Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Titipan Angin dari Lamongan

Mujaddid by Mujaddid
2026/03/25
in Daerah, Esai, Opini
Reading Time: 2 mins read
0
Titipan Angin dari Lamongan
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ Nashrul Mu’minin

 

Bus malam menurunkan aku di perempatan pasar, lalu aku menyeberang ke gang ujung kampung. Dari Jogja ke Lamongan, tujuh jam terasa ringan karena ada alamat rindu yang jelas: rumah beratap genting, pagar bambu, dan pohon jambu yang dulu jadi pos rahasia waktu main petak umpet.

Gerimis baru saja lewat. Bau tanah basah mengikatku pada sore masa kecil, saat aku pulang dengan lutut lecet dan ibu memarahi sambil menyiapkan obat merah. Kampung menyambu tanpa banyak kata—cukup dengan angin yang masuk dari celah daun pisang.

Malam pertama, kami duduk di tikar ruang tengah. Mamaku menyuguh teh terlalu manis, bapaku berkomentar soal berita di TV, dan mbakku mengunci momen dengan video pendek. Kami tertawa untuk hal remeh; haru datang sendiri, mengisi sela sendok beradu piring.

Lebaran kami sederhana: ketupat, opor yang diperbaiki garamnya pagi-pagi, dan kipas angin yang bunyinya seperti mesin jahit nenek. Tapi di ruang sempit itu, aku merasa utuh. Rumah, aku paham lagi, bukan soal ukuran. Ia soal siapa yang mengenali diam kita.

Pagi raya, aku mencium punggung tangan mamaku, menempelkan dahi ke tangan bapak yang mulai keriput. Mbakku merangkum semua jadi bingkai foto dadakan. Di sana, semua jarak menguap—tenggat di Jogja, kiriman uang bulanan, kelelahan yang kusembunyikan lewat telepon.

Kami main ke tetangga, mengunjungi makam kakek, kembali dengan kaki berdebu. Setiap kali aku membantu mamaku menata piring atau menemani bapak mengantar beras ke warung, aku merasa sedang membayar utang yang tak pernah disebut angkanya.

Malam takbir, anak-anak kampung menyalakan petasan di lapangan. Aku duduk di teras, mendengarkan bunyi yang lomba-lomba dengan jangkrik. Fitrah, pikirku, bukan hanya bersih secara ritual; ia juga rasa kembali jadi anak yang tahu letak gelas tanpa bertanya.

Hari-hari setelahnya melambat. Aku mengantar mbakku ke tempat arisan, duduk bengong di pos ronda, memperbaiki engsel pintu yang berderit. Di celah-celah itu sabar dan ikhlas belajar tanpa kuliah: lewat menunggu nasi matang, lewat antre gas, lewat memaafkan salah paham kecil.

Tapi waktu tidak bisa dibujuk. Tanggal 29 tumbuh di kalender, grup kelas berbunyi notif tugas, dan draft tulisanku tidur di laptop. Berat meninggalkan rumah bukan metafora—aku menimbang barang bawaan, mencoba menyisakan ruang untuk oleh-oleh meski yang paling ingin kubawa justru rasa aman yang tak muat di tas.

Malam sebelum berangkat, mamaku membereskan ransel. Bapak menambah uang saku diam-diam; mbakku menyelipkan koyak tiket bus lama “biar ingat jalan pulang”. Kalimat mereka pendek, tapi bagi perantau ia bekal: fonem doa yang hidup lebih lama dari rangkaian nasihat.

Pagi itu aku pamit di depan pintu. Tangan mamaku menggenggam sebentar, bapak mengangguk, mbakku melambaikan tangan sambil menahan senyum. Aku melangkah, menahan keinginan menoleh terlalu sering.

Di stasiun, aku duduk menghadap barat. Kereta datang, pelan awalnya, lalu konstan. Rumah menjauh bersama pohon jambu yang makin kecil hingga hilang di tikungan rel.

Jogja menanti dengan kelas dan revisi. Tapi aku membawa sesuatu: ingatan akan dapur yang hangat, tawa yang gampang pecah, dan ajaran bahwa cinta paling jujur muncul dalam tindakan kecil—teh yang disiapkan, pintu yang dibetulkan, tangan yang menunggu di daun pintu.

Setiap kali perantauan terasa terlalu bising, aku akan mengingat jalan pulang. Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menyentuh alasan kenapa aku bisa pergi: karena ada tempat yang tetap.

Sejauh apa pun langkahku, aku pergi dengan satu keyakinan sederhana. Ada alamat yang tidak pernah berubah, dan itu cukup untuk membuat pergi terasa bukan sepenuhnya pergi. (*)

Previous Post

Alumni Madrasah Ramadan

Next Post

Sastra Diuji, Agama Dihafal: Krisis Pendidikan di Kampus yang Kehilangan Makna

Related Posts

Perkuat Keadilan Ekologis, FH UMSU dan WALHI Nasional Jalin Sinergi Strategis Advokasi Hukum Lingkungan

Perkuat Keadilan Ekologis, FH UMSU dan WALHI Nasional Jalin Sinergi Strategis Advokasi Hukum Lingkungan

30 Juni 2026
108
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Angka Kasus Keracunan Program MBG Terus Meningkat, Ethics of Care: Bukan Sekadar Statistik, tapi Potret Kegagalan Sistemik

Momentum HUT ke-436 Medan, Ethics of Care Desak Pemerintah Fokus Solusi Publik ketimbang Pencitraan

30 Juni 2026
107
UMSU dan Telkom Gelar Pelatihan AI Gemini Academy

UMSU dan Telkom Gelar Pelatihan AI Gemini Academy

30 Juni 2026
103
LPPM UMSU Hadir di Desa Gung Pinto, Wujudkan Pengabdian Nyata untuk Lingkungan, Kesehatan, dan Kemandirian Masyarakat

LPPM UMSU Hadir di Desa Gung Pinto, Wujudkan Pengabdian Nyata untuk Lingkungan, Kesehatan, dan Kemandirian Masyarakat

29 Juni 2026
115
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Next Post
Sastra Diuji, Agama Dihafal: Krisis Pendidikan di Kampus yang Kehilangan Makna

Sastra Diuji, Agama Dihafal: Krisis Pendidikan di Kampus yang Kehilangan Makna

Lawatan Akademik dan Spritual Program Doktor Manajemen UMSU: Tampil di Konferensi Internasional dan Umrah di Tanah Suci

Lawatan Akademik dan Spritual Program Doktor Manajemen UMSU: Tampil di Konferensi Internasional dan Umrah di Tanah Suci

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan