Oleh : Jufri
Selesai acara seremonial pengukuhan Rektor dan BPH UMSU, kami berkumpul di kantin FISIP UMSU bersama para Alumni IMM Sumatera Utara. Saya datang ke kantin FISIP ketika di sana sudah ramai para suhu alumni berkumpul sambil diskusi dan mengenang masa lalu. Ketika saya datang, saya ikut nimbrung diskusi ringan dengan suasana seolah kami masih mahasiswa, meskipun di antaranya sudah ada menjadi Dekan, anggota DPRD, pengusaha, bahkan guru besar.
Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika sekat-sekat formal itu seolah runtuh dengan sendirinya. Jabatan seperti ditinggalkan di luar ruang, dan yang tinggal hanyalah kebersamaan yang pernah dibangun dalam proses panjang sebagai kader. Mungkin di situlah letak kejujuran sebuah pertemuan, ketika orang-orang kembali menjadi dirinya yang paling sederhana.
Entah bagaimana pembicaraan sampai kepada kisah ketika Musyawarah Cabang IMM Kota Medan tahun 1999. Ketika itu saya ditugaskan untuk menjemput nasi umat ke daerah Sei Sikambing menggunakan mobil Daihatsu Zebra milik Edi Saputra , yang kemudian menjadi Ketua PC IMM Kota Medan pada saat itu , dan sekarang anggota DPRD Kota Medan . Cerita itu mengalir begitu saja, seperti air yang menemukan jalannya sendiri.
Di tengah cerita, Ketua Fokal IMM Sumatera Utara Ramansyah Sibarani yang sekarang anggota DPRD Sumatera Utara mengatakan bahwa dia juga ikut dalam rombongan kami waktu itu. Tawa pun pecah bersama. Kami seolah kembali ke masa lalu yang indah itu—masa di mana tanggung jawab dijalankan dengan kesederhanaan, dan kebersamaan terasa begitu kuat.
Lucunya, ketika ban mobil itu terlepas, saya yang menjadi sopir dan kawan – kawan waktu itu malah heran mengapa ada ban mobil menggelinding ke arah bengkel mobil, sebelum semua kami sadar bahwa itu adalah ban mobil sebelah kiri kami yang terlepas. Kisah sederhana itu membuat suasana diskusi semakin seru, meski ringan. Dari kejadian kecil itu, kami seperti diingatkan bahwa dalam perjalanan hidup, seringkali kita tidak langsung sadar terhadap masalah yang kita hadapi—bahkan ketika itu bagian dari “kendaraan” kita sendiri.
Setelah itu saya pindah duduk di depan Dekan Fakultas Hukum UMSU, Uda Faisal Piliang, dan mengikuti diskusi atau perdebatan yang diselingi canda antara Bang Hasrat Efendi Samosir dan Zefrizal Kiffung l. “Meski Profesor tetap membumi,” kata saya setengah berteriak. Bang Hasrat dan Zefrizal jika bertemu pasti begitu, kata Uda Faisal, sambil tersenyum. Ya begitulah kader IMM .
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung pelajaran penting. Bahwa setinggi apa pun ilmu dan jabatan seseorang, ada nilai yang tidak boleh hilang: membumi. Sebab justru dari sikap membumi itulah ilmu menjadi hidup dan bermanfaat, tidak hanya tinggi tetapi juga dekat.
Banyak kader alumni IMM lintas generasi yang hadir dalam suasana itu: ada bang Putrama Alkhairi yang sekarang sering dipanggil kiyai Interpreneur, Prof Hasrat, Buya Rafdinal, Faisal, Jahiddin Hidayat Daulay , Zainuddin Gayo Gayo Risfan Maestro Sihaloho , Bang Said, hingga Arnan Lubis ketua PDM Nias , Akhyar ketua PDM Serdang Bedagai , Ketua Wilayah Pemuda Muhammadiyah yang saya panggil Komisyarif—karena selain akrab, kini ia juga seorang komisaris yang tetap sederhana dalam pergaulan dan bernama Muhammad Syarif Lubis . Masih banyak yang hadir dan saya tak ingat namanya.
Pertemuan siang Selasa itu setidaknya membuktikan bahwa kebersamaan dan kenangan masa lalu itu masih berkesan dan terpelihara sampai sekarang. Ia tidak hilang oleh waktu, tidak pudar oleh kesibukan, dan tidak kalah oleh jabatan. Mungkin inilah namanya kader Muhammadiyah berkemajuan dan berkelanjutan, yang tidak hanya tumbuh dalam kapasitas dan posisi, tetapi juga tetap terhubung dalam nilai, ingatan, dan kebersamaan.
Barangkali, dari pertemuan seperti ini kita belajar satu hal penting: bahwa perjalanan hidup bukan hanya tentang sampai di mana kita sekarang, tetapi juga tentang siapa yang pernah berjalan bersama kita. Dan lebih dari itu, bagaimana kita tetap bisa tertawa bersama, bahkan hanya karena sebuah ban yang pernah menggelinding di jalanan Sei Sikambing, puluhan tahun yang lalu. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
Penulis adalah Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi


