Tak bersedia diantar-jemput
Banyak cerita yang menggelikan tetapi penuh pelajaran dari lakon hidup ND Pane. Ketua Umum DPD IMM Sumatera Utara waktu itu Achlaq Shiddiq Abidin Tanjung dan Wakilnya Ibrahim Sakty Batubara pernah menuturkan ketidak-berhasilan membujuk tokoh yang gaya tertawanya menunduk dan nyaris tak terdengar ini.
“Payah berhadapan dengan orang tua itu”, kata Achlaq.
Kedua aktivis IMM ini konon protes ketika aset Muhammadiyah Sumatera Utara berupa Surat Kabar Harian Mercu Suar dialihkan menjadi milik pribadi Bachtiar Chamsyah dan diganti nama menjadi Demi Masa. Itulah salah satu di antara sekian banyak alasan dulu DPD IMM Sumatera Utara menerbitkan tabloid Estafeta. Manajemen yang morat-marit Mercu Suar telah membuat amal usaha ini memiliki hutang yang luar biasa besar dan menurut ND Pane terlalu besar biaya untuk memulihkannya di tengah urgensi yang lain. Akhirnya nasib penerbitan ini sama dengan Kapal Haji milik Muhammadiyah yang berpangkalan di Sibolga, sebagaimana dituturkan oleh almarhum Muyassir Meuraxa dan Ibrahim Sakti Batubara suatu ketika.
Zamrimusy, seorang yang lama bertugas dalam internal organisasi Muhammadiyah Wilayah Sumatera Utara memiliki banyak cerita. Tetapi Anda mungkin tak percaya bahwa ND Pane yang amat sederhana dalam hidup kesehariannya itu bukan saja tak pernah terlihat berbeda penampakan saat berpuasa atau tidak. Mencuci pakaian sendiri, menyeterika dan ikut membantu keluarga berjualan di pasar Petisah adalah keseharian hidup ND Pane.
Baca Juga: Mengenal HR Mohammad Said, Pendiri Muhammadiyah Sumatera Utara
Muslim Siagian, pegawai sekretariat kantor Muhammadiyah Wilayah Sumatera Utara, yang terletak di Jalan Sisingamangaraja Medan, adalah seorang yang sering tak faham pola hidup ND Pane, kecuali dalam 2 hal.
Pertama, bahwa ND Pane merasa tidak nyaman selalu diantar-jemput dari dan ke rumahnya di Jalan Candi kalasan Nomor 14 Medan Baru dengan mobil dinas Suzuki Carry berwarna biru yang dibeli oleh Majlis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah Wilayah Sumatera Utara. Meskipun pada saat itu tercatat pernah 2 kali ND Pane mengalami kecelakaan saat mengenderai sepeda motornya Honda Cup berwarna merah keluaran tahun 1977. ND Pane tahu bahwa dalam soal keuangan memang Majlis ini unggul, tetapi sama sekali itu bukanlah karena kinerja pimpinan Majlis itu. Sekolah Muhammadiyah yang menjadi bidang urusannya pada umumnya adalah jenis amal usaha yang berdiri dan dikelola berdasarkan locally base, dan boleh disebut memiliki orientasi dan kemampuan finansial tanpa harus selalu ada campur tangan dari luar. ND Pane merasa pemilikan mobil oleh Majlis itu berlebihan dan tidak tahu diri dan uangnya pun diperdapat dari setoran setiap sekolah (persentase tertentu dari UKM, Uang Kebaktian Murid) dan dengan menyisihkan sebagian bantuan sekolah yang disalurkan oleh pemerintah.
Sewaktu menjabat Ketua, ND Pane dibantu oleh beberapa sekretaris. Menurut Muslim Siagian, Wakil Sekretaris HM Yunus Hannies-lah pembuat draft surat yang paling jitu. Muslim Siagian selalu dianjurkan untuk berurusan dengan HM Yunus Hannies karena draftnya tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek dan amat informatif sehingga amat mudah difahami oleh siapa pun yang membacanya (baik di kampung maupun di kota). HM Yunus Hannies memang seorang wartawan kawakan. Ada draft Sekretaris dan Wakil Sekretaris yang amat bertele-tele, dan ada draft yang terlalu singkat, yang itu semua membuat ND Pane tidak nyaman meskipun, karena perasaan menenggang, harus selalu menandatanganinya.
Tetapi Muslim Siagian hanya pernah tahu bahwa perubahan tandatangan ND Pane dicatat oleh pejabat Negara dan ada akte notarisnya, tidak tentang alasan mengapa tandatangan itu dirubah. Padahal menurut banyak aktivis tandatangan lama jauh lebih cantik.
Suatu ketika saya bertanya kepada ND Pane. UMSU masih sangat kekurangan tenaga pengajar termasuk dalam bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Tetapi ND Pane segera menjawab: “jika saya menjadi dosen UMSU berarti saya ini kan menjadi anak buah rektor. Bagaimana saya bisa mengawasi UMSU kalau saya menjadi anak buah rektor? Biarlah diatur saja stadium general berkala entah sekali triwulan atau sekali dalam satu semester. Saudara harus faham bahwa perangkapan jabatan seperti itu bukan cuma tak ilmiah, tetapi membuat pengawasan tidak akan pernah berjalan. Selama saya menjadi Ketua Muhammadiyah Wilayah Sumatera Utara, hal itu tidak boleh terjadi dan saya minta untuk selamanya seperti itu”, jelasnya sambil mengarahkan telunjuk kepada saya.
Pada kesempatan itu ND Pane pun menuturkan sejarah pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Berawal dari Kongres Oemmat Islam Indonesia (jika tak salah tahun 1949). Semua dimaksudkan untuk akselerasi pembangunan nasional, sumbangan masyarakat Islam Indonesia untuk bangsa. Berdirilah Universitas Islam Bandung (UNISBA), Universitas Islam Yogyakarta (UII), Universitas Muslim Indonesia (UMI) Ujung Pandang, Universitas Islam Smatera Utara (UISU), dan lain-lain. Saudara pasti menemukan nama-nama besar seperti Mr Mohammad Rum, Mohd Natsir, Kasman dan lain-lain dalam sejarah semua Universitas Islam itu. Itu bukan milik orang-orang, melainkan aset perjuangan umat, tegasnya. Jadi, bayangkanlah jika kini aset itu sering menjadi ajang perebutan di antara para elit.