Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Lebaran Terbelah Dua Hari: Siapa yang Menentukan Langit, dan Siapa yang Menentukan Hati?

Mujaddid by Mujaddid
2026/03/19
in Islam, Muhammadiyah, Nasional, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Lebaran Terbelah Dua Hari: Siapa yang Menentukan Langit, dan Siapa yang Menentukan Hati?
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ Nashrul Mu’minin

Perbedaan Idulfitri tahun ini kembali membuka ruang diskusi yang tak pernah benar-benar selesai. Ketika pemerintah menetapkan 1 Syawal jatuh pada 21 Maret 2026, sementara Muhammadiyah memilih 20 Maret 2026, publik seperti dihadapkan pada dua kalender dalam satu keyakinan yang sama.

Namun sesungguhnya, yang berbeda bukanlah hari rayanya, melainkan cara membaca langit. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menggabungkan hisab dan rukyat, sementara Muhammadiyah berdiri teguh pada hisab murni berbasis Kalender Hijriah Global Tunggal.

Di titik ini, perbedaan bukan sekadar teknis, melainkan filosofis. Rukyat mengandung unsur kehati-hatian, menunggu kesaksian mata terhadap hilal. Sementara hisab menawarkan kepastian melalui angka dan perhitungan yang presisi. Dua pendekatan ini sama-sama lahir dari tradisi panjang keilmuan Islam.

Muhammadiyah melihat bahwa ilmu falak modern telah cukup kuat untuk menjadi dasar penetapan. Ketika secara hitungan hilal sudah wujud, maka tak perlu menunggu terlihat. Inilah bentuk kepercayaan pada sains yang telah berkembang pesat.

Sebaliknya, pemerintah memilih jalan yang lebih moderat. Hisab digunakan sebagai panduan, tetapi rukyat tetap menjadi penentu akhir. Ketika hilal belum terlihat, maka istikmal menjadi pilihan yang dianggap paling aman secara syariat.

Perbedaan ini sering disalahpahami sebagai perpecahan. Padahal, ia adalah hasil dari ijtihad. Dalam tradisi Islam, ijtihad adalah ruang berpikir yang memang memungkinkan lahirnya lebih dari satu kesimpulan.

Yang menarik, setiap kali perbedaan ini muncul, masyarakat selalu terbelah dalam respons. Ada yang santai, menganggapnya biasa. Namun tak sedikit pula yang gelisah, seolah-olah agama sedang berada dalam dua arah yang bertentangan.

Padahal, jika ditarik lebih dalam, keduanya sedang berjalan menuju tujuan yang sama: memastikan ibadah dilakukan dengan keyakinan penuh. Tidak ada yang bermain-main dengan agama dalam hal ini.

Pernyataan Haedar Nashir yang mengajak untuk saling menghormati menjadi kunci penting. Sebab tanpa sikap ini, perbedaan yang ilmiah bisa berubah menjadi konflik yang emosional.

Hal yang sama juga ditekankan oleh Nasaruddin Umar, bahwa Idulfitri seharusnya menjadi momentum mempererat, bukan justru merenggangkan hubungan sosial.

Sayangnya, di era media sosial, perbedaan sering kali dibesar-besarkan. Narasi “yang paling benar” lebih cepat viral dibandingkan ajakan untuk saling memahami. Ini yang membuat perbedaan terasa lebih tajam dari seharusnya.

Padahal, dalam kehidupan nyata, banyak keluarga yang tetap harmonis meski berbeda hari raya. Ada yang salat Id lebih dulu, ada yang menyusul keesokan harinya. Tidak ada pertengkaran, yang ada justru saling menunggu dan menghormati.

Di kampung-kampung, suasana ini bahkan terasa unik. Takbir bisa terdengar dua malam berturut-turut. Anak-anak justru bahagia karena suasana Lebaran terasa lebih panjang. Di sana, perbedaan tidak menjadi masalah, tetapi menjadi warna.

Inilah yang sering dilupakan: bahwa masyarakat sebenarnya lebih dewasa daripada yang dibayangkan. Mereka tahu bagaimana menjaga hubungan, meski pilihan berbeda.

Perbedaan ini juga mengajarkan bahwa agama tidak selalu hadir dalam bentuk keseragaman. Justru dalam keberagaman cara berpikir itulah, Islam menunjukkan keluasan dan fleksibilitasnya.

Jika semua dipaksa sama, mungkin terlihat rapi. Tapi belum tentu bijak. Sebab realitas umat memang beragam, dan Islam memberikan ruang untuk itu melalui ijtihad.

Lebaran seharusnya menjadi titik temu, bukan titik pisah. Ketika seseorang memilih mengikuti pemerintah, dan yang lain mengikuti Muhammadiyah, keduanya tetap berada dalam lingkup iman yang sama.

Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan itu dibawa ke ranah ego. Ketika orang mulai merasa paling benar dan merendahkan yang lain, di situlah nilai Idulfitri mulai terkikis.

Padahal, esensi Lebaran adalah kembali ke fitrah. Fitrah itu bersih, tidak dipenuhi oleh kesombongan atau keinginan untuk menang sendiri.

Maka mungkin, perbedaan tahun ini bukan sekadar soal tanggal. Ia adalah ujian kedewasaan. Apakah kita mampu menghormati tanpa harus setuju, dan menerima tanpa harus menyeragamkan.

Karena pada akhirnya, langit boleh saja dibaca dengan cara berbeda. Tapi jika hati tetap lapang, maka Idulfitri akan tetap menjadi milik kita semua. (*)

Tags: Nashrul Mu'minin
Previous Post

Muktamar: Di Antara Kekuasaan dan Suara Kebenaran

Next Post

Imagine di Idul Fitri 1447 H

Related Posts

Jateng Sabet Juara Umum Putra LPB V Nasional Hizbul Wathan: Bukti Semangat Fastabiqul Khairat

Jateng Sabet Juara Umum Putra LPB V Nasional Hizbul Wathan: Bukti Semangat Fastabiqul Khairat

1 Juli 2026
101
Mahasiswa PPG FKIP UMSU Ikuti Bela Negara

Mahasiswa PPG FKIP UMSU Ikuti Bela Negara

1 Juli 2026
107
Perkuat Keadilan Ekologis, FH UMSU dan WALHI Nasional Jalin Sinergi Strategis Advokasi Hukum Lingkungan

Perkuat Keadilan Ekologis, FH UMSU dan WALHI Nasional Jalin Sinergi Strategis Advokasi Hukum Lingkungan

30 Juni 2026
108
FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
146
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
108
UMSU dan Telkom Gelar Pelatihan AI Gemini Academy

UMSU dan Telkom Gelar Pelatihan AI Gemini Academy

30 Juni 2026
103
Next Post
Imagine di Idul Fitri 1447 H

Imagine di Idul Fitri 1447 H

Shalat Idul Fitri 1447 H Ranting Muhammadiyah Setia Budi, Khotib Soroti Tiga Penyebab Kehancuran Negeri

Shalat Idul Fitri 1447 H Ranting Muhammadiyah Setia Budi, Khotib Soroti Tiga Penyebab Kehancuran Negeri

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
108
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
116
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
117

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan