Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Di tengah kehidupan yang semakin pragmatis, sering kali orang menilai organisasi dari seberapa besar manfaat yang bisa diperoleh untuk dirinya. Ukuran keberhasilan berorganisasi pun kadang bergeser, bukan lagi pada seberapa besar kontribusi yang diberikan, melainkan seberapa banyak keuntungan yang didapatkan. Dalam suasana seperti itulah pesan-pesan para pendahulu Muhammadiyah menjadi sangat relevan untuk kembali dibaca dan direnungkan.
Salah satu pesan yang sangat kuat adalah bahwa Muhammadiyah tidak membutuhkan kita, justru kitalah yang membutuhkan Muhammadiyah. Kita yang memerlukan organisasi untuk belajar, bertumbuh, beramal, dan mengabdi. Karena itu Muhammadiyah wajib kita hidupkan, bukan Muhammadiyah yang wajib menghidupi kita.
Kalimat ini bukan sekadar nasihat organisasi. Ia adalah pelajaran tentang keikhlasan, tentang cara memandang pengabdian, dan tentang bagaimana sebuah gerakan dapat bertahan lebih dari satu abad karena ditopang oleh orang-orang yang rela memberi lebih banyak daripada menerima.
Kita hidup pada zaman yang sering kali menempatkan segala sesuatu dalam ukuran untung dan rugi. Persahabatan dinilai dari manfaatnya. Relasi sosial diukur dari keuntungan yang diperoleh. Bahkan organisasi pun terkadang dipandang sebagai kendaraan untuk mendapatkan jabatan, pengaruh, atau akses tertentu. Tidak sedikit orang yang bersemangat ketika organisasi memberikan ruang bagi dirinya, tetapi perlahan menjauh ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Padahal Muhammadiyah tidak pernah dibangun dengan semangat seperti itu. Persyarikatan ini tumbuh dari pengorbanan, keikhlasan, dan kerja panjang para pendahulu yang tidak pernah menghitung apa yang akan mereka dapatkan. Mereka mendirikan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kemajuan umat dan bangsa.
Salah satu kekuatan terbesar Muhammadiyah adalah kemampuannya menjaga konsistensi gerakan. Muhammadiyah mungkin tidak selalu hadir dengan gegap gempita, tidak selalu menjadi pusat perhatian, dan tidak selalu bergerak dengan ledakan-ledakan yang mengundang sorotan. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Muhammadiyah adalah gerakan yang berjalan terus-menerus, setapak demi setapak, dari generasi ke generasi. Ia bukan gerakan sporadis yang muncul ketika momentum datang lalu menghilang ketika suasana berubah. Ia adalah gerakan yang sabar membangun sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, panti asuhan, masjid, dan berbagai amal usaha yang manfaatnya dirasakan dalam jangka panjang. Dalam dunia yang sering terpikat pada sensasi sesaat, Muhammadiyah mengajarkan bahwa perubahan besar lahir dari kerja yang konsisten, terukur, dan berkelanjutan. Sebab peradaban tidak dibangun oleh gebrakan sesaat, melainkan oleh ketekunan yang dirawat sepanjang waktu.
Karena itu, ketika Muhammadiyah kurang maju, tugas kita adalah memajukannya. Ketika kurang tertata, tugas kita adalah menatanya. Ketika kurang semangat, tugas kita adalah menyemangatinya. Bukan justru meninggalkannya ketika menghadapi kekurangan. Sebab organisasi yang besar tidak dibangun oleh mereka yang hanya menikmati hasil, melainkan oleh mereka yang bersedia ikut memikul beban perjuangan.
Nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi lahirnya gagasan Islam Berkemajuan. Sebuah cara pandang yang menempatkan Islam sebagai kekuatan yang mendorong lahirnya ilmu pengetahuan, pendidikan, keadilan sosial, kesehatan, dan kemajuan peradaban. Islam tidak hanya hadir di mimbar-mimbar dakwah, tetapi juga dalam ruang kelas, laboratorium, rumah sakit, dan berbagai ikhtiar untuk memuliakan kehidupan manusia.
Dalam saat yang sama, Muhammadiyah juga menampilkan wajah Islam Moderat yang berkemajuan. Islam yang teguh dalam prinsip tetapi santun dalam cara. Islam yang tidak mudah terjebak pada sikap ekstrem, tidak mudah mengkafirkan, dan tidak gemar mempertentangkan perbedaan. Moderasi bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan dalam memahami ajaran agama dan realitas kehidupan.
Seperti yang sering saya sebutkan, sebagai kader Muhammadiyah kita harus berpikir radikal, tetapi bersikap moderat. Berpikir radikal dalam arti berani menyentuh akar persoalan, mencari solusi yang mendasar, tidak puas dengan cara berpikir yang dangkal, dan memiliki keberanian melakukan pembaruan untuk kemajuan umat dan bangsa. Namun dalam sikap dan tindakan, kita tetap harus moderat, bijaksana, proporsional, dan menghormati perbedaan. Dengan cara itulah kita dapat terhindar dari radikalisme yang sering melahirkan sikap keras dan eksklusif, sekaligus terhindar dari berbagai bentuk ekstremitas dalam kehidupan sosial, politik, maupun keagamaan. Muhammadiyah mengajarkan keberanian dalam gagasan, tetapi juga kematangan dalam bersikap. Tajam dalam berpikir, namun teduh dalam bertindak.
