TAJDID.ID~Surabaya 🔳 Diskusi menggali sejarah KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah khususnya ke Surabaya mendapat perhatian serius dari para peminat sejarah dan dakwah.
Demikian disampaikan Dr. Suli Daim selaku Wakil Ketua MPID PWM Jatim, juga anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, saat membuka acara Diskusi Sejarah Jejak KH Ahmad Dahlan di Surabaya, pada hari Selasa (16/6/2026) di Lodji Besar Peneleh Surabaya.
Lanjut beliau, perhatian ini patut kita beri apresiasi, karena menggali sejarah banyak menemukan makna perjuangan, sebagaimana perjalanan KH Ahmad Dahlan dari Yogjakarta ke Surabaya dengan alat transportasi Kereta Api yang saat itu masih sangat terbatas, tetapi KH Ahmad Dahlan dengan kepiawaiannya mampu memanfaatkan jaringan jalur Kereta Api yang tidak hanya ke Surabaya saja tetapi menyebar ke berbagai daerah di Jawa Timur. Pergerakan yang penuh tantangan bagi KH Ahmad Dahlan bukanlah rintangan, justru ada peluang yang sarat makna dalam perjuangan dan dakwah.
Sejarawan Muda Muhammadiyah Azrohal Hasan menguraikan betapa luasnya jejaring dakwah KH Ahmad Dahlan di Surabaya, “Kekuatan persahabatan menjadi media silaturahmi KH Ahmad Dahlan dengan tokoh Keagamaan dan tokoh kebangsaan, seperti KH. Mas Ahmad Marzuki seorang ulama yang sangat berpengaruh di Surabaya khususnya di kawasan Ampel, begitu pula dengan HOS Tjokroaminoto yang berdomisili di kawasan Peneleh sebagai tokoh pergerakan bangsa yang dijuluki Raja Jawa tanpa mahkota, di forum kebangsaan itulah diskusi untuk kesejahteraan digelar hingga turut membesarkan Syarikat Islam”. jelasnya.
Lanjut beliau, progres pergerakan dakwah terus berkembang ketika KH Mas Mansur turut hadir dalam dakwah dan diskusi yang digelar dua maestro pergerakan KH Ahmad Dahlan dan HOS Tjokroaminoto di rumah ayah dari Abdul Latief Zein seorang pengusaha sukses yang rumahnya berhadapan dengan rumah HOS Tjokroaminoto di kampung Peneleh Surabaya, sehingga pada 1 November 1921 KH Ahmad Dahlan datang untuk yang kesekian kalinya guna melantik KH Mas Mansur sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya beserta jajaran pimpinan lainnya, dan terus berkembang dengan lahirnya berbagai Amal Usaha Muhammadiyah seperti sekolah dan poliklinik kesehatan yang mendapat respon positif dari warga Surabaya karena bersifat strategis. Jelasnya.
Suasana malam tidak mengurangi rasa ngantuk ketika Muhammad Khalid AS seorang kader muda yang juga aktif melakukan riset sejarah dan produktif menuliskannya, menjabarkan bagaimana kedekatan Soekarno muda yang kelak menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama dengan KH Ahmad Dahlan seorang ulama yang memilki wawasan keagamaan yang luas dengan sentuhan dakwah yang mencerahkan sehingga aktif mengikuti tabligh KH Ahmad Dahlan di Surabaya.
“Ketika KH Ahmad Dahlan mengadakan tabligh ke Surabaya, saya ngintil atau mengikuti perjalanan dakwahnya diantaranya di kawasan Peneleh, Bubutan, Kapasari dan Ampel”. jelasnya.
Melalui dakwah tersebut Soekarno mendapatkan banyak pelajaran berharga tidak hanya persoalan keagamaan dan kebangsaan juga bagaimana diimplementasikan dalam aksi aksi nyata sebagai wujud kepedulian untuk kesejahteraan masyarakat. KH Ahmad Dahlan bagi Soekarno memiliki metode yang tepat dalam memberikan solusi persoalan sosial, dari prespektif inilah akhirnya Soekarno begitu optimal berjuang untuk rakyat dan bangsanya,” pungkasnya.
Malam yang cerah semakin menambah semangat untuk terus mengikuti diskusi sambil menikmati kopi dan polo pendem peserta tidak beranjak dari tempatnya untuk tetap mengikutinya.
Pada sesi terakhir disampaikan oleh seorang tokoh yang memiliki wawasan luas khususnya tentang Sejarah di kota Surabaya, dengan gayanya yang khas, santai dan luas referensinya, beliau adalah Kuncarsono Prasetyo, selaku Co Founder Begandring Soerabaia. Beliau mencoba menjelaskan bagaimana hubungan KH. Ahmad Dahlan dengan HOS. Tjokroaminoto dalam sinergi gerakan keagamaan dan kebangsaan melalui kolaborasi antara Muhammadiyah dan Syarikat Islam, dalam upaya penguatan ideologi gerakan sekaligus memobilisasi kesadaran untuk berjuang melepaskan jeratan kemiskinan dan ketidakadilan.
Dijelaskannya, ada beberapa hal gerakan Muhammadiyah yang dipengaruhi Syarikat Islam (SI) diantaranya, penataan struktur organisasi modern, pemanfaatan media massa dan pers sebagai alat dakwah, model pertemuan publik massal, internalisasi pembelaan kaum miskin, sistem kaderisasi muda dalam sistem organisasi sendiri, Amal Usaha Muhammadiyah inspirasi NV Setia Usaha Syarikat Islam.
Suasana malam semakin larut sudah mendekati pukul 22.00 acara dilanjut diskusi untuk memberikan pandangan sekaligus masukan guna menemukan jejak perjalanan KH Ahmad Dahlan di Surabaya, diantaranya tentang kemampuan KH Ahmad Dahlan dalam membangun jaringan dakwah, strategi dakwah KH Ahmad Dahlan dalam mengembangkan dakwah Muhammadiyah ditengah masyarakat yang masih terjajah Kolonial Belanda, sehingga beberapa tokoh pergerakan yang ada seperti HOS. Tjokroaminoto, Ir Soekarno, KH Mas Mansur dan lainnya sempat mendekam di penjara, sedang KH Ahmad Dahlan tidak dipenjara meski pergerakannya dalam pengawasan Belanda.
Selesai diskusi acara dilanjut pemberian buku Tokoh Muhammadiyah Surabaya kepada para narasumber yang diberikan langsung oleh Andi Hariyadi selaku Ketua Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya. Dan beberapa peserta sangat tertarik dengan diskusi sejarah seperti ini untuk menemukan spirit perjuangan yang terus kita lanjutkan. (*)
Penulis: Andi Hariyadi














