Oleh: Nashrul Mu’minin
Content writer
Banyak orang Jawa mengenal 1 Suro sebagai malam yang dianggap istimewa. Sebagian mengisinya dengan doa, muhasabah, tirakat, atau kegiatan budaya.
Namun muncul pertanyaan yang menarik: mengapa harus tanggal satu? Mengapa bukan tanggal dua, tiga, atau tanggal lainnya? Apakah ada cerita sejarah yang melatarbelakanginya?
Deretan pertanyaan di atas tampak sederhana, tetapi sesungguhnya membuka pembahasan panjang tentang sejarah, agama, budaya, dan cara manusia memaknai waktu.
Untuk memahami hal tersebut, kita harus kembali kepada sejarah kalender dalam Islam. Dalam tradisi Islam, awal tahun ditetapkan pada bulan Muharram. Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah.
Penetapan kalender Hijriah sendiri terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Ketika administrasi pemerintahan Islam semakin luas, dibutuhkan sistem penanggalan yang jelas agar surat-menyurat dan urusan negara tidak membingungkan. Dari sinilah lahir kalender Hijriah yang menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal perhitungan tahun.
Muharram kemudian menjadi bulan pertama dalam kalender tersebut. Karena ia bulan pertama, maka hari pertamanya otomatis menjadi penanda dimulainya tahun baru. Sama seperti tanggal 1 Januari dalam kalender Masehi, tanggal 1 Muharram menjadi gerbang masuk tahun yang baru dalam kalender Hijriah. Secara logika penanggalan, jika pergantian tahun dimulai dari Muharram, maka tentu harus dimulai dari tanggal satu, bukan tanggal lain.
Dalam budaya Jawa, khususnya sejak masa Kesultanan Mataram Islam, kalender Hijriah kemudian dipadukan dengan sistem penanggalan Jawa. Sultan Agung Hanyokrokusumo melakukan reformasi kalender pada tahun 1633 M. Kalender Saka yang sebelumnya digunakan tidak dihapus sepenuhnya, tetapi diselaraskan dengan sistem lunar Islam. Dari sinilah lahir kalender Jawa-Islam yang masih dikenal hingga sekarang. Nama Muharram dalam tradisi Jawa kemudian disebut sebagai bulan Suro.
Akibat perpaduan budaya dan agama tersebut, tanggal 1 Muharram berubah menjadi 1 Suro dalam kalender Jawa. Maka sesungguhnya tidak ada rahasia mistis mengapa dipilih tanggal satu. Alasannya sederhana: karena ia merupakan hari pertama dari bulan pertama dalam satu tahun. Namun seiring perjalanan waktu, masyarakat menambahkan berbagai makna simbolik sehingga 1 Suro memiliki kedudukan yang lebih istimewa dibandingkan hari-hari lainnya.
Dalam Islam sendiri, Muharram memang termasuk bulan yang dimuliakan. Allah SWT berfirman:
> إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36).
Ayat ini menunjukkan bahwa Muharram termasuk bulan yang memiliki kehormatan khusus. Sebab itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, memperbaiki diri, dan menjauhi perbuatan dosa pada bulan tersebut. Kehormatan Muharram inilah yang kemudian menjadi salah satu sebab masyarakat memberikan perhatian lebih kepada datangnya 1 Muharram atau 1 Suro.
Rasulullah SAW juga bersabda:
> أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim).
Hadis ini memperlihatkan bahwa Muharram memiliki nilai spiritual yang tinggi. Karena itu, ketika hari pertama Muharram tiba, banyak orang menjadikannya momentum awal untuk memperbaiki hubungan dengan Allah. Sebab manusia selalu membutuhkan titik awal baru untuk memperbaiki kesalahan masa lalu.
Secara psikologis, manusia memang menyukai simbol permulaan. Ketika memasuki tahun baru, seseorang merasa memiliki kesempatan membuka lembaran baru kehidupan. Akibatnya, hari pertama tahun sering dianggap lebih bermakna dibanding hari-hari lainnya. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh dunia, baik dalam kalender Masehi, Hijriah, maupun tradisi lainnya.
Dalam masyarakat Jawa, makna tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai tradisi. Ada kirab pusaka, doa bersama, ziarah kubur, hingga tirakat malam. Sebagian tradisi lahir sebagai sarana refleksi diri, sementara sebagian lainnya berkembang karena pengaruh kepercayaan masyarakat dari generasi ke generasi. Di sinilah kemudian muncul berbagai cerita yang membuat 1 Suro dianggap berbeda dari malam biasa.
Akibat kuatnya pengaruh cerita turun-temurun, sebagian masyarakat mulai menghubungkan 1 Suro dengan hal-hal gaib. Ada yang menganggap malam itu sebagai waktu keluarnya makhluk halus, ada yang menghindari pesta pernikahan, bahkan ada yang takut melakukan perjalanan tertentu. Padahal keyakinan semacam ini tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam apabila diyakini membawa manfaat atau mudarat dengan sendirinya.
Islam mengajarkan bahwa waktu pada dasarnya adalah ciptaan Allah. Tidak ada hari yang dapat memberi celaka atau keberuntungan tanpa izin-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
> لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ
“Tidak ada kesialan yang datang dengan sendirinya dan tidak ada pertanda buruk.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan bahwa manusia tidak boleh menggantungkan nasibnya pada tanggal tertentu. Sebab yang menentukan kehidupan bukanlah angka pada kalender, melainkan Allah SWT yang mengatur seluruh alam semesta.
Jika ditelusuri lebih dalam, keistimewaan 1 Suro sebenarnya bukan terletak pada unsur mistisnya, melainkan pada nilai refleksinya. Ia menjadi pengingat bahwa umur manusia terus berkurang. Tahun berganti berarti kesempatan hidup juga semakin berkurang. Sebab itu, para ulama lebih menekankan muhasabah daripada ketakutan terhadap berbagai mitos yang berkembang.
Dari sini dapat dipahami bahwa sebab utama munculnya 1 Suro adalah karena ia merupakan adaptasi dari 1 Muharram, hari pertama dalam kalender Hijriah. Akibat perpaduan sejarah Islam dan budaya Jawa, tanggal tersebut memperoleh kedudukan khusus dalam kehidupan masyarakat. Semakin lama, makna spiritual, budaya, dan simboliknya semakin mengakar hingga menjadi tradisi yang bertahan selama berabad-abad.
Maka ketika seseorang bertanya, “Mengapa harus tanggal satu dan bukan tanggal lain?” jawabannya adalah karena setiap awal selalu membutuhkan penanda. Sebagaimana matahari terbit menandai pagi dan adzan menandai waktu salat, maka tanggal 1 Muharram atau 1 Suro menjadi penanda dimulainya perjalanan satu tahun yang baru. Yang terpenting bukanlah kesakralan angkanya, melainkan bagaimana manusia memanfaatkan momentum tersebut untuk bertobat, memperbaiki diri, dan semakin mendekat kepada Allah SWT. Sebab pada akhirnya, yang menentukan masa depan bukanlah tanggal satu, melainkan amal yang dilakukan setelah tanggal itu berlalu. (*)