Tantangan lain yang tidak bisa diabaikan adalah bahwa tarikan politik dan godaan popularitas sering kali memengaruhi sikap dan perilaku kehidupan, termasuk di kalangan kader Muhammadiyah. Politik pada dasarnya adalah bagian dari kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang tidak dapat dihindari. Namun persoalan muncul ketika orientasi pengabdian mulai bergeser menjadi orientasi kekuasaan, atau ketika semangat dakwah berubah menjadi semangat mengejar popularitas. Pada titik tertentu, seseorang bisa lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga nilai, lebih bersemangat membangun pengaruh daripada membangun amal. Karena itulah kader Muhammadiyah dituntut memiliki kedewasaan berpikir dan keteguhan moral agar tidak kehilangan arah. Politik boleh menjadi ruang perjuangan, popularitas boleh datang sebagai konsekuensi dari karya, tetapi keduanya tidak boleh menggeser tujuan utama pengabdian kepada umat, bangsa, dan persyarikatan.
Lebih jauh lagi, Muhammadiyah mengusung semangat Islam Mencerahkan. Dakwah tidak dilakukan dengan menebarkan kemarahan, tetapi dengan menghadirkan solusi. Bukan dengan mempersempit ruang berpikir, melainkan membuka cakrawala ilmu pengetahuan. Bukan dengan menumbuhkan kebencian, tetapi dengan menghadirkan harapan. Islam yang mencerahkan adalah Islam yang membuat manusia semakin dekat kepada Tuhan sekaligus semakin bermanfaat bagi sesama.
Di sinilah makna penting berorganisasi dalam Muhammadiyah. Kita tidak sedang membesarkan sebuah nama atau institusi semata. Kita sedang menjaga nyala sebuah gerakan yang selama lebih dari satu abad telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Sebuah gerakan yang melahirkan sekolah-sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai karya nyata yang manfaatnya dirasakan jutaan orang.
Karena itu, menjadi bagian dari Muhammadiyah berarti siap menjadi pelari maraton peradaban, bukan pelari cepat yang hanya bersemangat di awal perjalanan. Muhammadiyah mengajarkan bahwa dakwah dan tajdid adalah pekerjaan panjang yang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan konsistensi. Gerakan yang mungkin berjalan pelan, tetapi tidak berhenti. Gerakan yang tidak sporadis, tetapi terus hidup dan memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Mungkin karena itu para pendahulu Muhammadiyah selalu mengingatkan agar jangan menjadikan organisasi sebagai tempat mencari hidup. Sebaliknya, jadikanlah organisasi sebagai tempat memberi kehidupan bagi banyak orang. Sebab ketika orientasi kita adalah pengabdian, maka organisasi akan tumbuh menjadi ladang amal yang luas. Namun ketika orientasi kita adalah kepentingan, organisasi hanya akan menjadi arena kekecewaan.
Pada akhirnya, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi. Ia adalah rumah pengabdian, sekolah kehidupan, dan ruang perjuangan untuk menghadirkan Islam yang berkemajuan, moderat, dan mencerahkan. Tugas kita bukan menunggu cahaya itu menerangi kita, melainkan ikut merawatnya agar tetap menyala bagi generasi yang akan datang. Karena sesungguhnya, bukan Muhammadiyah yang wajib menghidupi kita, melainkan kitalah yang berkewajiban menjaga dan menghidupkan cahaya persyarikatan itu.
Di tengah zaman yang serba transaksional, ketika banyak orang bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?”, Muhammadiyah mengajarkan pertanyaan yang jauh lebih mulia: “Apa yang bisa saya berikan?” Dari pertanyaan sederhana itulah lahir keikhlasan, tumbuh pengabdian, dan terjaga cahaya persyarikatan yang selama lebih dari satu abad terus menerangi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Karena pada akhirnya, Muhammadiyah bukanlah gerakan yang sibuk membesarkan dirinya sendiri. Muhammadiyah adalah gerakan yang membesarkan umat, mencerdaskan bangsa, dan memuliakan manusia. Gerakan yang mungkin berjalan pelan, tetapi tidak pernah berhenti. Gerakan yang tidak sporadis, tetapi konsisten. Gerakan yang tidak selalu ramai oleh tepuk tangan, tetapi selalu kaya dengan karya. Dan justru karena konsistensi itulah Muhammadiyah mampu bertahan melintasi zaman, menjaga ruh Islam Berkemajuan, meneguhkan Islam Moderat, dan terus menghadirkan Islam Mencerahkan bagi Indonesia dan dunia.
Sebagai kader Muhammadiyah, tugas kita bukan sekadar mewarisi nama besar persyarikatan, tetapi juga mewarisi semangat, nilai, dan tanggung jawab moral yang telah diteladankan para pendahulu. Sebab cahaya persyarikatan tidak akan tetap menyala hanya karena sejarahnya yang besar, melainkan karena ada generasi-generasi yang terus merawatnya dengan keikhlasan, keteguhan, dan karya nyata. Itulah jalan panjang Muhammadiyah: tidak selalu menjadi yang paling gaduh, tetapi berusaha menjadi yang paling bermanfaat. Tidak selalu menjadi yang paling populer, tetapi berupaya tetap menjadi yang paling konsisten dalam menebarkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. (*)








