No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result
Home
Jufri Daily

Di Balik Kursi Kekuasaan: Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya

by Mujaddid
15 Juni 2026
in Jufri Daily, Muhammadiyah, Muktamar 49, Nasional, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
0
Gambar ilustrasi.

Gambar ilustrasi.

0
SHARES
12
VIEWS
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Pagi ini saya kembali teringat pada tulisan yang pernah saya buat tentang orang-orang di sekitar kekuasaan. Orang-orang yang terkadang terlihat, tetapi tidak jarang justru tak terlihat. Mereka bukan selalu pemegang jabatan tertinggi, bukan pula selalu orang yang tampil di depan panggung. Namun dalam kenyataannya, pengaruh mereka bisa sangat besar, bahkan terkadang terasa lebih menentukan daripada pemimpin yang secara formal memegang kekuasaan.

Jangankan kekuasaan sebesar negara Indonesia, dalam pemerintahan daerah, organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, bahkan kampus sekalipun, selalu ada orang-orang yang berperan menjalankan roda kekuasaan. Ada yang menjadi penghubung komunikasi, ada yang menyaring informasi, ada yang menerjemahkan keinginan pemimpin menjadi kebijakan, dan ada pula yang secara perlahan membentuk cara pandang sang pemimpin terhadap berbagai persoalan.

Fenomena ini bukan sesuatu yang aneh. Sejak dahulu, sejarah mencatat bahwa di sekitar setiap pemimpin selalu ada lingkaran orang-orang yang dipercaya. Ada penasihat, sahabat, pembantu, sekretaris, staf, hingga kelompok informal yang memiliki akses khusus kepada pemimpin. Mereka dapat menjadi kekuatan yang memperkuat kepemimpinan, tetapi juga dapat menjadi faktor yang melemahkannya.

Karena itu, memahami sebuah kepemimpinan tidak cukup hanya melihat siapa pemimpinnya. Kita juga perlu memperhatikan siapa yang berada di sekelilingnya. Sebab sering kali kualitas keputusan yang lahir tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan pemimpin, tetapi juga oleh kualitas orang-orang yang memberi masukan, informasi, dan pertimbangan kepadanya.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang berada di sekitar pemimpin memiliki niat baik. Tidak semua pula bersedia memikul tanggung jawab yang sebanding dengan pengaruh yang mereka miliki. Sebagian memang hadir untuk membantu, mengingatkan, dan menjaga amanah kekuasaan. Tetapi sebagian lainnya justru memanfaatkan kedekatan dengan pemimpin untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau ambisi tertentu.

Mereka tampil sangat setia ketika kekuasaan masih kuat, seolah menjadi pendukung paling loyal. Namun ketika arah angin berubah dan kekuasaan berganti tangan, kesetiaan itu sering kali ikut berpindah. Orang yang kemarin dipuji setinggi langit dapat dengan mudah ditinggalkan, bahkan dikritik oleh orang-orang yang sebelumnya paling dekat dengannya. Mereka segera mencari pusat kekuasaan baru dan menyesuaikan diri dengan tuan yang baru.

Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi dalam politik, tetapi juga dalam birokrasi, organisasi, kampus, bahkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Karena itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki orang-orang yang cerdas di sekelilingnya. Ia juga harus mampu membedakan antara mereka yang setia kepada nilai dan amanah dengan mereka yang hanya setia kepada kekuasaan.

Dalam konteks inilah saya teringat pada Muhammadiyah. Sebagai gerakan Islam yang telah melewati lebih dari satu abad perjalanan, Muhammadiyah mengajarkan bahwa organisasi tidak boleh bergantung pada satu tokoh semata. Sistem, musyawarah, ilmu pengetahuan, dan etika organisasi harus menjadi fondasi utama. Pemimpin boleh berganti, tetapi nilai dan tujuan organisasi harus tetap terjaga.

Muhammadiyah juga memberikan pelajaran penting bahwa orang-orang di sekitar kepemimpinan harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Mereka harus berani menyampaikan fakta, bukan sekadar menyampaikan hal-hal yang menyenangkan telinga. Mereka harus membantu pemimpin melihat realitas secara utuh, bukan justru menciptakan sekat yang menjauhkan pemimpin dari kenyataan yang sebenarnya.

Di sinilah makna Islam Berkemajuan menemukan relevansinya. Kemajuan tidak hanya lahir dari kecerdasan individu pemimpin, tetapi juga dari budaya organisasi yang sehat. Kemajuan tumbuh ketika kritik dipandang sebagai vitamin, bukan ancaman. Kemajuan berkembang ketika orang-orang di sekitar pemimpin memiliki integritas, kapasitas, dan keberanian moral untuk mengatakan yang benar meskipun tidak selalu menyenangkan.

Gagasan Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya sesungguhnya juga berangkat dari kesadaran yang sama. Bangsa yang cerdas bukan hanya bangsa yang memiliki banyak pemimpin hebat. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu membangun ekosistem kepemimpinan yang sehat, di mana setiap orang yang berada di sekitar kekuasaan memahami bahwa amanah yang mereka pegang bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kemaslahatan bersama.

Sebab pada akhirnya, kekuasaan bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi utama. Kekuasaan juga tentang siapa yang berada di sekeliling kursi itu, siapa yang mengelola informasi, siapa yang memengaruhi keputusan, dan siapa yang menjaga agar kepentingan rakyat, umat, dan bangsa tetap menjadi tujuan utama.

Sejarah mengajarkan bahwa pemimpin yang hebat bukanlah mereka yang dikelilingi oleh banyak pengikut, melainkan mereka yang mampu membangun lingkungan yang dipenuhi oleh orang-orang berintegritas. Orang yang setia kepada kekuasaan akan pergi ketika kekuasaan berakhir. Sebaliknya, orang yang setia kepada nilai dan kebenaran akan tetap berdiri, bahkan ketika tidak ada lagi jabatan yang dapat dibagikan.

Tidak mudah menjadi seorang pemimpin. Apalagi menjadi pemimpin di negeri sebesar Indonesia dengan keragaman suku, agama, budaya, bahasa, kepentingan politik, dan tingkat kesejahteraan yang sangat kompleks. Menyatukan lebih dari 280 juta penduduk yang tersebar di ribuan pulau bukanlah pekerjaan sederhana. Karena itu, para pendiri bangsa dengan penuh kerendahan hati menempatkan kalimat “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sebuah pengakuan bahwa berdirinya bangsa ini bukan semata-mata hasil kecerdasan manusia, tetapi juga karena pertolongan dan rahmat Allah SWT.

Mungkin karena berkah rahmat Allah itulah bangsa ini masih tetap kokoh berdiri hingga hari ini, meskipun berkali-kali menghadapi krisis politik, konflik sosial, ancaman disintegrasi, bencana alam, dan berbagai ujian kebangsaan lainnya. Ada kekuatan yang lebih besar daripada sekadar perhitungan politik yang menjaga negeri ini tetap utuh.

Namun, tantangan seorang pemimpin tidak berhenti di situ. Tidak mudah mendapatkan kawan yang sekaligus kritis dan loyal. Kritis untuk berani mengingatkan ketika ada kekeliruan, dan loyal untuk tetap mendampingi ketika badai datang. Sayangnya, yang sering kali lebih banyak ditemukan di sekitar kekuasaan adalah orang-orang yang pandai berpura-pura. Mereka mengatakan semua baik-baik saja ketika sesungguhnya banyak masalah sedang menumpuk. Mereka memilih menyenangkan telinga pemimpin daripada menyampaikan kenyataan. Kritik dianggap ancaman, sementara pujian yang berlebihan dianggap kesetiaan.

Padahal justru dari kejujuran dan kritik yang tuluslah sebuah kepemimpinan dapat terus tumbuh dan memperbaiki diri. Karena itu, seorang pemimpin yang bijak tidak hanya mencari orang yang setuju dengannya, tetapi juga membutuhkan orang yang berani berbeda pendapat demi kebaikan bersama. Sejarah berulang kali mengajarkan bahwa kekuasaan jarang runtuh karena kekurangan pujian, tetapi sering kali jatuh karena terlalu sedikit mendengar kebenaran.

Dalam kehidupan berbangsa, bernegara, maupun berorganisasi, kita membutuhkan lebih banyak orang yang setia kepada nilai daripada setia kepada jabatan, lebih banyak orang yang berani mengatakan kebenaran daripada sekadar mencari kenyamanan, dan lebih banyak orang yang bersedia memikul tanggung jawab daripada hanya menikmati pengaruh.

Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya tidak hanya membutuhkan pemimpin yang hebat. Ia juga membutuhkan lingkungan yang sehat, sahabat yang jujur, kritik yang tulus, serta orang-orang berintegritas yang tetap berdiri tegak menjaga amanah, bahkan ketika lampu-lampu kekuasaan telah padam dan panggung telah berganti pemain. Di sanalah cahaya peradaban yang sesungguhnya akan terus menyala. (*)

 

 

Tags: Berita Muktamar 49Cerdas Bangsa Semesta BercahayaInfo Mukatamar 49Kursi KekuasaanMuhammadiyahMukatamar 49

Related Posts

Dua Busur Panah Muhammadiyah dari Jawa Tengah
Jufri Daily

Dua Busur Panah Muhammadiyah dari Jawa Tengah

8 Agustus 2026
44
SatuMu: Menyatukan Data, Menguatkan Gerakan Muhammadiyah
Jufri Daily

SatuMu: Menyatukan Data, Menguatkan Gerakan Muhammadiyah

4 Agustus 2026
22
Sinergi Bareng Dewan Pers, PP Muhammadiyah Siap Gelar Hari Pers dan Literasi 2026 di UMJ
Kemuhammadiyahan

Sinergi Bareng Dewan Pers, PP Muhammadiyah Siap Gelar Hari Pers dan Literasi 2026 di UMJ

4 Agustus 2026
6
Menjadi Pimpinan Muhammadiyah adalah Kesediaan untuk Berkorban
Jufri Daily

Menjadi Pimpinan Muhammadiyah adalah Kesediaan untuk Berkorban

24 Juli 2026
40
Milad IPM ke-65: Menyiapkan Kader Berkemajuan, Mencerahkan Bangsa dan Semesta
IPM

Milad IPM ke-65: Menyiapkan Kader Berkemajuan, Mencerahkan Bangsa dan Semesta

18 Juli 2026
30
Komisaris BSI Tinjau Progres Pembangunan Kampus Terpadu UMSU, Venue Muktamar 49 Muhammadiyah-Aisyiyah 2027
Daerah

Komisaris BSI Tinjau Progres Pembangunan Kampus Terpadu UMSU, Venue Muktamar 49 Muhammadiyah-Aisyiyah 2027

16 Juli 2026
8

Recent Posts

  • Perkuat Ekosistem Digital Kampus, Rektor UMSU Temui Menteri Komdigi Meutya Hafid
  • Jadi Kontingen Terbesar di ASEAN, UMSU Utus 47 Mahasiswa Kuliah dan Studi Pengalaman di Malaysia
  • Menuntaskan Perjalanan, Menjaga Keteladanan
  • Analisis Faksionalisme, Akomodasi Politik, dan Paradoks Pelembagaan: Studi Kasus Partai Golkar Sumatera Utara
  • Memperkuat Karakter dan Pengabdian, FH UMSU Lepas 441 Mahasiswa Peserta KKN 2026

Recent Comments

  1. Waras mengenai Unik dan Edukatif, MuTu Fest Membatik SD Muhammadiyah 1 Bancar Kenalkan Batik Tulis pada Anak TK dan RA
  2. Waras mengenai Unik dan Edukatif, MuTu Fest Membatik SD Muhammadiyah 1 Bancar Kenalkan Batik Tulis pada Anak TK dan RA
  3. Ashsaism mengenai IMM Sumsel Dukung Zaki Nugraha jadi Caketum pada Muktamar IMM XX Palembang
  4. Ay mengenai Temanku
  5. Akuntansi mengenai Dukung Swasembada Pangan Nasional, Penyuluh Pertanian OKUT Normalisasi Saluran Irigasi

Follow Global Journal on:

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

© 2026 JNews – Premium WordPress News & Magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?
Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required.
Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.