No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Sastra Diuji, Agama Dihafal: Krisis Pendidikan di Kampus yang Kehilangan Makna

1 September 2026
in Esai, Islam, Nasional, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

✍️ Heri Isnaini

Di ruang-ruang kelas kampus hari ini, pengetahuan bergerak cepat, tetapi pemaknaan berjalan lambat. Sebagai dosen, saya sering berhadapan dengan situasi yang ganjil, yaitu ketika mahasiswa mampu menjelaskan teori dengan lancar, tetapi kesulitan menerapkannya dalam kehidupan dirinya sendiri. Mereka hafal konsep, tetapi gagap ketika diminta merasakan makna di sebaliknya.

Di titik ini, pendidikan tampak berhasil secara administratif, tetapi gagal secara eksistensi. Kita mungkin sedang mengajarkan banyak hal, tetapi lupa memaknainya.

Dalam kelas sastra, fenomena ini terasa sangat nyata. Puisi dibedah menjadi perangkat teknis, cerpen direduksi menjadi struktur naratif. Novel dan naskah drama hanya dianalisis melalui strukturnya saja. Mahasiswa belajar menjawab, bukan mengalami.

Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Paulo Freire, pendidikan sejati tidak boleh menjadi “banking system”, yaitu pengetahuan yang hanya disimpan dan diulang, tanpa transformasi kesadaran. Ketika sastra diajarkan hanya sebagai materi ujian, ia kehilangan fungsi emansipatorisnya, yakni fungsi kebebasan cara pandang dan keluasan makna dan kesadaran.

Sastra seharusnya tidak hanya dibaca, tetapi dihayati. Ia bukan sekadar teks, melainkan pengalaman batin yang menghubungkan manusia dengan dirinya dan dengan sesamanya. Namun, di ruang kelas, ia sering mati sebelum sempat hidup dalam imaji para mahasiswa.

Hal yang sama terjadi dalam pembelajaran agama. Mahasiswa mampu mengutip ayat dan hadis, tetapi tidak selalu mampu mengaitkannya dengan kegelisahan hidup yang mereka rasakan. Di sinilah kritik Al-Ghazali menjadi relevan. Ia pernah mengingatkan bahwa ilmu tanpa penghayatan hanya akan melahirkan kekeringan batin. Pengetahuan agama yang tidak menyentuh hati akan kehilangan daya transformasinya.

Dalam konteks kampus, agama sering diajarkan sebagai sistem pengetahuan, bukan sebagai jalan pengalaman. Ia menjadi sesuatu yang diketahui, tetapi tidak untuk jalan kehidupan. Akibatnya, lahir paradoks bahwa religiositas meningkat secara simbolik, tetapi kedalaman spiritual menurun secara drastis.

Sepertinya, persoalan ini tidak berdiri sendiri. Ia terkait juga dengan paradigma besar pendidikan tinggi yang cenderung menekankan rasionalitas instrumental, seperti efisiensi, capaian, dan indikator kinerja. Mahasiswa didorong untuk produktif, kompetitif, dan terukur.

Namun, ruang untuk refleksi sering kali menyempit. Pendidikan menjadi proyek luaran semata, bukan perjalanan batin yang hakiki.

Jika kita kembali pada gagasan Ki Hajar Dewantara, pendidikan seharusnya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Kata “menuntun” di sini penting, ia mengandaikan proses yang hidup, dialogis, dan penuh kesadaran. Namun, dalam praktiknya, pendidikan sering lebih sibuk “mengatur” daripada “menuntun”.

Selanjutnya, muncul pertanyaan, “Apakah masih mungkin mengembalikan jiwa dalam pendidikan?”

Jawabannya tidak terletak pada perubahan kurikulum semata, tetapi pada cara kita menghidupkan proses belajar. Seorang dosen tidak cukup menjadi penyampai materi, tetapi perlu menjadi fasilitator pengalaman.

Dalam kelas sastra, ini berarti memberi ruang bagi mahasiswa untuk merasakan, bukan hanya menganalisis semata.

Dalam kelas agama, ini berarti mengajak mahasiswa berdialog dengan nilai, bukan sekadar menghafalnya saja.

Selain itu, pendidikan perlu menghadirkan ruang sunyi, ruang tempat mahasiswa dapat berpikir tanpa tekanan, merasakan tanpa takut dihakimi, dan bertanya tanpa tergesa-gesa disuguhi jawaban.

Mungkin, krisis terbesar pendidikan kita bukan terletak pada kekurangan materi, melainkan pada kemiskinan makna. Kita telah berhasil membangun sistem yang rapi, terukur, dan produktif dalam melahirkan lulusan, tetapi belum tentu mampu menghadirkan manusia yang utuh. Padahal, sebagaimana diingatkan oleh berbagai tradisi pemikiran (dari pendidikan kritis hingga tasawuf) tujuan akhir pendidikan bukan sekadar mengetahui, melainkan menjadi. Artinya, kita tidak dididik untuk menumpuk pengetahuan, melainkan untuk menjelma darinya.

Jika sastra terus diajarkan tanpa pengalaman batin dan agama terus disampaikan tanpa penghayatan, kampus hanya akan menjelma menjadi pabrik pengetahuan yang sibuk memproduksi jawaban, tetapi miskin penghayatan dan pengamalan yang hakiki. Di ruang-ruang kelas, makna perlahan tergeser oleh target dan kedalaman digantikan oleh kecepatan.

Akibatnya, mahasiswa tumbuh sebagai individu yang cakap secara intelektual, tetapi rapuh dalam menghadapi kegelisahan hidup. Mereka terbiasa menjelaskan dunia, tetapi tidak selalu mampu memahami dirinya sendiri.

Pendidikan kehilangan daya reflektifnya, ia bukan lagi menjadi cermin, melainkan sekadar alat ukur semata.

BACA JUGA

BTN dengan Bijak Jawab Nyanyian Satrio Arismunandar

Fatima Cates, Perempuan Pelopor Islam Inggris yang Terlupakan

Evaluasi Pilkada Langsung, Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah Dukung Langkah Presiden Prabowo untuk Demokrasi yang Lebih Efisien

Pakar Hukum: Polri di Bawah Kementerian Khianati Kemandirian

Kritik Emak-emak Lebih Suka Menggoreng Makanan, Megawati: Apa Tidak Ada Cara untuk Merebus?

Penataan Politik Indonesia

Di titik ini, yang kita perlukan bukan sekadar inovasi metode, melainkan keberanian untuk mengembalikan ruh pendidikan itu sendiri. Sastra harus dihidupkan sebagai pengalaman yang menyentuh rasa dan agama harus dihadirkan sebagai jalan yang menuntun kesadaran. Keduanya bukan pelengkap, melainkan fondasi bagi pembentukan manusia yang utuh.

Barangkali, pertanyaan yang paling mendesak bukan lagi tentang seberapa luas pengetahuan disebarkan, melainkan seberapa dalam ia meresap menjadi kesadaran.

Apa arti limpahan ilmu, jika makna justru menguap dalam keheningan?

Untuk apa bangunan-bangunan pengetahuan ditegakkan, jika di dalamnya manusia tertimbun oleh pengetahuan tersebut?

Dan jika pendidikan tak lagi menjadi petunjuk jalan, lalu ke manakah manusia akan melangkah? (*)

 

Penulis adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Heri sangat menyukai sastra dan kajian atasnya. Tulisan-tulisannya sudah dimuat dalam berbagai media daring maupun cetak.

Tags: agamaHeri Isnainisastra
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia
Daerah

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia

by Mujaddid
5 September 2026
5
Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini
Daerah

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini

by Mujaddid
5 September 2026
8
Julia Kristeva dan Teks yang Tidak Pernah Berdiri Sendiri
Esai

Julia Kristeva dan Teks yang Tidak Pernah Berdiri Sendiri

by Mujaddid
1 September 2026
18
Bahasa, Efisiensi Mesin, dan Kelumpuhan Empati
Esai

Bahasa, Efisiensi Mesin, dan Kelumpuhan Empati

by Mujaddid
1 September 2026
24
Adab Lebih Dulu daripada Artificial Intelligence
Nasional

Adab Lebih Dulu daripada Artificial Intelligence

by Mujaddid
16 Agustus 2026
29
Pesantren Tidak Pernah Kekurangan Teori
Islam

Pesantren Tidak Pernah Kekurangan Teori

by Mujaddid
27 Juli 2026
19
Puisi-puisi Zahra Nur Alfiyah
Nasional

Puisi~puisi Zahra Nur Alfiyah (2)

by Mujaddid
14 Juli 2026
62
Indonesia yang Dibangun oleh Cerita-cerita Kecil
Esai

Indonesia yang Dibangun oleh Cerita-cerita Kecil

by Mujaddid
1 September 2026
16
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

by Mujaddid
28 Juni 2026
18
Mengajarkan Sastra dengan Hidup, Bukan Sekadar dengan Teori
Esai

Mengajarkan Sastra dengan Hidup, Bukan Sekadar dengan Teori

by Mujaddid
1 September 2026
23

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Pemuda Muhammadiyah Sumut Desak Investigasi Total Kebakaran PT Evyap di Sei Mangke
  • Muhammadiyah Telah Melayani 7.225 Penyintas Gempa Bumi NTT
  • Lazismu Himpun Dana Bantuan Rp 6 Miliar untuk Korban Gempa NTT
  • Dosen UMJT Ingatkan Mitigasi Penyalahgunaan Kekuasaan dalam RUU Perampasan Aset
  • Dosen Ilmu Lingkungan UMJT Madiun: Efek Kebakaran Hutan Harus Diwaspadai
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia
Daerah

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini
Daerah

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini

Alumni PTM Garda Terdepan Islam Berkemajuan
Muhammadiyah

Alumni PTM Garda Terdepan Islam Berkemajuan

Konten Kreator ‘Parmitu’
Daerah

Konten Kreator ‘Parmitu’

Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM
Daerah

Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Daerah: Pemda Gali Potensi Pengelolaan Usaha Daerah
Daerah

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Daerah: Pemda Gali Potensi Pengelolaan Usaha Daerah

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.