• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Minggu, Agustus 31, 2025
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Wayang Kulit bagi Muhammadiyah

Budi Nurastowo Bintriman by Budi Nurastowo Bintriman
2022/02/16
in Muhammadiyah, Nasional, Opini
2
Wayang Kulit bagi Muhammadiyah

Budi Nurastowo Bintriman

Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh : Budi Nurastowo Bintriman

Sebatas pengetahuan saya, kesenian wayang kulit sama sekali bukan ciptaan Sunan Kalijaga. Ia lebih merupakan bagian dari peradaban negeri India yang beragama resmi Hindu.

Oleh Sunan Kalijaga, wayang kulit itu dijadikan media untuk menarik atau mengumpulkan umat (ijabah atau dakwah). Nota-bene umat kala itu adalah animisme, dinamisme, dan Hindu. Dakwahnya adalah dakwah Islam. Suatu gambaran yang kompleks.

Di samping dijadikan sebagai media penarik, kesenian wayang kulit secara isi juga disesuaikan sana-sini agar sejalan dengan nilai-nilai keislaman. Bahkan juga agar sejalan dengan nilai-nilai Jawa.

Pada dua poin di atas, tak ada masalah. Bahkan terbilang merupakan gerakan brilian dari Sunan Kalijaga untuk kurun atau masa itu. Profesor Abdul Mu’ti mengistilahkannya sebagai inkulturasi. Semua sepakat itu.

Makanya rupa Islam di tangan Sunan Kalijaga atau bagi wong Jowo, sejatinya Islam adalah sangat shoft. Bahkan bangsa kita inipun bisa “berinkulturasi” terhadap nilai-nilai penjajah Belanda yang berhati dan berlaku jahat.

Proses dakwah Islam Sunan Kalijaga melalui media kesenian wayang kulit belum tuntas, namun segera berganti era atau generasi. Itu semua karena hukum alam.

Wayang yang jelas-jelas kental Hinduismenya, oleh awam kemudian justeru dianggap menjadi seperti “trademark-nya” dakwah Islamnya Sunan Kalijaga. Padahal bukan sama sekali. Di wayang jadi ada “aji-aji” Kalima Sada yang sejatinya kalimat syahadat (Tauhid).

Terhadap sisi-sisi filosofis-teologis lain yang belum “tergarap” oleh Sunan Kalijaga, jika mau jujur, itu pasti menimbulkan masalah bagi muslim khawas-kritis yang mulai tumbuh subur di Indonesia. Misal konsep tentang laku topo nggeni, topo ngebleng, topo mutih, ngelmu kasekten, poliandri dan lain-lain. Itu merupakan persoalan pelik, karena berlawanan dengan makna tauhid.

Gesekan-gesekan terkait pada perihal substansi kesenian wayang sekarang ini menjadi sangat sensitif. Kalangan cerdik-pandai cenderung menghindar dari diskursus ini. Karena perihal ini menjadi ranah yang menakutkan (ngeri-ngeri sedap).

Coba jawab secara jujur, di mana ada kesesuaiannya antara konsep teologis dalam Islam dengan konsep teologis dalam dunia wayang?

Dalam tataran yang paling sederhana, bahwa “pagelaran wayang kulit semalam natas”, jelas itu merupakan laku laghwa. Dengan logika profetik mana laghwa itu bisa kita terima?

Belakangan ini ada tokoh Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti yang “pro” dengan kesenian wayang kulit. Dan itu tentu banyak pendukungnya. Beliau menyatakan, bahwa secara kesejarahan, pengetahuan Khalid Basalamah mengenai kesenian wayang kulit adalah dangkal.

Muhammadiyah sendiri secara kelembagaan sangat akrab dengan tontonan (bukan tuntunan) kesenian wayang kulit. Acara-acara milad di Muhammadiyah sangat sering menghelat pagelaran wayang kulit semalam natas.

Terlepas dari pengetahuan Khalid Basalamah dangkal atau tidak tentang kesenian wayang kulit, mari jika kita hendak membahasnya, kita gunakan analisa-analisa dan argumentasi yang jernih dan bertanggungjawab. Karena kesenian apapun itu, tidak muncul atau lahir di ruang hampa.

Bagi Muhammadiyah sendiri, media untuk menarik atau mengumpulkan umat (dakwah atau ijabah) insya Allah cukup dengan adanya lembaga pendidikan sekolah, kampus, rumah sakit, dan lain-lain maka akan jauh lebih efektif dan efisien. Maka yang ada itu mari kita optimalkan.

Maka bisa jadi, ketika Muhammadiyah masih “berbaik sangka” terhadap ampuhnya penggunaan media kesenian wayang kulit untuk berdakwah, sejatinya sekarang ini, itu adalah mithos belaka. Karena secara faktual kita beda zaman dengan Sunan Kalijaga. Dan lebih dari itu, adakah riset mengenai perihal dakwah itu?

Sunan Kalijaga sangat brilian menginkulturasi kesenian wayang kulit untuk berdakwah. Sedang kita sekarang ini tak melakukan apa-apa terhadap kesenian wayang kulit. Kita jauh turun bobot dan derajatnya dibanding Sunan Kalijaga, di saat menghelat pagelaran kesenian wayang kulit semalam natas.

Pagelaran kesenian wayang kulit yang dihelat oleh Muhammadiyah sudah tak ada nilai-nilai dakwahnya. Atau sebut saja nyaris tak ada. Maka ia tak ada beda dengan tontonan-tontonan kesenian wayang kulit lain di tempat lain.

Wallahu a’lam bishshawwab…(*)

Penulis adalah Kader Muhammadiyah, mubaligh akar rumput, ber-NBM : 576.926
Tags: Budi Nurastowo BintrimanMuhammadiyahWayang
Previous Post

Mantapkan Langkah Persiapan Muktamar, Muhammadiyah Lakukan Audiensi dengan Walikota Solo

Next Post

Webinar Biologi UM Riau: Pentingnya Rehabilitasi Mangrove sebagai Penyangga Kehidupan

Related Posts

Konferensi Mufasir Muhammadiyah Jilid III Dibuka, Tiga Kader Tarjih Sumut Ikut Bergabung

Konferensi Mufasir Muhammadiyah Jilid III Dibuka, Tiga Kader Tarjih Sumut Ikut Bergabung

28 Agustus 2025
182
Pemberian Bintang Mahaputera Sarat Makna Politik Simbolik

Pemberian Bintang Mahaputera Sarat Makna Politik Simbolik

27 Agustus 2025
119
LPCR-PM PP Muhammadiyah dan 1000 Cahaya Gelar ToT Audit Energi, Dorong Dakwah Ramah Lingkungan

LPCR-PM PP Muhammadiyah dan 1000 Cahaya Gelar ToT Audit Energi, Dorong Dakwah Ramah Lingkungan

19 Agustus 2025
110
Manajemen Reputasi Digital Muhammadiyah Perlu Dikelola

Manajemen Reputasi Digital Muhammadiyah Perlu Dikelola

17 Agustus 2025
123
Muhammadiyah dan Danamon Teken MoU untuk Perkuat Ekosistem Digital SatuMu

Muhammadiyah dan Danamon Teken MoU untuk Perkuat Ekosistem Digital SatuMu

23 Juli 2025
115
Haedar Nashir Luncurkan ‘SehatMu’, Platform Digital untuk Integrasikan Ratusan Rumah Sakit Muhammadiyah

Haedar Nashir Luncurkan ‘SehatMu’, Platform Digital untuk Integrasikan Ratusan Rumah Sakit Muhammadiyah

18 Juli 2025
167
Next Post
Webinar Biologi UM Riau: Pentingnya Rehabilitasi Mangrove sebagai Penyangga Kehidupan

Webinar Biologi UM Riau: Pentingnya Rehabilitasi Mangrove sebagai Penyangga Kehidupan

Comments 2

  1. Rohadi says:
    4 tahun ago

    Logikanya nyambung. Terima kasih pencerahanya.

    Balas
  2. Rohadi says:
    4 tahun ago

    Terima kasih atas penjelasannya dan pencerahannya.

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In