Segera kita berangkat. Dan akhirnya aku dapat menyelesaikan semuanya berkat bantuan Rangga. Mulai besok aku sudah mulai bisa bekerja part time di apotek tantenya Rangga. Dan keluargaku juga memberikan kesempatan untuk aku sekali lagi berjuang. Dan tak lupa aku juga sudah mendaftar beasiswa di kampus secara online. Dan pengumuman beasiswanya satu minggu setelah berkas dikirim. Beasiswa ini adalah penentu aku akan melanjutkan kuliah atau tidak kedepannya.
Satu minggu kemudian, tibalah pengumuman beasiswa itu. Dengan gemetar aku membuka pengumuman itu. Aku lihat satu persatu deretan nama yang lolos seleksi beasiswa tersebut. Akupun kaget. Dari banyaknya mahasiswa yang mendaftar beasiswa itu, namaku terpampang jelas dengan keterangan lolos seleksi beasiswa. Aku seketika loncat kegirangan. Tak kusangka perjuanganku tak sia-sia. Langsung saja aku sampaikan kabar gembira ini ke Rangga lewat telfon.
“Gimana Div?”Suara Rangga dari telfon
“Aku lolos seleksi beasiswa.” Aku setengah berteriak sangkin senangnya.
“Alhamdulilah selamat ya Div. Masih diberi kesempatan kuliah.”
“Alhamdulillah berkat bantuan kamu juga Rang. Makasih banget loh.”
“Sama-sama Div, semangat ya kuliahnya. Harus pinter-pinter bagi waktu antara kuliah sama kerjanya ya.”
“Siap.”Tidak pernah aku sesemangat ini.
Akupun juga mengabari keluargaku, keluargaku pun turut gembira mendengar kabar ini.
Setelah itu aku mulai memulai kembali hidupku dengan semangat baru. Sekarang tidak ada lagi waktu untuk aku bermain atau sekedar nongkrong di warung. Kuliah dan kerja cukup melelahkan. Tapi aku menikmati prosesnya.
***
Sebenarnya hari-hariku berjalan dengan baik, sampai tiba-tiba aku melihat Rangga berjalan bersama dengan cewe yang entah aku tidak kenal siapa dia. Dan langsung aku mengirimkan pesan singkat kepada Rangga.
Pov isi pesan:
Diva : “Rang.”
Rangga : “Iya Div kenapa?”
Diva : “Tadi aku lihat kamu dengan cewe, itu siapa ya? Cewemu ya wkwk.”
Rangga : “Hihi tau aja kamu Div. Iya dia pacarku. Kita baru aja jadian.”
Diva : “Beneran Rang?”
Rangga :”Beneranlah. Tadinya aku mau cerita ke kamu. Eh keburu kamu yang tanya sendiri.
Aku terdiam. Kenapa rasanya sakit? Bukankah seharusnya aku harus bahagia melihat Rangga bahagia? Ternyata aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku suka dengan Rangga. Aku suka Rangga yang memperlakukanku dengan sangat baik. Selalu menolongku dan menjadi tempatku mengadu. Tapi ternyata, ada seseorang yang jauh lebih beruntung bisa memiliki Rangga, dan itu bukanlah diriku.
Aku menangis. Seakan-akan aku akan kehilangan Rangga selamanya. Perasaanku tidak terbalaskan. Entah Rangga sebeneranya tahu atau tidak perasaanku, yang jelas Rangga sudah menjadi milik orang lain. Dan sekarang aku kehilangan sosok yang menjadi obat disaat aku terpuruk. Rangga adalah obat, sekaligus luka bagiku sekarang. Aku mulai menangis sejadi-jadinya.
Sebenarnya selama ini Rangga adalah alasanku mau terus berjuang sampai di titik ini. Tapi sekarang, dia pergi. Aku yang terlalu berharap lebih kepada Rangga. Ini salahku juga, jatuh cinta kepada orang yang jelas-jelas hanya menganggapku sebatas teman. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri, agar aku dapat menerima kenyataan ini.
Setelah beberapa saat aku mulai berpikir jernih. Aku memang menyukainya, tapi bukan berarti harus memilikinya. Aku akan tetap menyukainya sampai aku bener-bener capek dan tahu caranya berhenti menyukainya. Aku harus ikut Bahagia atas kebahagiaan Rangga. Dia orang baik, tapi bukan untuku. Mungkin wanita yang disampingnya sekarang adalah wanita yang dapat lebih jauh memberikan kebahagiaan untuk Rangga. Aku yakin aku pasti bisa melewatinya. Seperti kata Rangga waktu itu. Suatu saat nanti aku akan membuktikannya. (*)
Laelatus Zakiya. Lahir diTegal, 2 Mei 2003. Sekarang ia dalam proses jadi mahsiswi S1 di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto







