TAJDID.ID~Lubuk Pakam 🔳 Semangat ber-Muhammadiyah dan menghidupkan syiar Islam di tingkat akar rumput kembali terpancar kuat di Deli Serdang. Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Lubuk Pakam Pekan sukses menggelar pengajian rutin dua mingguan pada Selasa malam (2/6/2026).
Bertempat di Masjid Taqwa Lubuk Pakam, pengajian yang menjadi urat nadi perkumpulan ini berlangsung khidmat namun penuh kehangatan. Kehadiran jajaran pengurus, anggota, serta simpatisan yang meramaikan ruang utama masjid mencerminkan kokohnya tali silaturahim dan gairah menuntut ilmu yang tak pernah pudar.
Pada kesempatan kali ini, bertindak sebagai shohibul bait (tuan rumah) adalah Bapak Sugiono.
Pesan Ideologis dari “Segi Tiga Emas”
Hadir sebagai penceramah, Ustadz Fachruddin AR Manurung, S.Ag., M.A., menyampaikan tausiah mendalam dengan tajuk yang memantik pemikiran: “Segi Tiga Emas dalam Ajaran Islam.”
Dalam paparannya, Ustadz Fachruddin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Segi Tiga Emas” adalah tiga pilar pilihan utama dalam menjalani kehidupan sebagai seorang muslim, yaitu Iman, Hijrah, dan Jihad. Ketiga konsep ini bukan sekadar teori, melainkan satu kesatuan dinamis yang saling mengikat.
“Prinsip Segi Tiga Emas ini secara tegas termaktub dalam empat ayat Al-Qur’an, yakni QS. Al-Baqarah: 218, QS. Al-Anfal: 72, QS. Al-Anfal: 74, dan QS. At-Taubah: 20,” urai Ustadz Fachruddin di hadapan jamaah.
Lebih lanjut, ia mengupas tuntas bahwa jika seorang muslim mampu mengintegrasikan dan mengimplementasikan “Segi Tiga Emas” ini dalam kehidupannya, Allah SWT menjanjikan enam keutamaan besar, antara lain:
1. Mendapatkan kasih sayang dan ampunan dari Allah SWT.
2. Tumbuhnya dorongan solidaritas, kepedulian sosial, serta sikap saling tolong-menolong (ta’awun).
3. Menjadikan diri sebagai mukmin yang sebenar-benarnya (mukmin haqqa).
4. Dianugerahi rezeki yang mulia dan berkah.
5. Memperoleh posisi yang sangat mulia di sisi Allah SWT.
6. Berujung pada pencapaian kemenangan hakiki (al-falah).
Kontekstualisasi dalam Gerakan Muhammadiyah
Sebagai organisasi gerakan dakwah Islam yang modern dan berkemajuan, Ustadz Fachruddin kemudian menarik benang merah bagaimana Muhammadiyah mengejawantahkan ketiga pilar tersebut dalam khittah perjuangannya:
Pertama, IIman (Akidah): Muhammadiyah sejak awal berdirinya sangat menekankan dan memprioritaskan pemurnian akidah dan penguatan keimanan sebagai fondasi utama setiap kader dan warganya.
“Pengutamaan aqidah ini secara resmi dan tegas tertuang dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) dalam bab Kehidupan Pribadi, dimana setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk istiqomah memurnikan aqidah dari segala bentuk syirik, tahayul, khurafat, dan bid’ah,” jelasnya.
Kedua, Hijrah: Di rahim Muhammadiyah, hijrah tidak dimaknai secara pasif, melainkan sebuah transformasi dan ikhtiar kontinu demi perbaikan, rekonstruksi sosial, dan kemajuan umat.
Ketiga, Jihad (Pengorbanan): Muhammadiyah memandang jihad sebagai instrumen vital untuk membangun dan membesarkan organisasi dari level paling bawah (ranting).
“Spirit jihad dengan harta, tenaga, pikiran, dan jiwa telah mengkristal menjadi tradisi yang tak terpisahkan,” ungkapnya.
Di akhir tausiahnya, Ustadz Fachruddin memberikan refleksi tajam sekaligus sentilan bagi warga persyarikatan agar tidak terjebak pada romantisasi verbal semata. Ia mengutip sebuah pesan ideologis yang sarat makna dari pendiri Muhammadiyah.
“Omong kosong mengorbankan jiwa, kalau berkorban harta saja belum mau,” tegas Ustadz Fachruddin, menyitir nasihat legendaris KH. Ahmad Dahlan.
Pesan menohok ini sekaligus menjadi penutup yang membakar semangat jamaah PRM Lubuk Pakam Pekan untuk terus berkhidmat, berinfak, dan menggerakkan roda dakwah dengan aksi nyata, bukan sekadar kata-kata.
Pengajian pun diakhiri dengan sesi tanya jawab dan pembagian paket konsumsi yang telah disediakan oleh shohibul bait untuk seluruh jamaah pengajian. (*)














