Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Belajar Dewasa dari Perbedaan

Mujaddid by Mujaddid
2026/02/18
in Esai, Islam, Nasional, Opini, Tilikan
Reading Time: 2 mins read
0
Belajar Dewasa dari Perbedaan
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: M. Risfan Sihaloho

Pemred TAJDID.ID

Hidup tak pernah menawarkan keseragaman. Sejak kita membuka mata, dunia sudah penuh dengan warna: warna pikiran, warna keyakinan, warna pilihan, bahkan warna cara mencintai dan membenci sesuatu. Kita tumbuh di tengah perbedaan—dan sering kali justru di situlah kita diuji.

Perbedaan bukanlah gangguan dalam perjalanan hidup. Ia adalah bagian dari desain kehidupan itu sendiri. Yang kerap menjadi masalah bukanlah perbedaannya, melainkan cara kita menyikapinya. Ketika ego lebih dominan daripada empati, perbedaan berubah menjadi ancaman. Ketika merasa paling benar lebih penting daripada mencari kebenaran, dialog berubah menjadi pertengkaran.

Padahal setiap perbedaan pendapat adalah undangan untuk belajar. Ia membuka jendela yang sebelumnya tertutup. Kita mungkin tidak selalu setuju, tetapi kita selalu bisa memahami. Dan memahami adalah bentuk kedewasaan yang lebih tinggi daripada sekadar memenangkan argumen.

Dalam banyak situasi, kita terlalu cepat memberi label: “salah”, “sesat”, “tidak satu frekuensi”, atau “bukan bagian dari kita”. Padahal bisa jadi yang berbeda itu hanya memiliki pengalaman hidup yang tidak sama. Setiap orang berbicara dari latar belakangnya, dari luka dan harapannya, dari pendidikan dan lingkungannya. Kita melihat dunia dari tempat kita berdiri. Maka wajar jika pemandangannya berbeda.

Orang yang benar-benar pandai tidak merasa terancam oleh perbedaan. Ia tidak sibuk memaksakan keyakinannya agar diikuti semua orang. Ia tahu bahwa kebenaran tidak perlu dibentak-bentakkan. Ia juga paham bahwa memaksakan kehendak sering kali hanya menunjukkan ketidakmatangan berpikir.

Kebijaksanaan justru tampak dalam kemampuan berjalan berdampingan dengan mereka yang tidak sepemikiran. Bukan berarti menggadaikan prinsip, melainkan memahami bahwa prinsip pribadi tidak harus menjadi standar tunggal bagi seluruh dunia. Kita bisa teguh tanpa harus keras. Kita bisa yakin tanpa harus merendahkan.

Di era media sosial, perbedaan terasa semakin tajam. Algoritma mempertemukan kita dengan orang-orang yang berbeda pandangan, tetapi sayangnya tidak selalu disertai kedewasaan dalam berdiskusi. Komentar singkat sering kali lebih cepat daripada refleksi panjang. Emosi lebih dulu berbicara sebelum akal sehat mengambil peran.

Karena itu, menerima perbedaan bukan sekadar sikap sosial, melainkan latihan batin. Ia mengasah kesabaran, melatih kerendahan hati, dan memperluas cakrawala berpikir. Setiap kali kita mampu menahan diri untuk tidak menyudutkan orang lain, kita sedang membangun kualitas diri yang lebih matang.

Perbedaan membuat kita kaya—bukan dalam arti materi, tetapi dalam kedalaman rasa dan keluasan ilmu. Kita belajar bahwa hidup tidak sesederhana hitam dan putih. Ada wilayah abu-abu yang membutuhkan kebijaksanaan, bukan sekadar keberanian bersuara.

Kedewasaan sejati terlihat saat kita mampu berkata, “Saya berbeda denganmu, tetapi saya tetap menghargaimu.” Di situlah dialog menjadi mungkin. Di situlah persahabatan tetap terjaga. Dan di situlah masyarakat bisa tumbuh tanpa harus saling meniadakan.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling keras mempertahankan pendapatnya, melainkan siapa yang paling lapang menerima kenyataan bahwa dunia memang diciptakan beragam.

Jika kita mampu menikmati perbedaan dengan hati yang lapang, kita bukan hanya menjadi lebih bijak—kita juga menjadi lebih manusia.

Karena hidup yang kaya bukanlah hidup yang seragam, melainkan hidup yang mampu merangkul keberagaman dengan penuh kesadaran dan kedewasaan. (*)

Tags: KedewasaanPerbedaanTulisan M. Risfan Sihaloho
Previous Post

Ketaatan Tanpa Validasi: Menyikapi Perbedaan Awal Ramadan

Next Post

Catatan Kritis 1 Tahun Duet Rico–Zakiyuddin: Kota Butuh Aksi, Bukan Sekadar Narasi

Related Posts

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
136
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
107
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Kayu Gelondongan dan Hutan Kita

Muktamar Muhammadiyah: Menyalakan Pencerahan, Merawat Demokrasi, Membangun Peradaban

29 Juni 2026
108
Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

29 Juni 2026
104
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
Next Post
Catatan Kritis 1 Tahun Duet Rico–Zakiyuddin: Kota Butuh Aksi, Bukan Sekadar Narasi

Catatan Kritis 1 Tahun Duet Rico–Zakiyuddin: Kota Butuh Aksi, Bukan Sekadar Narasi

Muhammadiyah Perkuat Jaringan Relawan Psikososial Nasional, KawanMu Sumut Resmi Dibentuk

Muhammadiyah Perkuat Jaringan Relawan Psikososial Nasional, KawanMu Sumut Resmi Dibentuk

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
107
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan