Oleh: Roni Jambak
Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) percepat elektrifikasi transportasi (peralihan kendaraan berbahan bakar fosil ke motor penggerak listrik).
Chief Executive Officer PT Indomobil National Distributor Tan Kim Piuw melihat beberapa bulan ini terutama pada bulan April yang lalu masyarakat cenderung membeli mobil listrik. Ia menjelaskan perbedaan biaya operasional antara mobil BBM dan kendaraan listrik sangat signifikan. Dalam hitungannya, penggunaan mobil listrik untuk kebutuhan harian mampu memangkas pengeluaran secara drastis.
Sebelum kenaikan harga BBM pemerintah mendorong investasi berbagai produsen otomotif global melalui kebijakan strategis seperti insentif pajak, subsidi produksi dan pembangunan infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hingga pengurangan atau pembebasan pajak untuk pembelian mobil maupun motor listrik. Pemerintah Indonesia menargetkan dua juta unit mobil listrik dan 13 juta unit sepeda motor listrik dapat beroperasi pada tahun 2030.
Geliat kendaraan listrik di Indonesia terlihat jelas dari penurunan kontribusi mobil BBM terhadap total pasar. Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), porsi kendaraan BBM melorot dari 99,6 persen pada tahun 2021 menjadi 78,2 persen pada tahun 2025.
Sebaliknya porsi Battery Electric Vehicle (BEV) melejit dari 0,1 persen menjadi 12,9 persen pada akhir tahun 2025. Per Maret tahun 2026, porsi BEV naik lagi menjadi 15,6 persen sedangkan kendaraan BBM melorot menjadi 75 persen. Pada periode ini, penjualan BEV melonjak 96 persen menjadi 33.146 unit dari 16.926 unit, melampaui pertumbuhan industry yang hanya 1,7 persen.
Sementara, penjualan mobil BBM ambles dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit. Hingga akhir 2026, porsi BEV diprediksi melambung menjadi berkisar 19-20 persen.
Geopolitik dan Kendaraan Listrik vs Kendaraan BBM
Geopolitik dapat dipahami sebagai hubungan antara kekuasaan politik dan wilayah geografis dalam menentukan kebijakan suatu negara. Dalam konteks energi, geopolitik memainkan peran penting karena sebagian cadangan minyak dunia terkonsentrasi di wilayah tertentu, khususnya di Timur Tengah.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Irak , Kuwait, dan Uni Emirat Arab merupakan pemasok utama minyak dunia. Ketika situasi politik di kawasan tersebut tidak stabil, pasar energi global akan merespons dengan cepat. Kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan minyak mendorong kenaikannya di pasar internasional.
Pertumbuhan konsumsi BBM dari sektor transportasi mendorong permintaan produksi minyak mengalami peningkatan. Permintaan atau pasokan BBM untuk sektor transportasi tersebut dapat dikurangi jika permintaan kendaraan listrik di pasaran juga meningkat.
Dalam hal ini, China negara yang paling cepat beradaptasi dengan kendaraan listrik sehingga mereka menjadi produsen terdepan kendaraan listrik terbesar di dunia.
Alhasil, China menjadi ancaman dari negara-negara pengekspor. Sekutu dari negara pengekspor minyak Amerika Serikat (AS), melalui Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) alias Pentagon memasukkan BYD ke dalam daftar perusahaan yang dinilai mendukung militer China. Padahal BYD menjadi produsen kendaraan listrik terbesar di dunia setelah menggeser Tesla. AS memiliki pengaruh sangat kuat terhadap harga minyak dunia karena kapasitasnya salah satu produsen terbesar, kebijakan geopolitik dan penggunaan Dolar AS sebagai mata uang perdagangan dunia.
Penutup
Dalam konteks elektrifikasi transportasi, Indonesia dapat mengambil peran hilirisasi produksi kendaraan listrik. Mulai dari penambangan, produksi komponen dan sel baterai, pabrik baterai dan perakitan kendaraan hingga daur ulang baterai.
Percepatan elektrifikasi jangan didominasi oleh himbauan pemerintah atau menunggu ketika harga BBM naik, namun penting juga melibatkan organisasi masyarakat hingga ke lembaga pendidikan. (*)
Penulis adalah Koordinator Indonesia Green Economy Forum, Sekretaris Ranting Muhammadiyah Paya Gambar











