No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Sentimen versus Argumen

3 Juni 2026
in Nasional, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Farid Wajdi

Demokrasi tidak runtuh ketika kritik muncul. Demokrasi justru mulai rapuh ketika kritik diperlakukan sebagai gangguan, bukan sebagai bagian dari mekanisme koreksi kekuasaan. Sebab itu, polemik antara Dino Patti Djalal dan sejumlah pihak di lingkar kekuasaan mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto layak dibaca lebih jauh daripada sekadar silang pendapat mengenai agenda diplomasi.

Perdebatan tersebut membuka pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana kritik diposisikan dalam kehidupan politik Indonesia?

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengemukakan sejumlah catatan mengenai intensitas perjalanan luar negeri Presiden Prabowo. Pertanyaan yang diajukan sesungguhnya tidak rumit. Apakah seluruh agenda internasional memang memerlukan kehadiran langsung seorang presiden? Apakah sebagian agenda dapat didelegasikan kepada menteri atau diplomat senior? Seberapa besar manfaat yang diperoleh dibanding biaya politik dan administratif yang harus ditanggung negara? (Detik, 2026; CNN Indonesia, 2026).

Substansi kritik tersebut berada sepenuhnya dalam ranah kebijakan publik. Tidak terdapat serangan personal. Tidak terdapat insinuasi mengenai kehidupan pribadi. Tidak pula muncul tuduhan yang bersifat spekulatif. Yang dipersoalkan adalah efektivitas sebuah pilihan kebijakan.

Dalam tradisi demokrasi modern, kritik semacam itu merupakan sesuatu yang lazim. Bahkan, kritik dari mantan pejabat sering kali memiliki bobot lebih besar karena lahir dari pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama berada di dalam sistem pemerintahan. Pengalaman panjang dalam dunia diplomasi memberi Dino legitimasi intelektual untuk mengajukan pertanyaan kritis mengenai praktik diplomasi negara.

Menariknya, respons awal yang diberikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya justru menunjukkan pola yang sehat. Kritik dijawab dengan argumentasi. Pemerintah menjelaskan sebagian biaya tambahan perjalanan ditanggung secara pribadi oleh Presiden Prabowo. Jumlah anggota rombongan disebut lebih kecil dibanding pemerintahan sebelumnya. Berbagai kunjungan juga diklaim menghasilkan manfaat strategis bagi posisi Indonesia dalam percaturan global (Detik, 2026; Kompas, 2026).

Setuju atau tidak terhadap penjelasan tersebut, terdapat satu hal yang patut diapresiasi: kritik dibalas dengan data dan alasan.

BACA JUGA

The 1st Muhammadiyah Games Resmi Dibuka

Menkeu Prediksi Zakat Masyarakat Indonesia 2021 Tembus Rp 17,3 Triliun

Kiat Memajukan Sekolah Muhammadiyah Menurut Prof Malik Fadjar

Pemilik Meteor Josua Hutagalung Kecewa Merasa Dibohongi, Ini Penjelasan Jared Collins

Ancaman AI terhadap Pekerjaan Jurnalis

Minta Maaf, Holywings Berkilah Promosi Berbau SARA itu Tanpa Sepengetahuan Manajemen

Masalah mulai muncul ketika sebagian respons politik bergerak ke arah berbeda. Kritik Dino kemudian dinilai “kurang etis”, dianggap tidak produktif, bahkan disebut sebagai serangan politik yang berlebihan.

Habiburokhman, misalnya, menilai kritik tersebut tidak tepat disampaikan oleh seorang mantan pejabat yang pernah berada dalam lingkar kekuasaan (Detik, 2026; CNN Indonesia, 2026).

 

Mengalihkan Pembahasan

Di sinilah kualitas perdebatan mulai mengalami penurunan. Fokus pembahasan perlahan bergeser. Pertanyaan mengenai efektivitas diplomasi tidak lagi menjadi pusat perhatian. Perhatian publik diarahkan kepada sosok pengkritik. Bukan lagi “apakah kritik tersebut benar?”, melainkan “siapa yang menyampaikan kritik itu?”.

