Oleh: M. Risfan Sihaloho
Estafet kepemimpinan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) kini beralih dari Prof. Dr. Agussani, MAP kepada Prof. Dr. Akrim, MPd. Sebuah peralihan yang pada satu sisi tampak biasa dalam dinamika kelembagaan, namun di sisi lain menyimpan simbol kecil yang menggelitik: keduanya sama-sama diawali dengan huruf A, atau berinisial A.
Barangkali ini hanya kebetulan. Namun dalam dunia gagasan, kebetulan seringkali menjadi pintu masuk untuk membaca makna yang lebih dalam.
Tanpa bermaksud menyakralkan, huruf A adalah awal dari segalanya—abjad pertama, titik mula, simbol dari permulaan yang kuat. Ketika estafet kepemimpinan bergerak dari A ke A, ada kesan kesinambungan yang tidak terputus, seperti garis lurus yang tidak patah di tengah jalan.
Dalam konteks UMSU, kesinambungan bukan sekadar mempertahankan apa yang sudah ada, melainkan menjaga ritme kemajuan agar tidak kehilangan arah.
Tak bisa dipungkiri, di bawah kepemimpinan Prof. Agussani, UMSU telah menorehkan berbagai capaian penting—baik dalam penguatan akademik, reputasi kelembagaan, maupun perluasan jejaring. Maka, peralihan kepada Prof. Akrim menjadi momentum untuk melanjutkan energi tersebut, bukan mengulang dari nol, melainkan berlari lebih jauh dari titik yang sudah dicapai.
Memang, akan selalu ada dua cara pandang dalam melihat suksesi seperti ini. Sebagian mungkin menganggapnya sebagai tanda stagnasi—sebuah lingkaran yang berputar di tempat yang sama. Namun pandangan ini terasa terlalu terburu-buru. Dalam tradisi institusi yang sehat, kesinambungan justru adalah fondasi penting bagi kemajuan. Tanpa kesinambungan, setiap pergantian kepemimpinan berisiko menjadi awal yang rapuh, penuh trial and error yang menguras energi.
Sebaliknya, membaca “A ke A” sebagai simbol keunggulan menghadirkan perspektif yang lebih produktif. Huruf A kerap diasosiasikan dengan kualitas tertinggi—nilai terbaik dalam sistem penilaian, standar tertinggi dalam capaian. Maka pengulangan huruf ini bisa dimaknai sebagai komitmen untuk menjaga standar tersebut tetap tinggi, bahkan meningkatkannya. Bukan sekadar mempertahankan prestasi, tetapi memperluasnya menjadi lompatan baru.
Di titik inilah optimisme menemukan pijakannya. Kepemimpinan baru bukanlah jeda, melainkan akselerasi. Prof. Akrim membawa harapan akan penyegaran gagasan, penguatan inovasi, serta keberanian untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks. Dunia pendidikan tinggi kini tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan pemikir, inovator, dan agen perubahan yang mampu bersaing di tingkat global.
UMSU memiliki modal sosial, kultural, dan intelektual yang kuat untuk menjawab tantangan itu. Tugas kepemimpinan ke depan adalah memastikan seluruh potensi tersebut terkelola dengan baik dan diarahkan pada visi besar yang berkelanjutan.
Dari A ke A, estafet ini bukan tentang mengulang, tetapi tentang meneguhkan arah—bahwa perjalanan ini tetap berada di jalur yang tepat.
Pada akhirnya, huruf hanyalah simbol. Namun dari simbol itulah kita belajar membaca harapan. Tetap “A”, harapan itu tampak sederhana namun kuat: menjaga yang baik, memperbaiki yang kurang, dan melompat lebih tinggi dari capaian sebelumnya. Insha Allah. (*)
Penulis adalah Pemred TAJDID.ID, Alumni UMSU







