✍️ Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Ada perjalanan yang tidak sekadar memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga menggerakkan hati untuk melihat makna dengan cara yang lebih jernih.
Kami berangkat pada Jum’at pagi, menempuh jalan menuju Sumatera Barat. Di tengah perjalanan, Sholat Id 1 Syawal kami tunaikan di Tanjung Balai. Lalu perjalanan berlanjut, hingga akhirnya kami tiba di ranah Minang pada hari Sabtu—yang juga bertepatan dengan 1 Syawal. Seakan satu hari raya hadir dua kali dalam satu perjalanan.
Sepanjang lintasan dari Panyabungan menuju Panti, saya menyaksikan suasana Idul Fitri yang begitu hidup. Masjid-masjid dipenuhi jamaah, takbir menggema bersahutan, menghadirkan getaran yang sama: rasa syukur dan kebersamaan. Di wajah-wajah itu, tampak ketulusan yang tidak dibuat-buat—sebuah kebahagiaan yang lahir dari kesederhanaan.
Di jalan, barisan bus ALS (Antar Lintas Sumatera) melintas dan sesekali berhenti. Bus-bus itu membawa para perantau pulang, kembali ke kampung halaman, terutama di Kota Nopan dan sekitarnya. Ada rindu yang panjang di sana, ada cerita yang akhirnya menemukan tempatnya untuk dituturkan.
Di tengah perjalanan itu, batin saya berbisik pelan: Jum’at kemarin kami yang sholat dan bertakbir, hari ini saudara-saudara kami yang sholat dan bertakbir. Allah pasti tersenyum melihat hamba-Nya yang tetap memuji-Nya dalam perbedaan. Dan entah mengapa, batin saya ikut bahagia—sebuah rasa yang sederhana, namun menenangkan.
Perjalanan ini diam-diam mengajarkan sesuatu yang sering kita lupakan: bahwa perbedaan tidak selalu harus diselesaikan, kadang ia cukup dipahami. Dalam konteks Idul Fitri, kita sering terjebak pada perdebatan tentang kapan hari itu dimulai. Padahal, di jalan yang saya lalui, saya justru melihat bahwa hari raya tetap hadir dengan kehangatan yang sama—meski dirayakan pada waktu yang berbeda.
Dua kali menjumpai 1 Syawal bukanlah sebuah kebingungan, melainkan pengalaman batin yang memperkaya. Ia mengingatkan bahwa esensi Idul Fitri tidak terletak pada keseragaman tanggal, tetapi pada kesungguhan hati untuk kembali kepada fitrah—menjadi lebih jujur, lebih lapang, dan lebih peduli.
Di sepanjang perjalanan itu, takbir tidak hanya terdengar dari pengeras suara masjid, tetapi juga terasa dalam langkah-langkah kecil manusia yang saling menyapa. Ada yang berpelukan, ada yang tersenyum, ada pula yang sekadar melambaikan tangan dari kejauhan. Semua itu adalah bahasa yang sama: kita ingin kembali terhubung.
Mungkin, inilah pelajaran paling sederhana sekaligus paling dalam dari perjalanan ini: bahwa hidup, seperti perjalanan mudik, tidak selalu lurus dan seragam. Namun selama kita menjaga arah—menuju kebaikan dan kebersamaan—maka setiap perbedaan akan menemukan tempatnya.
Semoga setiap langkah yang kita tempuh tidak hanya membawa kita ke tujuan, tetapi juga mendewasakan cara kita memandang sesama. Dan semoga Idul Fitri, di mana pun dan kapan pun kita menjumpainya, selalu menjadi ruang untuk saling memahami dan saling menguatkan. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni







