wujudkan Pengabdian Nyata untuk Lingkungan, Kesehatan, dan Kemandirian Masyarakat

29 Juni 2026
115
Next Post
Herwina Bahar pada Webinar Milad ‘Aisyiyah ke-109 Ajak Pendidik Merayakan Keberagaman untuk Semua Anak

Herwina Bahar pada Webinar Milad ‘Aisyiyah ke-109 Ajak Pendidik Merayakan Keberagaman untuk Semua Anak

Ulasan Lagu Viral “MBG (Mas Bahlil Ganteng)”

Ulasan Lagu Viral "MBG (Mas Bahlil Ganteng)"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan