Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Gemar Memuji dan Senang Disanjung itu Sama-sama Berbahaya

Mujaddid by Mujaddid
2021/10/09
in Islam, Keislaman, Nukilan, Syahdan
Reading Time: 3 mins read
0
Gemar Memuji dan Senang Disanjung itu Sama-sama Berbahaya
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Syahdan. Sewaktu Khalifah Ali bin Abi Thalib sedang dalam perjalanan menuju Kufah, beliau melewati sebuah kota bernama Anbar. Mengetahui Khalifah melewati kota mereka, para penduduk kota itu — mulai dari pejabat, tokoh masyarakat hingga masyarakat awam — merasa begitu gembira. Mereka begitu antusias menyambut Khalifah.

Menyaksikan kelakuan warga kota tersebut, Khalifah pun berkata: “Mengapa kalian berlarian dan bersorak-sorai? Ada apa gerangan?”

“Ini bentuk rasa hormat yang kami persembahkan kepada para pemimpin kami. Dan ini sebagian dari tradisi kami,” ujar warga kota.

Lantas Khalifah Ali bin Abi Thalib pun menjawab:

“Untuk menghormati seseorang tak mestilah berlebihan seperti itu. Saya khawatir, justru kebiasaan ini bisa membuat kalian menderita di dunia dan membawa kemalangan di hari kemudian,” ujar Ali.

“Hindarilah selalu bentuk praktik semacam ini yang merendahkan dan mempermalukan kalian sendiri. Lagi pula, apa keuntungan dari kebiasaan ini bagi orang-orang yang kalian hormati itu?,” imbuhnya.

Lebih lanjut Khalifah Ali bin Abi Thalib menyampaikan nasehat, bahwa sesungguhnya bukan tidak boleh seseorang memuji atau dipuji, asalkan dilakukan secara bijaksana, proporsional dan tidak berlebihan.

“Memuji seseorang lebih daripada yang ia berhak menerimanya sama saja menjilatnya. Tetapi melalaikan pujian bagi orang yang berhak menerimanya menunjukkan kedengkian” ujar Ali bin Abi Thalib.

*** 

Kisah di atas mengingat kaum muslimin, betapa budaya pujian yang cenderung berlebihan tersebut dapat menjadi bagian dari bencana lidah (min afat al-lisan) yang sangat berbahaya.

Tentang bahaya budaya memuji ini, Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Berhati-hatilah dalam memuji (menyanjung-nyanjung), sesungguhnya itu adalah penyembelihan.” (HR Bukhari).

Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah SAW, lalu seorang hadirin memuji-muji orang tersebut.

Menyaksikan itu kemudian Rasulullah SAW bersabda:

“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulangkali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah SWT dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah SWT.” (HR. Bukhari)

Dalam buku Ihya ‘Ulum al-Din, Imam Ghazali menyebutkan enam bahaya (keburukan) yang mungkin timbul dari budaya memuji atau menyanjung. Diungkapkannya, empat keburukan kembali kepada orang yang memberikan pujian, dan dua keburukan lainnya kembali kepada orang yang dipuji.

Bagi pihak yang memuji, keburukan-keburukan itu berisi beberapa kemungkinan. Pertama, ia dapat melakukakan pujian secara berlebihan sehingga ia terjerumus dalam dusta. Kedua, ia memuji dengan berpura-pura menunjukkan rasa cinta dan simpati yang tinggi padahal sesungguhnya dalam hatinya tidak.

Di sini, ia berbuat hipokrit dan hanya “mencari muka” atau “menjilat”. Ketiga, ia menyatakan sesuatu yang tidak didukung oleh fakta. Ia hanya membual dan bohong belaka. Keempat, ia telah membuat senang orang yang dipuji padahal ia orang jahat (fasik).

“Orang jahat jangan dipuji biar senang, tetapi harus dikritik biar introspeksi,” tegas Imam al~Ghazali.

Sedangkan bagi pihak yang dipuji terdapat dua keburukan yang bisa timbul. Pertama, ia bisa sombong (kibr) dan merasa besar sendiri (‘ujub). Keduanya, kibr dan ‘ujub merupakan penyakit hati yang mematikan.

Kedua, ia bisa lupa diri dan lengah karena mabuk pujian. Menurut Ghazali, orang yang merasa besar dan hebat. Dan bisa-bisa karena melulu dipuji ia akan terlena dan “mabuk”. Akhirnya orang itu pun merasa ketagihan atau kecanduan menerima sanjungan.

Al~Ghazali menegaskan, pujian boleh dilakukan asalkan dapat terhindar dari keburukan-keburukan. Bahkan, terkadang pujian itu diperlukan. Rasulullah SAW pernah memuji Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan sahabat-sahabat beliau yang lain. Namun, pujian beliau dilakukan dengan jujur dan penuh kearifan. Beliau juga sadar betul bahwa pujiannya tidak akan menjadikan para sahabatnya itu sombong.

Agar tidak “mabuk” karena pujian, seseorang perlu mengenali dirinya sendiri. Ia tentu lebih tahu dirinya sendiri ketimbang orang lain yang memuji. Dengan begitu, ia tidak akan lengah, karena sadar tidak semua pujian yang dialamatkan kepadanya sesuai dengan kenyataan.

Jika demikian, lantas apa yang selayaknya kita perbuat ketika mendapat pujian atau sanjungan?

Mungkin kiat Ali bin Abi Thalib bisa kita jadikan pelajaran. Saat banyak mendapat sanjungan, beliau berkata: ”Aku tidak sebagus yang kamu katakan.” Selanjutnya ia berdo,a, ”Ya Allah, ampunilah aku atas perkataan mereka, dan jangan Engkau siksa aku gara-gara mereka. Berikanlah kepadaku kebaikan dari apa yang mereka sangkakan kepadaku.”

Atau kita bisa juga meneladani Abu Bakar ash~Shiddiq yang jika mendapat pujian ia senantiasa berdo’a:

“Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

Atinya: Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka. (HR. Baihaqi). (*)

Tags: bahaya pujianbahaya sanjunganpujisanjung
Previous Post

Puisi~puisi Martiningsih (2)

Next Post

FISIP UMSU Kembali Berangkatkan Mahasiswa Magang Bersertifikat BUMN Batch II 2021

Related Posts

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115
Birrul Walidain di Era Digital: Antara Hormat dan Prinsip

Birrul Walidain di Era Digital: Antara Hormat dan Prinsip

21 Juni 2026
126
Ayo Bantu Masjid Batak Dalihan Na Tolu di Maros

Ayo Bantu Masjid Batak Dalihan Na Tolu di Maros

21 Juni 2026
113
Tiga Ideologi Pembangun dan Penjaga Keluarga

Tiga Ideologi Pembangun dan Penjaga Keluarga

18 Juni 2026
126
Tampil di IConICS 2026 Malaysia, Akademisi UMSU Dorong Penguatan Karakter Pendidikan Agama Islam di Era Digital

Tampil di IConICS 2026 Malaysia, Akademisi UMSU Dorong Penguatan Karakter Pendidikan Agama Islam di Era Digital

17 Juni 2026
113
Farid Wajdi Diamanahi Sebagai Koordinator Tim Hukum Binjai BerDoa

Energi Hijrah

16 Juni 2026
114
Next Post
FISIP UMSU Kembali Berangkatkan Mahasiswa Magang Bersertifikat BUMN Batch II 2021

FISIP UMSU Kembali Berangkatkan Mahasiswa Magang Bersertifikat BUMN Batch II 2021

Pimpinan Komisariat IMM Se Asahan-Tanjungbalai Resmi Dilantik

Pimpinan Komisariat IMM Se Asahan-Tanjungbalai Resmi Dilantik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan