✍️ Selwa Kumar
Anak Medan, Pegiat Sosial Pecinta Indonesia; PP IKA USU Bidang Seni & Budaya.
1 Syawal 1447H masih terlalu pagi. Tengggg. Lonceng itu berdetak enam kali. Aku Selwa. Aku terbangun tanpa ragu. Mimpi tadi masih menggantung—tentang seorang anak yang menangis meminta ketupat, tentang ibunya yang mengais tong sampah di pagi hari raya. Tapi aku tidak ingin kembali ke sana.
Aku bangkit. Kubasuh wajah. Air dingin itu seperti membuka kesadaran yang lebih dalam dari sekadar bangun tidur.
Hari ini Hari Raya, kata batinku. Aku bersiap, agak-agak rapi diri. Bukan seperti hendak beribadah—aku tahu posisiku—tapi seperti seseorang yang akan menyaksikan sesuatu yang penting.
Aku, Selwa Kumar—bukan Muslim. Namun pagi itu, aku berjalan. Dari rumah di Jalan Tanjung, menyusuri Jalan Teuku Umar, menuju Masjid Cut Meutia, Jakarta Pusat.
Jamaah sudah meluber. Bukan hanya di halaman masjid, tapi sampai ke jalan depan kantor Kharisma dan Hotel Sofyan Cut Meutia.
Aku menyaksikan, sajadah terbentang seperti gelombang manusia. Koran-koran menjadi alas sujud. Udara pagi dipenuhi wangi sabun, parfum, dan sesuatu yang lebih halus—harapan.
Aku berdiri di belakang. Tidak masuk ke shaf. Tidak mengganggu. Hanya menyaksikan.
Takbir menggema. Aku mengangkat ponsel. Merekam. Suara. Gerak. Getarannya.
Tapi perlahan, aku sadar—yang terekam bukan hanya video. Ada sesuatu yang turun ke dalam diri. Ke dalam qalbu. Mengalir ke hati.
Aku tidak lagi sekadar melihat. Aku merasakan. Seolah-olah spirit Idul Fitri itu tidak bertanya siapa aku, tapi langsung mengetuk—masuk tanpa izin, tapi tidak memaksa.
Salat dimulai. Lalu selesai. Aku bergerak sedikit lebih dekat.
Aku ingin menangkap khutbah itu. Aku mengejar suara khutbah—mengejar makna—dari sosok yang kini berdiri di podium: Raden Muhammad Syafi’i. Aku menyapanya santun sebagai nama mulia: Romo.
Aku merekam lagi. Tapi kali ini, aku juga mencatat.
Berikut resume Khutbah Idulfitri 1447 H yang disampaikan oleh Raden Muhammad Syafi’i di Masjid Cut Meutia:
Proses menuju fitri adalah perjalanan hakiki manusia—kembali kepada kesucian diri sesuai tuntunan Allah SWT.
Ramadhan bukan sekadar waktu, tetapi tahapan.
Sepuluh hari pertama adalah fase refleksi. Manusia diminta mengidentifikasi dirinya—menilai sikap, perilaku, dan keputusan hidupnya. Mana yang menyimpang dari perintah Tuhan, mana yang masih lurus.
Sepuluh hari kedua adalah fase turunnya Al-Qur’an—bukan hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi sebagai momen ketika Al-Qur’an seharusnya benar-benar masuk ke dalam qalbu. Tidak cukup dibaca, ia harus mengubah.
Ada penekanan pada 17 Ramadhan—yang sering dipahami sebagai hari turunnya Al-Qur’an. Tapi Romo mengajukan pertanyaan yang menembus:
Apakah Al-Qur’an sudah benar-benar turun ke dalam hati kita?
Sebagaimana firman Allah: “Innahu latanzīlu mir rabbil ‘ālamīn”—sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dari Tuhan semesta alam.
Al Qur’an adalah rahmah. Al Qur’an adalah obat. Penyembuh hati. Penuntun hidup.
Saya, eh, aku akhirnya paham, Idul Fitri bukan sekadar perayaan dan sukaria-makan-makan.
Namun lebih merasuk lebih dalam: adalah momentum kembali kepada fitrah—melalui internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam sikap, perilaku, lelaku kehidupan sehari-hari. Juga, kebijakan bernegara dan cara mencintai Indonesia.
Aku berhenti mencatat. Menarik napas panjang. Aku bukan bagian dari ibadah ini. Tapi aku dan qalbuku tidak bisa menolak maknanya.
Aku berdiri di belakang. Tapi sesuatu telah sampai ke depan—ke dalam diriku.
***
Menjelang siang, aku bergerak lagi. Aku berjalan. Dari hiruk Menteng ke denyut kota. Dari halte ke bus. Dari Blok M ke jalan yang lebih tenang. Tujuanku: Jalan Brawijaya XI No. 25. Sebuah rumah cat putih dengan tenda putih dan aksen biru. Hangat. Terbuka.
Aku menulis di buku tamu: Selwa Kumar — PP IKA USU, Seni dan Budaya.
Di dalam, suasana berbeda. Lebih cair. Lebih manusia. Aku kembali bersua Raden Muhammad Syafi’i. Lalu hadir Muhammad Joni—Bang Joni, Advokat, Sekjen PP IKA USU. Romo adalah Ketua Umum dua periode.
Tak lama, Ramadhan Pohan bergabung. Dia kedan-ku, kawan masa kecilku sekampung di kota Medan.
Kami duduk. Makan lontong Medan. Lalu percakapan mengalir—pelan, tapi dalam. Tentang masjid. Tentang ruang publik. Tentang tulisan Bang Joni—tentang rest area rakyat itu adalah masjid, dari ide ekspedisi masjid yang diluncurkan Wamenag Romo Syafi’i.
Gagasan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi tempat singgah. Tempat manusia merasa pulang, bahkan saat lelah.
Ramadhan Pohan menatap sejenak, lalu berkata: “Itu bukan sekadar tulisan… itu inspirasi. Ide besar.”
Sunyi sejenak. Seperti sesuatu baru saja disepakati tanpa perlu deklarasi.
Romo senyum kala mendengar itu dari dekat dan menambahkan, pelan tapi tegas: “Bukan hanya masjid. Semua rumah ibadah harus jadi ruang publik yang humanis.”
Aku menyimak. Pagi tadi, aku berdiri di belakang—merekam khutbah. Siang ini, aku duduk di dalam—menyaksikan gagasan lahir.
Dua ruang berbeda. Satu makna.
***
Di luar, Jakarta terus bergerak. Di dalam, kami duduk dalam lingkar kecil—berbagi makanan, cerita, dan pikiran.
Aku, Selwa Kumar—yang datang sebagai pengamat—perlahan mengerti: Idul Fitri bukan hanya tentang kembali kepada Tuhan.
Tapi tentang membuka ruang—di hati, di kota, di kehidupan, di negeri—agar manusia bisa kembali menjadi manusia.
Aku. Selwa, menulis bukan karena sok pintar, aku hanya masih mencari yang benar. Ahoooi. (*)






