Oleh: Jufri
Saya mendengarkan bagaimana Prof. Agussani menyampaikan sambutan terakhirnya sebagai Rektor UMSU, dan sekaligus sebagai Ketua BPH UMSU yang baru. Saya juga menyimak bagaimana Prof. Akrim, sang murid Prof. Agussani, dengan beban amanah yang tidak ringan dan rasa tanggung jawab yang besar, menyampaikan optimisme untuk terus memajukan UMSU dengan mengajak semua pihak berkontribusi.
Selasa pagi itu terasa hidup. Tidak sekadar ramai oleh tamu dan undangan, tetapi juga oleh rasa—rasa kebersamaan, rasa haru, dan rasa tanggung jawab atas sebuah estafet panjang yang sedang berpindah tangan. Dalam suasana yang hangat itu, sambutan Prof. Agussani terasa bukan hanya sebagai pidato seremonial, tetapi sebagai refleksi perjalanan.
Dengan energi yang tetap terasa kuat, beliau mengenang awal kepemimpinannya pada tahun 2010. Sebuah masa yang tidak mudah, penuh tantangan, dan membutuhkan keteguhan. Amanah dari Pimpinan Pusat tentang tata kelola perguruan tinggi menjadi fokus utama yang ia pegang. Dari situlah lahir identitas yang kemudian melekat: “rektor tata kelola”. Sebuah sebutan yang tidak muncul tiba-tiba, melainkan dari kerja yang sungguh-sungguh dan konsisten.
Perjalanan panjang itu tentu tidak sepi dari komentar. Bahkan akhir – akhir ini Ada yang bertanya kapan masa jabatannya berakhir, bahkan ada yang menyebutnya rektor seumur hidup. Namun jawaban beliau tetap sederhana dan tenang: kader Muhammadiyah di UMSU banyak. Regenerasi bukan masalah, karena kaderisasi berjalan. Dan di antara sekian banyak kader itu, nama Prof. Akrim sering ia sebut, bersama nama-nama lain yang juga telah disiapkan.
Pengukuhan rektor bersama Badan Pembina Harian (BPH) dalam satu momentum menjadi sesuatu yang baru. Sebuah model yang menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal individu, tetapi juga sistem dan kolektivitas. Walaupun tidak lagi menjabat, pada usia 72 tahun, Prof. Agussani menegaskan bahwa perjuangan tidak akan berhenti. Jabatan boleh selesai, tetapi pengabdian tidak mengenal akhir.
Ada bagian menarik ketika beliau membandingkan gaya kepemimpinan. Prof. Akrim disebut lebih tenang, bahkan cenderung pemalu. Namun kalimat kuncinya sederhana: “ Gayanbeda ,rasanya tetap sama”. Dalam kalimat ini tersimpan makna keberlanjutan—bahwa perbedaan gaya bukanlah masalah selama nilai dan arah tetap dijaga.
Jejak perjalanan Prof. Akrim sendiri menunjukkan proses panjang. Sejak ditarik ke UMSU pada 2007 sebagai kepala LP2M, kemudian menjadi dekan, hingga menjabat wakil rektor selama dua periode. Ini bukan perjalanan instan, melainkan hasil dari proses kaderisasi yang terencana dan berkelanjutan.
UMSU, sebagaimana disampaikan Prof. Agussani, adalah rumah bagi kader Muhammadiyah, termasuk IMM. Bahkan disebut sebagai salah satu basis kader terbanyak. Maka prestasi yang diraih selama ini bukanlah milik individu, tetapi kerja kolektif yang harus terus dirawat dan dilanjutkan.
Dengan jujur beliau juga menyampaikan bahwa dalam perjalanan kepemimpinannya, tidak sedikit yang membenci. Namun jawabannya bukan dendam, melainkan kerja dan prestasi. Sebuah pesan sederhana yang seringkali justru sulit dijalankan dalam praktik kehidupan.
Di penghujung sambutan, dengan nada yang mulai tertahan, beliau berbicara tentang keluarganya. Bahwa istrinya tidak pernah mencampuri urusan kampus. “Masalah kampus tugas rektor, masalah rumah tangga tugas istri.” Sebuah pesan etis yang kuat—tentang batas, tentang profesionalitas, dan tentang integritas dalam kepemimpinan.
Sementara itu, Prof. Akrim memulai langkahnya dengan kesadaran yang jernih. Ia menyebut Prof. Agussani sebagai gurunya. Dan seperti lazimnya seorang guru, tentu ada harapan agar muridnya menjadi lebih baik. Ia juga menyadari bahwa melanjutkan kepemimpinan yang sukses bukanlah hal yang mudah. Namun sebagai rektor termuda dalam sejarah UMSU, ia tetap optimis.
Arah yang dituju jelas: menjadikan UMSU sebagai world class university. Dengan menyesuaikan diri pada era digitalisasi, tetap membuka diri untuk belajar, dan menjaga keberlanjutan dari apa yang telah dibangun sebelumnya. Ia juga menegaskan satu hal penting: dirinya bukan yang terbaik, tetapi yang diamanahkan. Sebuah pernyataan yang sederhana, namun menunjukkan kerendahan hati sekaligus kesiapan untuk bekerja.
Dalam konteks yang lebih luas, Prof. Akrim juga menegaskan bahwa suksesnya Muktamar Muhammadiyah ke-49 diukur dengan tiga indikator: sukses persiapan, sukses pelaksanaan, dan sukses hasil muktamar. Sebuah kerangka berpikir yang sederhana, tetapi mencerminkan pendekatan manajerial yang sistematis dan terarah.
Keduanya juga sama-sama optimis terhadap pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-49. Apalagi Haedar Nashir telah menegaskan bahwa Prof. Agussani tetap menjadi ketua panitia. Ini menunjukkan bahwa peran dan kepercayaan tidak berhenti hanya karena jabatan formal telah usai.
Ketika acara berakhir, suasana menjadi lebih cair. Para tamu saling menyalami, menyampaikan ucapan selamat, dan berbagi harapan. Saya pun ikut dalam barisan itu. Saat bersalaman dengan Prof. Agussani, beliau berkata pelan, “jangan berubah ya, kita tetap sering komunikasi.” Saya hanya mengangguk—karena dalam kalimat itu ada kedekatan yang tidak bisa dibuat-buat.
Ketika sampai kepada Prof. Akrim, saya memeluknya. Ia bertanya singkat, “apa rencana kita, bang?” Sebuah pertanyaan sederhana, tetapi terasa sebagai ajakan untuk tetap bersama dalam perjalanan ke depan. Saya menjawab singkat, “nantikah Pak Rektor,” karena antrian panjang tamu dan undangan lainnya menunggu .
Hari itu, saya menyaksikan bahwa peralihan kepemimpinan tidak sekadar soal jabatan yang berpindah, tetapi tentang nilai yang diteruskan. Tentang bagaimana perbedaan gaya tidak mengubah rasa. Tentang bagaimana keberlanjutan dijaga dengan kesadaran kolektif.
Sebab pada akhirnya, yang pernah datang akan pergi. Yang pernah memulai akan mengakhiri. Namun yang paling penting, yang melanjutkan tidak pernah berjalan sendiri.
Sebagai penutup, saya menyimpan harapan yang tulus. Semoga Prof. Agussani senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan dalam melanjutkan pengabdiannya, di manapun peran itu dijalankan. Dan kepada Prof. Akrim, semoga amanah besar ini dapat ditunaikan dengan penuh kebijaksanaan, kesabaran, dan keberanian dalam mengambil keputusan.
Untuk UMSU, harapannya sederhana tetapi dalam: teruslah menjadi rumah besar kader, pusat ilmu, dan ruang pengabdian yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Dengan gaya yang boleh berbeda, tetapi rasa yang tetap sama—UMSU diharapkan terus melangkah maju, bertumbuh, dan meneguhkan diri sebagai perguruan tinggi berkelas dunia yang berakar kuat pada nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan.
UMSU : Unggul Cerdas Terpercaya
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
Penulis adalah Ketua PDM Kota Tebing Tinggi







