Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Melawan Keheningan Arsip: Mengapa Raja Sang Naualuh Damanik Lebih dari Sekadar Memori Lokal?

Mujaddid by Mujaddid
2026/03/30
in Daerah, Nasional, Opini, Ulasan
Reading Time: 2 mins read
0
Melawan Keheningan Arsip: Mengapa Raja Sang Naualuh Damanik Lebih dari Sekadar Memori Lokal?
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ Shohibul Anshor Siregar

 

Kota Pematangsiantar baru saja meresmikan Monumen Raja Sang Naualuh Damanik setinggi 12 meter pada April 2025, menandai akhir dari perjalanan panjang pembangunan yang sempat terbengkalai sejak 2011 .

Namun, di balik kemegahan perunggu tersebut, muncul sebuah tantangan intelektual yang provokatif: benarkah Sang Naualuh adalah tokoh sejarah yang signifikan, ataukah ia hanyalah “konstruksi modern” yang lahir dari tradisi lisan karena namanya dianggap “senyap” dalam arsip resmi Belanda?

Argumen mengenai “keheningan arsip” (archive silence) menyatakan bahwa ketiadaan nama Sang Naualuh dalam survei etnografi atau catatan landraad (pengadilan) kolonial adalah bukti negatif atas ketidakberadaannya sebagai aktor politik besar.

Namun, perspektif ini berisiko terjebak dalam bias historiografi kolonial yang sering kali menggunakan penghapusan administratif sebagai alat untuk memarjinalkan lawan politik yang dianggap berbahaya.

Penelitian sejarah yang lebih mendalam menunjukkan bahwa “keheningan” tersebut sesungguhnya tidaklah mutlak. Keberadaan Sang Naualuh secara administratif diakui secara formal oleh pemerintah Hindia Belanda melalui Besluit Gubernemen No. 1 tertanggal 24 April 1906, yang memerintahkan pengasingannya ke Bengkalis . Dokumen primer ini adalah bukti hukum yang tak terbantahkan bahwa birokrasi kolonial mengidentifikasi dan mengambil tindakan hukum terhadap sosok Sang Naualuh.

Lebih jauh lagi, konversinya ke agama Islam pada tahun 1901 bukanlah sekadar urusan privat, melainkan sebuah manuver geopolitik yang terdokumentasi untuk membendung pengaruh misionaris Jerman (RMG) yang saat itu mendapat dukungan dari otoritas kolonial.

Sang Naualuh juga tercatat secara konsisten menolak menandatangani Korte Verklaring—sebuah kontrak politik pendek yang mewajibkan raja-raja lokal tunduk sepenuhnya pada kedaulatan Belanda.

Strategi kolonial untuk menguasai Siantar memang tidak selalu melalui kontak senjata besar, melainkan melalui manipulasi hukum di Landraad (pengadilan pribumi). Belanda melakukan taktik “pembunuhan karakter” dengan menuduh Sang Naualuh melakukan pelanggaran moral dan percobaan peracunan pejabat untuk melegitimasi penangkapannya tanpa harus memicu pemberontakan rakyat skala luas .

Sejarawan Anthony Reid dalam studinya menekankan bahwa kompleksitas etnis di Sumatera menuntut adanya identitas “Indonesia” yang baru untuk mengatasi pembelahan masa lalu . Dalam kerangka ini, Sang Naualuh Damanik adalah jembatan penting. Keberaniannya menolak hegemoni Belanda dan visinya dalam merintis pembangunan jalan serta keterbukaan kota adalah bukti bahwa ia adalah aktor politik yang sadar akan dinamika zamannya.

Membangun monumen di Pematangsiantar bukan sekadar tindakan romantisme sejarah atau pencitraan identitas suku. Ini adalah upaya dekonstruksi mandiri terhadap narasi kolonial yang pernah mencoba membisukan perannya.

Pada akhirnya, validitas sejarah seorang pemimpin tidak hanya terletak pada tumpukan kertas di gudang arsip di Den Haag, melainkan pada nilai-nilai keberanian, integritas, dan toleransi yang tetap hidup dan menginspirasi masyarakatnya hingga hari ini. (*)

Tags: Raja Sang Naualuh Damanik
Previous Post

Jelang Vonis Amsal Sitepu, Akademisi Berharap Putusan Jadi ‘Cahaya Keadilan’

Next Post

Wajah Politik Warga Muhammadiyah

Related Posts

Perkuat Keadilan Ekologis, FH UMSU dan WALHI Nasional Jalin Sinergi Strategis Advokasi Hukum Lingkungan

Perkuat Keadilan Ekologis, FH UMSU dan WALHI Nasional Jalin Sinergi Strategis Advokasi Hukum Lingkungan

30 Juni 2026
108
FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
119
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Angka Kasus Keracunan Program MBG Terus Meningkat, Ethics of Care: Bukan Sekadar Statistik, tapi Potret Kegagalan Sistemik

Momentum HUT ke-436 Medan, Ethics of Care Desak Pemerintah Fokus Solusi Publik ketimbang Pencitraan

30 Juni 2026
107
UMSU dan Telkom Gelar Pelatihan AI Gemini Academy

UMSU dan Telkom Gelar Pelatihan AI Gemini Academy

30 Juni 2026
103
LPPM UMSU Hadir di Desa Gung Pinto, Wujudkan Pengabdian Nyata untuk Lingkungan, Kesehatan, dan Kemandirian Masyarakat

LPPM UMSU Hadir di Desa Gung Pinto, Wujudkan Pengabdian Nyata untuk Lingkungan, Kesehatan, dan Kemandirian Masyarakat

29 Juni 2026
115
Next Post
Wajah Politik Warga Muhammadiyah

Wajah Politik Warga Muhammadiyah

Aceh Bukan Laboratorium Eksploitasi: Kritik atas Suara Fachrul Razi dan Jalan Keadilan yang Seharusnya

Aceh Bukan Laboratorium Eksploitasi: Kritik atas Suara Fachrul Razi dan Jalan Keadilan yang Seharusnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan