Minggu, Juli 19, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Ulasan Lagu Viral “MBG (Mas Bahlil Ganteng)”

Mujaddid by Mujaddid
2026/06/03
in Nasional, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
Ulasan Lagu Viral “MBG (Mas Bahlil Ganteng)”
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Nashrul Mu’minin

Perkembangan media sosial telah melahirkan banyak fenomena budaya baru yang tidak pernah dibayangkan pada era sebelumnya. Jika dahulu lagu-lagu populer lahir dari industri musik yang panjang dan terstruktur, kini sebuah lagu dapat muncul dari potongan video pendek, candaan warganet, hingga tren yang menyebar dalam hitungan jam.

Salah satu fenomena yang menarik perhatian publik adalah kemunculan lagu viral berjudul “MBG (Mas Bahlil Ganteng)” yang ramai digunakan dalam berbagai platform digital.

Kemunculan lagu ini tidak dapat dilepaskan dari budaya internet yang berkembang sangat cepat. Media sosial telah mengubah masyarakat dari sekadar penikmat menjadi pencipta konten. Berbagai ungkapan, lelucon, dialog spontan, hingga pujian yang awalnya bersifat sederhana dapat berubah menjadi lagu yang dikenal luas. Dalam konteks inilah lagu “Mas Bahlil Ganteng” lahir sebagai bagian dari kreativitas generasi digital yang gemar mencampurkan humor, ironi, kekaguman, dan hiburan menjadi satu kesatuan yang mudah diterima publik.

Secara sosiologis, lagu ini muncul di tengah fenomena budaya fandom dan personal branding tokoh publik. Nama Bahlil yang menjadi bagian dari lirik lagu bukan semata-mata dipahami sebagai individu, melainkan simbol figur publik yang sedang banyak diperbincangkan.

Di era digital, tokoh publik tidak lagi hanya hadir melalui pidato atau kebijakan, tetapi juga melalui meme, video pendek, lagu viral, hingga berbagai bentuk ekspresi kreatif masyarakat.

Lagu ini berkembang bukan karena kekuatan musikalitas yang rumit, melainkan karena kekuatan repetisi dan humor. Kalimat-kalimat sederhana seperti “Buah apa yang paling manis? Buaaahlil” menjadi permainan kata yang mudah diingat. Fenomena seperti ini dalam kajian komunikasi disebut sebagai budaya viral, yakni ketika suatu pesan menyebar luas karena dianggap lucu, unik, dan relevan dengan percakapan publik.

Dari sudut pandang budaya populer, lagu ini menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia memiliki tradisi humor yang sangat kuat. Sejak dahulu masyarakat Nusantara dikenal gemar menggunakan pantun, plesetan, dan permainan bahasa sebagai sarana hiburan. Tradisi tersebut kini menemukan bentuk baru melalui media digital. Lagu “MBG” pada dasarnya merupakan kelanjutan dari budaya lisan yang dikemas dalam teknologi modern.

Menariknya, sebagian lirik lagu menggunakan bahasa yang tidak formal dan penuh ekspresi spontan. Hal ini mencerminkan karakter komunikasi generasi media sosial yang lebih cair, santai, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kata-kata seperti “glowing”, “guys”, hingga penyebutan figur publik internasional menunjukkan adanya percampuran budaya lokal dan global yang menjadi ciri khas generasi internet saat ini.

Jika ditelaah lebih dalam, lagu ini sebenarnya bukan sekadar tentang seseorang yang dianggap tampan. Lagu tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat modern sering membangun citra seseorang melalui persepsi kolektif. Ketampanan, popularitas, dan daya tarik seseorang tidak lagi dibentuk hanya oleh media massa, tetapi juga oleh interaksi jutaan pengguna media sosial.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan perubahan pola komunikasi politik dan sosial. Tokoh publik kini dapat menjadi bagian dari budaya populer tanpa harus sengaja menciptakan karya hiburan. Kehadiran mereka dalam ruang digital memungkinkan berbagai bentuk interpretasi kreatif dari masyarakat. Dari sinilah muncul meme, parodi, hingga lagu-lagu viral seperti MBG.

Dalam perspektif hukum, kebebasan berekspresi merupakan hak yang dijamin oleh konstitusi Indonesia. Hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Lagu-lagu kreatif yang lahir dari masyarakat merupakan salah satu bentuk ekspresi yang dilindungi selama tidak melanggar norma hukum dan hak orang lain.

Selain itu, Pasal 28F UUD 1945 juga memberikan jaminan bahwa setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. Kehadiran media sosial sebagai ruang kreativitas publik merupakan implementasi nyata dari semangat konstitusi tersebut.

Namun kebebasan berekspresi dalam Islam tetap harus disertai tanggung jawab moral. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap ucapan, termasuk karya seni dan lagu, hendaknya mengandung nilai kebaikan serta tidak merugikan pihak lain.

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra’: 53)

Pesan tersebut relevan dalam dunia digital yang sering dipenuhi komentar spontan. Kreativitas harus tetap berjalan beriringan dengan etika dan penghormatan terhadap sesama.

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ**

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi pedoman penting bahwa kebebasan berbicara tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab moral.

Apabila dilihat dari makna simboliknya, lagu MBG sesungguhnya merepresentasikan kegembiraan kolektif masyarakat digital. Liriknya tidak dibangun untuk menyampaikan gagasan filosofis yang mendalam, melainkan sebagai hiburan ringan yang mempererat interaksi sosial antar pengguna media sosial.

Penggunaan istilah seperti “glowing”, “ganteng”, dan berbagai pujian hiperbolik menunjukkan ciri khas humor internet yang sering kali sengaja dibuat berlebihan untuk menghasilkan efek komedi. Inilah yang membuat lagu tersebut mudah diterima oleh banyak kalangan, khususnya generasi muda.

Sebagian pengamat budaya melihat fenomena ini sebagai bentuk demokratisasi kreativitas. Jika dahulu produksi lagu membutuhkan studio dan modal besar, kini siapa pun dapat menciptakan lagu viral hanya dengan telepon genggam dan akun media sosial. Kreativitas menjadi semakin terbuka dan inklusif.

Di sisi lain, fenomena tersebut mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kemampuan tinggi dalam mengolah isu sehari-hari menjadi hiburan. Tokoh publik, peristiwa politik, maupun kejadian biasa dapat berubah menjadi bahan kreativitas yang menarik perhatian jutaan orang.

Karena itu, lagu MBG dapat dipahami sebagai produk budaya digital yang lahir dari perpaduan humor, kreativitas, teknologi, dan partisipasi masyarakat. Ia menjadi bukti bahwa era internet telah melahirkan bentuk-bentuk kesenian baru yang berbeda dengan pola budaya populer pada masa sebelumnya.

Pada akhirnya, terlepas dari setuju atau tidak terhadap gaya humornya, lagu ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang kreatif, ekspresif, dan cepat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa kreativitas tersebut tetap berada dalam koridor etika, hukum, dan nilai-nilai luhur bangsa.

Fenomena MBG mengajarkan bahwa sebuah lagu sederhana dapat menjadi jendela untuk memahami perubahan sosial yang lebih besar. Di balik lirik yang ringan dan jenaka, terdapat cerita tentang transformasi budaya, kebebasan berekspresi, perkembangan teknologi, serta cara masyarakat modern membangun makna dalam ruang digital yang terus berkembang.

Lirik Lagu Viral “MBG (Mas Bahlil Ganteng)”

 

MBG
Mas Bahlil Ganteng
Buah apa?
Yang paling manis
BUAAAHLILLLL
Tambah ganteng aja
My little bolu ketan

Ups kanda suka dinda punya gaya
Sialan dia
Makin lucu guys
Kalau diperhatiin lama-lama mirip
Zayn Malik ihh
My Bahlil Ganteng
Makin glowing aja nih
My Koko Bahlil kecintaanku

My little cilok pentol
Kecap dinda
Dulu sekarang benci
Semenjak kanda Mas Bayu ganteng

Apa itu harta, takhta, Baskara
Aku tim harta takhta kakanda
Sah ya, benci dan cinta itu beda tipis
Semenjak kakanda bilang matikan kompor

Tags: Lagu MBG (Mas Bahlil Ganteng)MBG
Previous Post

Herwina Bahar pada Webinar Milad ‘Aisyiyah ke-109 Ajak Pendidik Merayakan Keberagaman untuk Semua Anak

Next Post

Jurus “Ad Hominem”

Related Posts

Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”

Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”

19 Juli 2026
108
Teror ‘Rem Blong’

Teror ‘Rem Blong’

19 Juli 2026
254
Milad IPM ke-65: Menyiapkan Kader Berkemajuan, Mencerahkan Bangsa dan Semesta

Milad IPM ke-65: Menyiapkan Kader Berkemajuan, Mencerahkan Bangsa dan Semesta

18 Juli 2026
114
Boro-boro Berhemat, yang Mau Dihemat itu Tak Ada

Boro-boro Berhemat, yang Mau Dihemat itu Tak Ada

18 Juli 2026
122
Mahupiki Apresiasi Peningkatan Kinerja Kejaksaan Agung

Kasus Eks Jampidsus FA, Azmi Syahputra: Jangan Geser Supremasi Hukum jadi Supremasi Jabatan

18 Juli 2026
117
Bendum PP Muhammadiyah Ingatkan Rektor PTMA Perkuat Ketahanan Finansial 

Bendum PP Muhammadiyah Ingatkan Rektor PTMA Perkuat Ketahanan Finansial 

17 Juli 2026
110
Next Post
Jurus “Ad Hominem”

Jurus "Ad Hominem"

MoU dengan Sejumlah OPD Provsu, Rektor UMSU Sharing Kelas Internasional di Seminar dan Pemecahan Rekor MURI LLDIKTI Sumut

MoU dengan Sejumlah OPD Provsu, Rektor UMSU Sharing Kelas Internasional di Seminar dan Pemecahan Rekor MURI LLDIKTI Sumut

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20083 shares
    Share 8033 Tweet 5021
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11917 shares
    Share 4767 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9189 shares
    Share 3676 Tweet 2297
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6311 shares
    Share 2524 Tweet 1578
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6099 shares
    Share 2440 Tweet 1525

OPINI

Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”
Esai

Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”

19 Juli 2026
108
Milad IPM ke-65: Menyiapkan Kader Berkemajuan, Mencerahkan Bangsa dan Semesta
IPM

Milad IPM ke-65: Menyiapkan Kader Berkemajuan, Mencerahkan Bangsa dan Semesta

18 Juli 2026
114
Boro-boro Berhemat, yang Mau Dihemat itu Tak Ada
Esai

Boro-boro Berhemat, yang Mau Dihemat itu Tak Ada

18 Juli 2026
122
Dari Abu Pasar Nauli, Al-Ma’un Menyala Kembali
Islam

Dari Abu Pasar Nauli, Al-Ma’un Menyala Kembali

16 Juli 2026
130
Media Sosial Menggugat Dominasi Narasi Barat, tetapi Manipulasi Mengintai
Internasional

Media Sosial Menggugat Dominasi Narasi Barat, tetapi Manipulasi Mengintai

16 Juli 2026
106
Belum Sempat Mengenal, Sudah Harus Berpisah
Daerah

Belum Sempat Mengenal, Sudah Harus Berpisah

15 Juli 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan