Tipologi Kepemimpinan Muhammadiyah
Dalam pengamatan tentang figur-figur ashabiqunalawalun terdapat kecenderungan ajeg (kerap) peran yang secara teoritis bisa membantu pembentukan tipologi para pemimpin masa lalu Muhammadiyah.
Pertama, tokoh dan penggerak yang mahir bertindak sebagai organisatoris dengan kemampuan manajemen, perencanaan, mobilisasi dan pandangan politik yang luas yang untuk sederhananya dapatlah disebut sebagai tipe organisatoris. Orang ini tidak selalu kaya harta namun dapat menghadirkan dana umat untuk proyek apa saja, dan pada akhir hayatnya pun kalau bukan miskin ya hidupnya amat sederhana. H.TA.Lathief Rousydiy, misalnya, adalah salah satu tokoh podium yang selalu amat berhasil mengaduk-aduk emosi “jihad” harta orang-orang Muhammadiyah dalam acara yang lazim disebut GAS (Gerakan Amal Saleh). Orang ini tidak mau korupsi karena tahu keharaman korupsi tersebab bahayanya bagi aqidah dan tatanan sosial dan politik. Tipe ini tidak mesti ulama, tetapi amat disegani oleh para ulama karena tindakan-tindakannya dapat sangat bersesuaian dan bahkan begitu terkedepan memelopori kaji para ulama.
Tipe kedua mungkin dapat disebut ustaz atau guru. Memang kajinya lebih unggul di antara orang rata-rata, meskipun selalu tergantung kepada pemimpin tipe pertama. Jumlahnya lebih banyak, baik yang berasal dari institusi-institusi kekaderan maupun mereka yang autodidak (belajar sendiri).
Tipe ketiga ialah tipa yang berada di antara keduanya atau menggabungkan idealitas keduanya sekaligus. Jadi tipe ketiga ini memiliki interseksi (cakupan) perwilayahan kemampuan antara tipe pemimpin pertama dan kedua. ND Pane ada di sini. Begitu juga H Bustami Ibrahim, Abd Muin Tanjung (Orang tua Feisal Tanjung, mantan Pangab) dan lain-lain.
ND Pane tidak cuma mampu mengajar sebagai guru ataupun ustaz, tak masalah di dalam jama’ah pluralistik maupun di tengah akademisi dan mahasiswa. Tokoh yang pernah menjadi santri ini juga mampu sebagai pemimpin organisasi. Wawasan politik yang mumpuni membuatnya diperhitungkan baik oleh kawan maupun lawan. Tidak mudah diperdaya, apalagi ditipu atau dibodohi.
Berbeda dengan tipe yang lain, katakanlah tipe guru atau ustaz. Ketika ada jama’ah barulah dia berfungsi sebagai pengajar. Tak ada jama’ah, tak ada sekolah, tak ada papan tulis, maka ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Tetapi pemeranan diri sebagai ustaz dan guru ini lebih banyak dalam kamus ketokohan Muhammadiyah, apalagi sekarang ini.
Coba kita lakukan perbandingan. Jika mengacu pada tipologi ekstrim yang dibuat oleh Prof.Dr.Affan Gafar (Guru Besar Politik UGM), tipologi aktivis Muhammadiyah dibagi dua. Pertama, mereka yang aktif dengan motif membesarkan Muhammadiyah sesuai pesan KH A Dahlan “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di dalamnya”, dan tipe kedua bermotif sebaliknya. Jumlah dan pengaruh tipe kedua ini jauh lebih besar, dan mungkin itu jawabannya mengapa saat ini Muhammadiyah mengalami kemunduran pesat. ND Pane menempati kategori tipe pertama.
Penutup
Tahun 1985 atas keresahan degradasi dalam organisasi ini saya memperkenalkan teguran dengan menyebut Muhammadiyah sebagai Aula besar. Dia besar, tetapi hanya berkala. Semangatnya besar, tetapi untuk seremoni belaka. Bagaimana jika di aula besar itu tidak ada seremoni? Jadilah itu sebuah ruangan hampa.
Saya mengajukan hasil penelitian lapangan untuk mendukung konsep Muhammadiyah Aula Besar itu. Amat signifikan populasi sample penelitian saya yang mengaku anggota Muhammadiyah (di Sumatera Utara, saat penelitian saya berlangsung) yang tidak pernah atau jarang membayar iuran wajib, tidak pernah membaca Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, tidak pernah membaca Hasil Keputusan Majlis Tarjih, tidak berlangganan majalah Suara Muhammadiyah, dan tidak ikut pengajian rutin di Ranting maupun di Cabang serta tidak tahu bahasa Arab namun tak memiliki Al-qur’an berterjemah dan atau bertafsir. Orang-orang lebih “dipeluk” Muhammadiyah ketimbang “memeluk” Muhammadiyah. Jika hanya dipeluk oleh Muhammadiyah maka kadarnya hanyalah menjadi sekadar penambah jumlah populasi taqlidisme baru yang justru amat dibenci Muhammadiyah. Tetapi perhatikanlah arus manusia dengan pembelanjaan yang besar sekali untuk Musyawarah Wilayah apalagi Muktamar seperti yang kemaren dilangsungkan di Ngayogyakartahadiningrat.
Tak lama lagi akan dilangsungkan Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara. Aroma politik sudah menonjol sejak beberapa waktu lalu. Ini seperti mengulangi kejadian pada tahun 2005 lalu di Pematangsiantar. Sebetulnya tidak sulit, bahwa tanfiz Muktamar Muhammadiyah satu Abad yang baru lalu akan menjadi lead dalam pengambilan keputusan dalam bentuk implementasi lebih berwarna lokal.
Tetapi perubahan ingin diraih dan ternyata perubahan itu begitu sulit dibayangkan. Mengapa? Tidak lain karena Musyawarah itu tidak melahirkan pemimpin, cuma sekadar memutuskan pilihan di antara sejumlah tokoh.
Baca Juga: Mengenal HR Mohammad Said, Pendiri Muhammadiyah Sumatera Utara
ND Pane sebagai figur adalah sosok pemimpin yang kehadirannya semakin terasa diperlukan saat ini. Kaderisasi telah tak berlangsung baik hingga sosok ND Pane itu menjauh.
Satu catatan pada akhir RTD tahun 2005 yang belum terlaksana sampai kini ialah gagasan studi yang diawali inventarisasi untuk penentuan tokoh-tokoh Muhammadiyah di Sumatera Utara yang dipandang tepat sebagai subjek studi. Ibrahim Sakty Batubara, Kamaluddin Harahap dan Parluhutan Siregar waktu itu berjanji akan mengusahakan dana awal. Prof.Dr.Hasyimsyah Nasution dan Prof.Dr.Ibrahim Gultom dianggap amat kompeten menjadi pengarah studi itu dan orang-orang muda seperti Rafdinal, Hasrat Effendi Samosir, Muhammad Qorib, Nurrahmah Amini, Muslim Simbolon, Aswan Waruwu dan lain-lain seyogyanya akan menjadi pelaksana terdepan. Rencana ini amat baik jika diintegrasikan dengan lembaga pendidikan tinggi, tentu saja.
Penulis adalah Dosen FISIP UMSU, Ketua LHKP PW Muhammadiyah Sumut