Oleh : Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Organisasi pada hakikatnya adalah alat perjuangan. Ia lahir dari gagasan, tumbuh karena harapan, dan bertahan karena manusia yang mengisinya. Karena di dalam organisasi terdapat manusia, maka selain kesamaan tujuan, pasti ada perbedaan pandangan. Bahkan sering kali perbedaan itu dipengaruhi oleh latar belakang, pengalaman, hingga kepentingan yang beragam.
Selama organisasi masih kecil, perbedaan biasanya mudah dikelola. Namun ketika organisasi membesar, menjadi berpengaruh, dan terlihat memiliki potensi memberi dampak, baik secara intelektual maupun sosial, maka perhatian dari luar pun ikut datang. Pada titik inilah ujian sesungguhnya dimulai.
Perbedaan yang tidak dikelola dengan baik dapat berubah menjadi perpecahan. Dari perpecahan lahir dualisme, dari dualisme muncul konflik berkepanjangan. Dalam situasi seperti itu, tidak jarang ada pihak di luar organisasi yang melihat peluang untuk memanfaatkan kondisi tersebut. Mereka mungkin tidak selalu hadir sebagai lawan yang nyata, tetapi cukup dengan memberi ruang, dukungan, atau akses pada salah satu pihak, pelemahan organisasi dapat terjadi secara perlahan.
Fenomena ini bukan hal baru. Ia adalah siklus yang berulang dalam perjalanan banyak organisasi di dunia. Karena itu, organisasi membutuhkan ketahanan internal, ketahanan yang tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga emosional dan ideologis.
Di sinilah kaderisasi memainkan peran yang sangat penting.
Kaderisasi bukan sekadar proses rekrutmen anggota baru. Ia adalah proses menanamkan rasa cinta. Rasa memiliki. Rasa tanggung jawab. Rasa bangga. Sekaligus kesadaran untuk menjaga martabat organisasi di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Kaderisasi itu bisa berbentuk formal dengan kurikulum yang terstruktur. Ada tahapan, materi, evaluasi, dan metode yang dirancang secara sistematis. Namun lebih penting lagi, kaderisasi adalah keterlibatan nyata dalam proses dan kegiatan organisasi yang menumbuhkan ikatan hati dan persaudaraan di dalamnya. Kebersamaan dalam kerja, diskusi, pengabdian, dan pengalaman lapangan sering kali jauh lebih kuat membentuk loyalitas daripada sekadar ruang kelas. Di situlah tumbuh rasa memiliki yang tidak mudah digoyahkan.
Seorang kader yang baik harus mampu menjaga martabat dan kehormatan organisasinya. Ia memahami bahwa organisasi adalah rumah bersama yang harus dirawat, bukan arena untuk melampiaskan ambisi pribadi. Karena itu, ia mampu membedakan kapan saatnya bertanding dalam mekanisme organisasi—beradu gagasan, berkompetisi secara sehat, dan menyampaikan kritik secara konstruktif—dan kapan saatnya bersanding, bekerja sama membesarkan organisasi. Kematangan seperti inilah yang membuat seorang kader tetap terhormat secara pribadi, sekaligus menjaga kehormatan organisasi yang ia perjuangkan.
Kaderisasi yang berkelanjutan—melalui pengajian, diskusi, pelatihan, dan pembinaan—menjadi ruang untuk menyatukan kembali visi, mengingatkan kembali tujuan, serta merawat nilai-nilai dasar organisasi. Tanpa kaderisasi yang hidup, organisasi akan mudah kehilangan ruhnya. Ia mungkin tetap berdiri secara struktural, tetapi kehilangan daya tahan secara moral.
Sejarah panjang Muhammadiyah menunjukkan bahwa dinamika seperti ini bukan sesuatu yang asing. Sejak masa kolonial, Orde Lama, Orde Baru, hingga hari ini, Muhammadiyah juga pernah menghadapi perbedaan, ujian, bahkan tekanan. Namun organisasi ini tetap bertahan karena memiliki tradisi kaderisasi yang kuat dan berkelanjutan. Tradisi yang menanamkan cinta pada gerakan, bukan sekadar loyalitas pada tokoh. Tradisi yang menjaga martabat organisasi di atas kepentingan sesaat.
Kita belajar bahwa organisasi tidak runtuh karena serangan dari luar semata. Ia sering melemah karena rapuh dari dalam. Dan kerapuhan itu lahir ketika rasa cinta memudar, ketika kaderisasi terabaikan, ketika martabat organisasi tidak lagi menjadi prioritas bersama.
Karena itu, kaderisasi bukan kegiatan seremonial. Ia adalah investasi jangka panjang. Ia adalah benteng yang menjaga organisasi tetap tegak, sekaligus kompas yang memastikan perjuangan tetap berada di jalurnya.
Organisasi boleh tumbuh besar. Tantangan boleh semakin kompleks. Perbedaan boleh terus muncul. Namun selama rasa cinta tertanam dan martabat dijaga melalui kaderisasi yang berkelanjutan, organisasi akan selalu memiliki daya tahan untuk melewati zaman. (*)








