Oleh Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Di sela-sela rangkaian pengkaderan Baitul Arqom Muhammadiyah di Serbelawan selama dua hari ini, ada pemandangan yang cukup menarik sekaligus mengundang senyum. Dua ekor monyet tampak bebas berkeliaran di lingkungan sekolah. Sesekali mereka berada di atas atap, sesekali mengintip ke ruang kelas, seolah-olah ikut menyimak jalannya pengkaderan atau dekat kamar peserta seakan mencari sesuatu.
Usut punya usut, ternyata kedua monyet itu sudah cukup lama menjadi “penghuni tidak resmi” kompleks sekolah. Mereka datang dan pergi, tetapi selalu kembali. Barangkali mereka sudah merasa akrab dengan suasana sekolah.
Menurut cerita para guru, monyet-monyet itu tidak pernah menyakiti orang-orang yang berada di lingkungan sekolah. Paling-paling mereka hanya mengambil makanan atau apa saja yang bisa mereka makan ketika ada kesempatan. Sambil tersenyum, Pak Taufik Pasaribu, salah seorang guru di sana, berkomentar, “Monyet itu cukup baik dalam ukuran seekor monyet.” Kalimat sederhana itu langsung mengundang gelak tawa.
Ketika saya, Pak Mario, Pak Taufik, Pak Satiman, dan Pak Fadhilah sedang asyik berbincang tentang pengkaderan, pembicaraan pun beralih kepada kedua monyet tersebut. Suasana menjadi semakin cair.
Lalu saya menyela sambil bercanda, “Kalau sudah lama monyet itu di sini, kasih saja kartu Muhammadiyah, Pak. Kan sekarang sudah bisa online.”
Sontak semua yang ada di situ tertawa.
Tentu itu hanya sebuah gurauan disela Pembicaraan yang cukup serius . Namun, dari gurauan yang sederhana itu lahir pelajaran yang tidak sederhana.
Keberadaan di suatu tempat ternyata tidak otomatis membuat seseorang menjadi bagian dari nilai-nilai yang ada di tempat itu. Sudah lama berada di lingkungan Muhammadiyah juga belum tentu menjadikan seseorang sebagai kader yang memahami dan menghidupi semangat perjuangan Muhammadiyah.
Baitul Arqom mengingatkan bahwa menjadi kader bukan sekadar soal hadir atau tercatat sebagai anggota. Yang lebih penting adalah mau belajar, mau memperbaiki diri, mau bekerja sama, dan mau berbuat untuk kemajuan umat dan masyarakat. Proses itulah yang terus dilatih dalam pengkaderan.
Suasana penuh canda seperti itu juga menjadi pengingat bahwa belajar tidak harus selalu berlangsung dengan wajah tegang. Terkadang, justru dari sebuah humor lahir pelajaran yang paling lama diingat. Tawa mencairkan suasana, sementara hikmah menguatkan makna.
Akhirnya saya membatin, kalau dua ekor monyet itu saja sudah lama betah di kompleks sekolah Muhammadiyah, tentu kita yang diberi akal dan amanah harus lebih dari sekadar “betah”. Kita harus bertumbuh, memberi manfaat, dan ikut mengambil bagian dalam menghadirkan Islam Berkemajuan: Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.
Karena sebenarnya yang dihitung bukan berapa lama kita berada di sebuah tempat, melainkan seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan untuk orang lain. Itulah hakikat menjadi kader. Bukan sekadar memiliki kartu anggota, tetapi memiliki hati yang siap belajar, berkhidmat, dan terus berjuang. (*)














