Oleh : Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Dalam pengajian Cabang Muhammadiyah Rambutan Kota Tebing Tinggi tadi, ada pertanyaan menggelitik yang disampaikan kepada saya: sebenarnya apa peran Muhammadiyah?
Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Saya lalu menjelaskan bahwa Muhammadiyah tidak berdiri di atas satu wajah, satu karakter, atau satu cara bergerak. Setiap kita memiliki peranan masing-masing yang berbeda, namun justru saling melengkapi satu sama lain. Ada yang keras dalam prinsip, ada yang sedang dalam pendekatan, ada pula yang lembut dalam merangkul.
Mengurus dan membuat Muhammadiyah itu benar-benar berperan bukan tugas satu orang atau satu kelompok, melainkan kerja bersama kita semua.
Muhammadiyah adalah organisasi besar yang hidup karena keragaman peran. Ia bukan hanya milik mereka yang berdiri di podium, memimpin rapat, atau menandatangani keputusan. Kadang orang terlalu mudah mengukur kontribusi dari apa yang tampak di permukaan, padahal organisasi justru sering bertahan karena banyak tangan yang bekerja dalam senyap.
Ada orang yang perannya menjadi pemikir. Mereka membaca, mengkaji, menimbang arah gerakan, lalu memastikan Muhammadiyah tidak kehilangan orientasi ideologisnya. Mereka mungkin tidak terlalu menonjol dalam keramaian, tetapi dari pikiran-pikiran merekalah lahir gagasan yang menjaga organisasi tetap relevan.
Ada pula yang perannya sebagai penggerak. Mereka aktif mengorganisir kegiatan, menghubungkan banyak pihak, memastikan program berjalan, dan menyelesaikan banyak hal teknis yang sering tidak terlihat. Tanpa tipe seperti ini, banyak ide hanya berhenti di meja diskusi.
Di sisi lain, ada mereka yang menjadi penyejuk. Dalam organisasi, tidak semua persoalan selesai dengan ketegasan. Kadang diperlukan pribadi yang lembut, mampu mendengar banyak pihak, meredakan konflik, dan menjaga agar hubungan antarkader tetap sehat. Orang-orang seperti ini sering tidak dianggap strategis, padahal justru merekalah yang merawat suasana kebersamaan.
Karena itu, saya selalu merasa Muhammadiyah tidak membutuhkan semua orang menjadi sama. Tidak semua harus keras. Jika semua keras, organisasi bisa kehilangan kelembutan. Tidak semua harus lembut. Jika semua terlalu lunak, organisasi bisa kehilangan ketegasan. Tidak semua harus tampil di depan. Jika semua ingin terlihat, siapa yang akan bekerja di belakang layar?
Justru kekuatan Muhammadiyah ada pada kemampuannya menghimpun banyak karakter dalam satu tujuan yang sama.
Inilah yang sering lupa kita sadari. Kadang kita sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Merasa kontribusi kita kecil karena tidak seperti si fulan, atau merasa kurang penting karena tidak memegang posisi tertentu. Padahal dalam organisasi, nilai seseorang tidak selalu ditentukan oleh jabatan, tetapi oleh kebermanfaatannya.
Orang yang menyiapkan konsumsi untuk pengajian punya peran.
Orang yang membersihkan ruangan sebelum acara punya peran.
Orang yang mengisi kajian punya peran.
Orang yang mendampingi administrasi juga punya peran.
Bahkan mereka yang hanya hadir secara konsisten dan menjaga semangat jamaah, sesungguhnya sedang memainkan peran penting.
Muhammadiyah tidak dibangun oleh orang-orang hebat yang bekerja sendiri, tetapi oleh banyak orang biasa yang bersedia menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang peran Muhammadiyah sebenarnya kembali kepada diri kita sendiri: peran apa yang bisa kita ambil agar organisasi ini terus hidup dan memberi manfaat?
Sebab Muhammadiyah tidak menunggu orang sempurna. Ia hanya membutuhkan orang-orang yang mau hadir, mengambil bagian, dan bekerja sesuai kapasitasnya.
Karena membesarkan Muhammadiyah bukan tentang menjadi siapa yang paling menonjol, tetapi tentang memastikan kita tidak menjadi penonton di rumah sendiri. (*)