Perubahan semacam ini sesungguhnya bukan fenomena baru dalam politik. Dalam ilmu argumentasi, cara tersebut dikenal sebagai ad hominem, yakni mengalihkan pembahasan dari substansi menuju identitas orang yang berbicara. Ketika argumen sulit dipatahkan secara langsung, perhatian dialihkan kepada latar belakang, motif, atau karakter pengkritiknya. Padahal kualitas sebuah argumen tidak ditentukan oleh posisi sosial pembicaranya.

Sebuah kritik tetap layak diuji meskipun datang dari lawan politik. Sebaliknya, sebuah pendapat tetap dapat keliru meskipun disampaikan oleh pendukung paling setia pemerintah.

Persoalannya menjadi semakin menarik karena kritik Dino sesungguhnya belum tentu sepenuhnya benar.

Dalam konteks geopolitik kontemporer, pemerintah memiliki alasan kuat untuk meningkatkan intensitas diplomasi tingkat tinggi. Dunia sedang bergerak menuju kompetisi strategis yang semakin tajam. Konflik geopolitik, perang dagang, perebutan investasi, transisi energi, serta fragmentasi ekonomi global mendorong negara-negara untuk memperkuat hubungan langsung antarpemimpin.

Dalam situasi seperti itu, kehadiran kepala negara sering kali memiliki nilai simbolik sekaligus strategis yang tidak dapat digantikan oleh birokrasi biasa (Antara, 2026; CNA Indonesia, 2026).

Argumentasi pemerintah memiliki dasar rasional. Kritik Dino juga memiliki dasar rasional.

Karena itu, persoalan utama tidak terletak pada siapa yang benar dan siapa yang salah. Persoalan utama terletak pada bagaimana sebuah kritik diperlakukan.

Kritik yang baik tidak menuntut pemerintah untuk selalu mengalah. Kritik hanya meminta agar kebijakan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.

Sebaliknya, pemerintah yang baik tidak harus menerima seluruh kritik. Pemerintah hanya perlu menjawab kritik dengan argumentasi yang dapat diuji publik.

 

Memilih Sentimen atau Argumen

Ukuran keberhasilan diplomasi, misalnya, masih menjadi ruang yang memerlukan penjelasan lebih mendalam. Publik berhak mengetahui capaian konkret dari setiap kunjungan luar negeri. Berapa nilai investasi yang terealisasi? Berapa perjanjian yang berujung pada implementasi nyata? Seberapa besar dampaknya terhadap perekonomian nasional?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada memperdebatkan apakah seorang mantan pejabat pantas atau tidak menyampaikan kritik.

Kecenderungan melihat kritik sebagai bentuk ketidaksetiaan justru menunjukkan gejala yang patut diwaspadai. Dalam iklim politik yang sehat, loyalitas tertinggi tidak diberikan kepada individu, melainkan kepada kepentingan publik. Kritik terhadap kebijakan bukanlah pengkhianatan. Kritik merupakan salah satu instrumen untuk memastikan kekuasaan tetap berjalan di jalur yang benar.

Sejarah menunjukkan banyak kebijakan negara menjadi lebih baik karena adanya suara yang berbeda. Hampir tidak ada pemerintahan yang mampu mengoreksi seluruh kekeliruannya sendiri.

Kekuasaan memerlukan kritik sebagaimana kapal memerlukan kompas.

Tanpa kritik, kekuasaan hanya mendengar gema suaranya sendiri.

Karena itu, perdebatan mengenai kunjungan luar negeri Presiden Prabowo semestinya tidak berhenti pada persoalan etika atau loyalitas. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kunjungan-kunjungan tersebut menghasilkan manfaat yang sebanding dengan sumber daya yang dikeluarkan.

Pertanyaan semacam itu tidak boleh dianggap sebagai gangguan. Justru dari pertanyaan itulah akuntabilitas memperoleh maknanya.

Pada akhirnya, demokrasi tidak membutuhkan lebih banyak sentimen. Demokrasi membutuhkan lebih banyak argumen. Sentimen mengajak publik memilih kubu. Argumen mengajak publik berpikir. Sentimen menilai siapa yang berbicara. Argumen menguji apa yang dibicarakan.

Ketika kritik dijawab dengan data, demokrasi bertumbuh. Ketika kritik dibalas dengan pelabelan, demokrasi kehilangan kesempatan untuk belajar.

Dalam ruang publik yang semakin bising oleh fanatisme politik, kemampuan membedakan sentimen dari argumen mungkin menjadi ujian paling penting bagi kematangan demokrasi Indonesia. Sebab kualitas sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa keras membela pemimpinnya, melainkan dari seberapa berani menguji setiap kebijakan dengan nalar yang jernih. (✳️)

 

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

Tags: Anti KritikFarid WajdikritikSentimen versus Argumen
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Komdigi Diminta Tegas Lindungi Hak Konsumen Digital dari Praktik Penghangusan Kuota
Nasional

Komdigi Diminta Tegas Lindungi Hak Konsumen Digital dari Praktik Penghangusan Kuota

by Mujaddid
31 Agustus 2026
58
Yang Penting Pidato
Kebangsaan

Yang Penting Pidato

by Mujaddid
3 Agustus 2026
62
Angka Kasus Keracunan Program MBG Terus Meningkat, Ethics of Care: Bukan Sekadar Statistik, tapi Potret Kegagalan Sistemik
Nasional

Mengkritik Putusan Mahkamah Konstitusi

by Mujaddid
31 Juli 2026
74
Hukum Wakaf dan Zakat: Pilar Keadilan Distributif Islam
Keislaman

Hukum Wakaf dan Zakat: Pilar Keadilan Distributif Islam

by Mujaddid
29 Juli 2026
65
Jika Korupsi Sudah Seperti Fardu Ain
Nasional

Jika Korupsi Sudah Seperti Fardu Ain

by Mujaddid
24 Juli 2026
72
Ethics of Care: Kelangkaan BBM Berulang di Sumut adalah Kegagalan Sistemik, Bukan Insiden
Daerah

Ethics of Care: Kelangkaan BBM Berulang di Sumut adalah Kegagalan Sistemik, Bukan Insiden

by Mujaddid
15 Juli 2026
62
Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

by Mujaddid
30 Juni 2026
66
Angka Kasus Keracunan Program MBG Terus Meningkat, Ethics of Care: Bukan Sekadar Statistik, tapi Potret Kegagalan Sistemik
Nasional

Bukan Hanya Tetapkan Tersangka, Ethics of Care Desak Audit Forensik Menyeluruh Program MBG

by Mujaddid
4 Juni 2026
72
Dari Teks Hukum Menuju Keadilan Substantif
Nasional

Dari Teks Hukum Menuju Keadilan Substantif

by Mujaddid
1 Juni 2026
82
Alegori Gua Plato dan Fenomena Kritik terhadap Kekuasaan di Indonesia
Nasional

Alegori Gua Plato dan Fenomena Kritik terhadap Kekuasaan di Indonesia

by Mujaddid
30 Mei 2026
115

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai
  • Siswa SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta Juara 1 Nasional ISPO 2026 Lewat Sistem IoT Penyiraman Cabai
  • Ekstrakurikuler Karawitan SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo Latih Ibu-Ibu Sekolah Lansia, Perkuat Pelestarian Budaya dan Kepedulian Antargenerasi
  • Perkuat Pengabdian kepada Masyarakat, SPs UMSU Gelar Bazar UMKM, Donor Darah, dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
  • Kuliah Umum SPs UMSU Hadirkan Pemprov Sumut, Bahas Digitalisasi UMKM dan Ekonomi Kreatif
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?
Nasional

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?

Pertanyaan Hakim dan Pertanyaan Munkar-Nakir
Jufri Daily

Pertanyaan Hakim dan Pertanyaan Munkar-Nakir

Sang Surya di Horison Pesisir: Dakwah Muhammadiyah Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Bahari
AUM

Sang Surya di Horison Pesisir: Dakwah Muhammadiyah Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Bahari

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.