No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result
Home
Jufri Daily

Jejak Kritis dan Moderat Muhammadiyah terhadap Kekuasaan

by Mujaddid
28 Mei 2026
in Jufri Daily, Kemuhammadiyahan, Muhammadiyah, Nasional, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
0
0
SHARES
22
VIEWS
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

Dalam sejarah Indonesia, Muhammadiyah bukan hanya dikenal sebagai organisasi dakwah dan pendidikan, tetapi juga memiliki jejak panjang dalam mengawal kekuasaan. Menariknya, sikap Muhammadiyah terhadap negara sering berada di antara dua kutub: kritis tetapi tetap moderat. Tidak terlalu dekat hingga kehilangan independensi, namun juga tidak memilih jalan konfrontasi yang berlebihan.

Muhammadiyah sejak awal lahir bukan organisasi politik praktis. Ia lahir sebagai gerakan pembaruan sosial-keagamaan. Tetapi karena agama tidak pernah benar-benar bisa dipisahkan dari kehidupan publik, maka Muhammadiyah akhirnya selalu bersentuhan dengan kekuasaan. Dari zaman kolonial, Orde Lama, Orde Baru, hingga era reformasi, relasi itu terus berubah mengikuti zaman.

Pada masa penjajahan Belanda, Muhammadiyah memilih jalur pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan umat. Itu sebenarnya juga bentuk kritik sosial. Ketika rakyat tertinggal dalam pendidikan dan kesehatan, Muhammadiyah hadir membangun sekolah, rumah sakit, dan gerakan sosial. Kritiknya tidak selalu berbentuk pidato keras, tetapi diwujudkan dalam kerja nyata. Di situlah salah satu watak moderat Muhammadiyah terlihat: memperbaiki keadaan tanpa harus selalu gaduh.

Namun moderat bukan berarti diam. Dalam banyak momentum sejarah, Muhammadiyah tetap menunjukkan sikap kritis terhadap kekuasaan. Ketika negara dianggap terlalu jauh dari kepentingan rakyat, suara-suara dari tokoh Muhammadiyah sering muncul mengingatkan pemerintah. Kritik itu biasanya disampaikan dengan bahasa yang lebih teduh, argumentatif, dan berbasis moral. Tidak jarang justru karena disampaikan dengan tenang, kritik itu menjadi lebih tajam.

Sikap Muhammadiyah sejak era Soekarno, Soeharto hingga sekarang harus terus dijaga. Karena Muhammadiyah bukan organisasi yang tugasnya menyenangkan kekuasaan, tetapi mengawal dan mengawasinya. Dalam setiap rezim, Muhammadiyah memiliki tantangan yang berbeda-beda, tetapi garis moralnya tetap sama: berada bersama kepentingan umat, bangsa, dan nilai keadilan. Ketika negara berjalan baik, Muhammadiyah mendukung. Tetapi ketika kekuasaan mulai menjauh dari kritik dan kepentingan rakyat, Muhammadiyah juga harus tetap berani mengingatkan.

Pada masa Orde Baru misalnya, hubungan organisasi Islam dengan negara berada dalam tekanan politik yang tidak mudah. Banyak organisasi memilih aman demi bertahan hidup. Muhammadiyah juga mengalami dinamika itu. Tetapi di tengah keterbatasan ruang kritik, Muhammadiyah tetap menjaga tradisi intelektual dan pendidikan yang melahirkan kesadaran kritis masyarakat. Kampus-kampus Muhammadiyah menjadi ruang lahirnya banyak gagasan sosial dan demokrasi.

Di era reformasi, tantangan berubah. Kekuasaan tidak lagi terlalu tertutup terhadap kritik, tetapi justru sering berusaha mendekati organisasi masyarakat sipil demi legitimasi politik. Dalam situasi seperti ini, menjaga jarak yang sehat dengan kekuasaan menjadi lebih sulit. Banyak tokoh Muhammadiyah masuk ke pemerintahan, partai politik, atau lembaga negara. Itu sah dalam demokrasi. Tetapi publik juga berharap Muhammadiyah tetap memiliki keberanian moral untuk mengkritik ketika kekuasaan mulai menjauh dari keadilan sosial.

Jejak sejarah Muhammadiyah inilah yang harus dipahami oleh generasi muda Muhammadiyah dan Ortom di tengah gempuran pragmatisme kekuasaan yang mulai mencengkeram dari dalam. Kekuasaan bukan untuk dimusuhi, kita tidak boleh apriori. Tetapi kekuasaan juga tidak boleh membutakan mata Muhammadiyah untuk tetap bersikap kritis sekaligus moderat. Sebab ketika organisasi terlalu larut dalam kekuasaan, sering kali keberanian moral perlahan memudar. Kritik menjadi sungkan, dan suara umat kadang kalah oleh kepentingan kedekatan dengan penguasa.

Sekarang, ketika banyak kader bahkan pimpinan Muhammadiyah dan Ortomnya berada dalam pemerintahan, sikap kritis dan moderat Muhammadiyah itu sedang diuji. Independensi Muhammadiyah dengan sendirinya juga sedang diuji. Sebab kedekatan dengan kekuasaan selalu membawa dua kemungkinan sekaligus: peluang untuk memberi manfaat lebih besar kepada rakyat, tetapi juga risiko melemahnya daya kritis organisasi. Dalam situasi seperti ini, Muhammadiyah dituntut tetap mampu membedakan antara kerja sama kebangsaan dengan ketergantungan politik.

Muhammadiyah tidak hanya menghadirkan pejabat, tetapi melahirkan pemimpin. Bukan hanya melahirkan politisi, tetapi negarawan. Di sinilah titik paling krusial dari sikap berkemajuan dan mencerahkan itu. Sebab pejabat bisa lahir karena jabatan, tetapi negarawan lahir karena visi dan keberanian moral. Politisi mungkin berpikir tentang kekuasaan hari ini, tetapi negarawan berpikir tentang masa depan bangsa dan kepentingan rakyat yang lebih besar. Karena itu, kader Muhammadiyah yang berada dalam lingkar kekuasaan seharusnya tidak sekadar menjadi bagian dari sistem, tetapi juga menjadi penjaga akal sehat, etika, dan nurani publik.

Muhammadiyah memiliki tradisi penting: dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Artinya bukan hanya mengajak kepada kebaikan, tetapi juga mengingatkan terhadap penyimpangan. Dalam konteks negara, itu berarti organisasi ini tidak cukup hanya membangun sekolah dan rumah sakit, tetapi juga menjaga nurani publik. Kritik kepada kekuasaan bukan kebencian terhadap negara. Justru kritik adalah bentuk kecintaan agar negara tidak kehilangan arah.

Sikap moderat Muhammadiyah sebenarnya sangat relevan bagi Indonesia hari ini. Di tengah suasana publik yang sering mudah marah, mudah membenci, dan cepat terbelah, Muhammadiyah menunjukkan bahwa kritik tidak harus disampaikan dengan caci maki. Sebaliknya, kedekatan dengan penguasa juga tidak boleh membuat organisasi kehilangan keberanian moral.

Karena itu, jejak Muhammadiyah terhadap kekuasaan bukan jejak oposisi permanen, tetapi juga bukan jejak pendukung tanpa syarat. Muhammadiyah bergerak di tengah: menjaga negara tetap waras, sambil tetap menjaga umat agar tidak kehilangan akal sehat. Di situlah mungkin kekuatan terbesar Muhammadiyah selama lebih dari satu abad — mampu bertahan tanpa kehilangan identitas, mampu dekat tanpa larut, dan mampu kritis tanpa harus menjadi ekstrem. (*)

Tags: Muhammadiyah

Related Posts

Dua Busur Panah Muhammadiyah dari Jawa Tengah
Jufri Daily

Dua Busur Panah Muhammadiyah dari Jawa Tengah

8 Agustus 2026
44
SatuMu: Menyatukan Data, Menguatkan Gerakan Muhammadiyah
Jufri Daily

SatuMu: Menyatukan Data, Menguatkan Gerakan Muhammadiyah

4 Agustus 2026
22
Sinergi Bareng Dewan Pers, PP Muhammadiyah Siap Gelar Hari Pers dan Literasi 2026 di UMJ
Kemuhammadiyahan

Sinergi Bareng Dewan Pers, PP Muhammadiyah Siap Gelar Hari Pers dan Literasi 2026 di UMJ

4 Agustus 2026
6
Menjadi Pimpinan Muhammadiyah adalah Kesediaan untuk Berkorban
Jufri Daily

Menjadi Pimpinan Muhammadiyah adalah Kesediaan untuk Berkorban

24 Juli 2026
40
Mengapa Perkaderan Bukan Pengkaderan
Daerah

Mengapa Perkaderan Bukan Pengkaderan

13 Juli 2026
22
Menjalani Hidup yang ‘Excellent’, Bukan ‘Sok Paten’
Daerah

Menjalani Hidup yang ‘Excellent’, Bukan ‘Sok Paten’

13 Juli 2026
26

Recent Posts

  • Perkuat Ekosistem Digital Kampus, Rektor UMSU Temui Menteri Komdigi Meutya Hafid
  • Jadi Kontingen Terbesar di ASEAN, UMSU Utus 47 Mahasiswa Kuliah dan Studi Pengalaman di Malaysia
  • Menuntaskan Perjalanan, Menjaga Keteladanan
  • Analisis Faksionalisme, Akomodasi Politik, dan Paradoks Pelembagaan: Studi Kasus Partai Golkar Sumatera Utara
  • Memperkuat Karakter dan Pengabdian, FH UMSU Lepas 441 Mahasiswa Peserta KKN 2026

Recent Comments

  1. Waras mengenai Unik dan Edukatif, MuTu Fest Membatik SD Muhammadiyah 1 Bancar Kenalkan Batik Tulis pada Anak TK dan RA
  2. Waras mengenai Unik dan Edukatif, MuTu Fest Membatik SD Muhammadiyah 1 Bancar Kenalkan Batik Tulis pada Anak TK dan RA
  3. Ashsaism mengenai IMM Sumsel Dukung Zaki Nugraha jadi Caketum pada Muktamar IMM XX Palembang
  4. Ay mengenai Temanku
  5. Akuntansi mengenai Dukung Swasembada Pangan Nasional, Penyuluh Pertanian OKUT Normalisasi Saluran Irigasi

Follow Global Journal on:

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

© 2026 JNews – Premium WordPress News & Magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?
Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required.
Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.