TAJDID.ID~Selangor || Kolaborasi akademik antara Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Dua akademisi dari perguruan tinggi Muhammadiyah tersebut mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam forum bergengsi The 12th International Conference on Islamic Civilisation Studies (IConICS) 2026 yang berlangsung di Selangor, Malaysia, pada 10 Juni 2026.
Dalam konferensi yang diikuti oleh para peneliti, akademisi, dan praktisi dari berbagai negara tersebut, Dr. Robie Fanreza dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara berkolaborasi dengan Dr. Ismail dari Universitas Muhammadiyah Jakarta memaparkan paper berjudul “Community Based Extremism Prevention Strategies through Social Media and Religious Moderation Education Based on Asta Cita.”
Penelitian tersebut mengangkat pentingnya peran komunitas dalam menghadapi tantangan penyebaran paham ekstremisme yang semakin kompleks di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam melakukan deteksi dini terhadap potensi penyebaran paham radikal, sekaligus menjadi agen edukasi sosial dan penguatan solidaritas di tengah masyarakat.
Selain itu, penelitian ini menyoroti pemanfaatan media sosial sebagai instrumen penting dalam membangun narasi damai dan memperkuat literasi digital masyarakat. Melalui media sosial, berbagai elemen masyarakat dapat menyebarkan pesan-pesan toleransi, melakukan kontra-radikalisasi, serta membangun ruang kolaborasi yang produktif antarkomunitas.
“Media sosial tidak hanya menjadi ruang interaksi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi publik untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan perdamaian,” ungkap tim peneliti dalam pemaparannya.
Lebih lanjut, penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan moderasi beragama memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter masyarakat yang inklusif. Pendidikan moderasi beragama dinilai mampu menanamkan nilai-nilai toleransi, keseimbangan, penghormatan terhadap keberagaman, serta penolakan terhadap segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama maupun ideologi tertentu.
Menurut para peneliti, implementasi strategi pencegahan ekstremisme berbasis komunitas tersebut sejalan dengan semangat Asta Cita, khususnya dalam memperkuat ideologi Pancasila, membangun sumber daya manusia yang unggul, serta mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan harmonis.
Temuan penelitian ini juga menegaskan bahwa upaya pencegahan ekstremisme tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, serta masyarakat luas agar program pencegahan dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
Melalui forum internasional IConICS 2026, hasil penelitian kolaboratif UMSU dan UMJ ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik sekaligus menjadi rekomendasi kebijakan dalam penguatan ketahanan sosial masyarakat menghadapi ancaman radikalisme dan ekstremisme di era digital.
Partisipasi kedua akademisi tersebut sekaligus menunjukkan komitmen perguruan tinggi Muhammadiyah dalam menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta berkontribusi dalam membangun peradaban yang damai, moderat, dan berkemajuan di tingkat nasional maupun global.(*)
Penulis: RF














