• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Senin, Mei 18, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Obat Sekaligus Luka

Laelatus Zakiya by Laelatus Zakiya
2022/09/09
in Cerpen
0
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Tidak lama ojek online pesananku datang. Aku segera memberitahukan tempat tujuanku ke abang ojeknya. Dan segeralah kita menuju kesana. Sampai disana aku langsung menuju ruang ICU khusus penyakit jantung. Dari kejauhan nampak ibuku sedang terduduk lesu didepan ruang ICU. Kuperkirakan ibuku pasti belum makan, terlihat dari mukannya yang pucat itu. Aku segera menghampiri ibuku. Ibuku kaget melihatku ada disana. Langsung saja dia merangkul tubuhku sambil menangis.

“Maafkan ibu Div tidak memberitahumu ayah dibawa rumah sakit. Ibu takut fokus kuliahmu terganggu.” Ibuku nangis sesenggukan.

Sakit rasanya, dadaku sesak mendengar perkataan ibuku barusan. Bahkan disaat keadaannya seperti ini pun ibuku masih memikirkan kuliahku. Air mataku mengalir deras tak terbendungkan.

“Aku ini anakmu bu, sudah menjadi hak-ku mengetahui keadaan orang tua ku. Tak usah ibu memikirkan kuliahku, aku lebih takut kehilangan ayah dan ibu daripada kuliahku.”

Kami bedua pun menangis bersama. Setelah keadaan cukup tenang, ibuku mengantarku ke dalam ruang ICU. Terlihat ayahku terkapar tidak berdaya diatas ranjang rumah sakit. Alat-alat rumah sakit mirip seperti kabel bentuknya tertancap pada dada ayahku, ventilator tidak lepas dari hidung dan mulut ayahku untuk membantu pernapasan, impus dan segala macam nya, membuatku tak kuat menyaksikan pemandangan ini. Ayahku yang kuat sekarang terbaring lemah. Aku meraih tangan ayahku, tak kerasa air matamu menetes ditangannya.

“Jangan sedih, ayahmu ini tidak papa, jangan terlalu dipikirkan, fokus saja dengan kuliahmu.”Ayahku membuka ventilator pada mulutnya dan berkata terbata-bata.

“Kenapa ayah tidak bilang kalau ayah sakit?”

“Ayah tidak mau kamu kepikiran.”

Tidak apa-apa ayah bilang? Tidakkah kau lihat dirimu terbaring lemah tidak berdaya wahai ayah. Batinku membantah

Tidak lama, dokter datang. Dan menyuruhku untuk meninggalkan ruangan ICU karena sekarang adalah jam pasien istirahat. Aku pun menurut demi kebaikan ayahku.

Diluar ruangan ibuku menghapiriku.

“Div, ibu mau ngomong penting denganmu.” Kata ibuku dengan nada serius.

“Iya bu silahkan.”

“Begini Div, ayahmu dua minggu yang lalu dilarikan ke rumah sakit yang agak dekat dengan rumah kita. Ayahmu kena serangan jantung. Setelah seminggu dirawat disana ayahmu diperbolehkan pulang. Tapi selang dua hari ayahmu drop lagi.”

“Lalu kenapa ayah dibawa ke rumah sakit ini?” Aku penasaran.

“Saat kembali dibawa kesana, pihak rumah sakit tidak menerima karena alat-alat disana tidak lengkap. Dan akhirnya disarankan dibawa ke rumah sakit ini yang alat-alat untuk penanganan jantungnya cukup memadai.” Jelas ibuku.

Aku mengangguk sambil memikirkan apakah separah itu ayahku.

“Satu hal lagi, dengan berat hati ibu katakana ini kepadamu. Kata dokter setelah ini ayahmu tidak bisa bekerja berat-berat seperti biasanya. Dan dibutuhkkan waktu agak lama untuk penyembuhannya. Sepertinya ibumu ini tidak mampu membiayai kuliahmu. Maafkan ibu yang gagal menjadi ibu yang baik buatmu.” ibuku mememlukku.

Aku terdiam, tidak mampu berkata apa-apa, yang ada hanya air mata yang mengalir. Aku dan diriku yang lain bertengkar. Disatu sisi aku ingin melanjutkan kuliah, disisi lain aku tidak bisa memaksakan keadaan keluargaku.
“Tidak apa-apa bu, aku tidak usah kuliah.”aku spontan mengatakan kalimat tersebut.

“Ibu tau perjuanganmu masuk kuliah sangat luar biasa, tapi dengan keadaan ayahmu yang seperti ini, dengan berat hati ibu mengatakan hal ini. Maafkan ibu Div.” Ibuku menangis.

“Ini bukan salah ibu, janganlah minta maaf bu. Aku tidak apa-apa tidak kuliah. Pasti ada jalan lain yang dipersipakan tuhan untukku.”

Ibuku pasti sangat sedih. Sudah menjadi cita-cita dia sejak dulu untuk menguliahkanku. Sekarang kedaaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Ekonomi keuarga ku menurun drastis. Dan aku harus menerima hal itu. Setelah selesai membicarakan hal itu, aku berpamitan untuk pulang ke kost-san karena ada hal yang harus segera aku selesaikan. Aku pulang menggunakan ojeg online lagi.

Sampai di kost-san aku hanya duduk termenung. Teman kost-san ku belum pulang. Akupun meraih ponsel yang ada di tasku. Ku cari nama Rangga dalam ponselku dan ku telepon dia.

“Hallo Div.”Suara rangga terdengar dari ponsel.

“ Hallo Rang.”

“Iya div kenapa?”

“Bisa ketemu sekarang sebentar? Ada yang ingin aku ceritakan.”

“Bisa bisa, dimana?”

“Di warung biasa kita nongkrong dekat kost-sanku aja Rang.”

“Oke aku kesitu.”

“Oke.”

Rangga langsung mematikan teleponnya. Memang selama tiga bulan terakhir ini rangga menjadi tempatku bercerita segala masalah apapun. Dan tidak lama Rangga sampai depan kost-sanku. Aku dan Rangga pun menuju warung tongkrongan seperti biasanya. Dan aku ceritakan masalahku semunya kepada Rangga. Dari awal sampai akhir. Rangga mendengarkan dengan serius.

“Aku ikut sedih dengernya Div, tapi kamu harus sabar ya Div. Insya Allah ada rezeki yang lebih baik buat kamu kedepannya.” Rangga mencoba menenagkanku.

“Insya Allah aku kuat.”Aku mencoba menguatkan diri sendiri.

“Tapi kamu mau menyelesaikan semester satu dulu kan?”

“Tergantung Rang, besok aku mau konsultasi sama dosen pembimbing akademik, kalau prosedurnya cepet minggu ini bisa langsung megundurkan diri berarti minggu ini terakhir aku kuliah. Makasaih banyak ya, kamu sudah banyak bantu aku selama ini.”

“Kamu bisa ambil bidikmisi kan” Rangga mencoba memberikan saran.

“Awal semester aku udah pernah coba daftar tapi nggak lolos.”

“Coba ngajuin lagi Div barangkali bisa. Cari jalan keluar bareng-bareng.”
Seketika aku tersentuh, ternyata masih ada orang baik seperti Rangga.

“Kalau nggak coba ngajuin keringanan aja Div, jangan pengunduran diri.”

“Tapi kan aku juga harus mempertimbangkan biaya kost sama buat makan sehari-hari juga Rang. Apa aku sambil kerja part time aja yah Rang.”

“Beneran mau sambil kerja?”

“Kalau ada si aku mau, biar aku tetep bisa kuliah.”

“Tanteku ada lowongan part time Div, di apotek. Kalau kamu mau nanti aku ngomong ke tanteku.”

“Beneran Rang?” Aku mencoba memastikan.

“Beneran. Besok aku antar kamu pulang untuk mengurus berkas-berkas pengajuan keringan biaya kuliah sekalian antar kamu ketemu tanteku ya.”

“Engga usah, besok aku urus berkasnya sendiri aja. Besok kan ada kuliah, aku izin aja besok. Baru anterin aku ketemu tantemu setelah kamu selesai kuliah.”

“Engga, besok aku jemput kamu jam 7 lebih ya. Disiapin yang mau dibawa pulang.”

“Aku ngga enak ngerepotinn kamu terus Rang.”

“Nggak ada yang direpotin.”

“Beneran nggak papa?”

“Nggak papa, sekarang kamu istirahat, aku pulang dulu. Udah sore.” Rangga pamit.
“Oke, hati-hati dijalan.”

Besoknya sesuai rencana Rangga jemput aku di kost-san. Saat hendak mau naik motornya, tiba-tiba Rangga mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Coklat kesukaanku.

“Ini buatmu. Semangat ya, kamu pasti bisa.” Rangga menyodorkan coklat kepadaku.

“Yampun sampai dibeliin coklat segala, makasih banyak loh Rang.”

“Iyaa, ayo naik.”

Akupun naik motornya. Dan Rangga seketika merarik tanganku dari depan.
“Pegangan.” Katanya.

Jujur pada saat itu jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Perasaan apa ini. Tidak mungkin aku suka dengan teman kelasku sendiri. Aku mencoba membuang pikiran itu jauh-jauh.

Bersambung ke hal 5

Page 4 of 5
Prev1...345Next
Tags: cerpenCerpen Laelatus ZakiyaLaelatus Zakiyasastra
Previous Post

Uhamka Siap Fasilitasi Dosen dan Tenaga Kependidikan untuk Meriahkan Muktamar

Next Post

LazisMu Medan Santuni Nenek Erna Wati

Related Posts

Membaca Humor: dari Sastra hingga Filsafat

Membaca Humor: dari Sastra hingga Filsafat

15 Mei 2026
127
Pembelajaran Sastra dan Penumbuhan Nilai Karakter

Pembelajaran Sastra dan Penumbuhan Nilai Karakter

2 April 2026
134
Sastra Diuji, Agama Dihafal: Krisis Pendidikan di Kampus yang Kehilangan Makna

Sastra Diuji, Agama Dihafal: Krisis Pendidikan di Kampus yang Kehilangan Makna

25 Maret 2026
145
Keluarga yang Sederhana

Keluarga yang Sederhana

1 Oktober 2023
289
Puisi~puisi Diktar

Puisi~puisi Diktar

30 April 2023
278
Puisi~puisi Lalik Kongkar (2)

Puisi~puisi Lalik Kongkar (2)

26 April 2023
364
Next Post
LazisMu Medan Santuni Nenek Erna Wati

LazisMu Medan Santuni Nenek Erna Wati

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In