Oleh: Isa Rangga Ningrat
Dalam kehidupan sehari-hari, birrul walidain sering dipahami sebagai kewajiban seorang anak untuk selalu mematuhi orang tuanya. Gambaran yang muncul biasanya adalah anak yang tidak pernah membantah, selalu memenuhi permintaan orang tua, serta berusaha menjaga nama baik keluarga.
Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa perbedaan pendapat dengan orang tua merupakan bentuk ketidaktaatan yang harus dihindari. Akibatnya, sebagian orang memahami bakti kepada orang tua hanya sebatas kepatuhan terhadap setiap perkataan dan keinginan mereka.
Padahal, Islam mengajarkan makna birrul walidain yang lebih luas dan mendalam. Kedudukan orang tua memang sangat tinggi karena besarnya pengorbanan yang mereka berikan sejak anak lahir hingga tumbuh dewasa. Oleh sebab itu, seorang Muslim diperintahkan untuk menghormati, mencintai, dan memperlakukan kedua orang tuanya dengan sebaik-baiknya.
Namun, perlu disadari bahwa perintah untuk berbakti tersebut berasal dari Allah Swt. Dengan kata lain, ketaatan kepada orang tua tidak dapat dipisahkan dari ketaatan kepada-Nya. Prinsip ini penting untuk dipahami agar seseorang tidak salah menempatkan bakti kepada orang tua.
Persoalan menjadi semakin kompleks di era digital seperti sekarang. Arus informasi bergerak sangat cepat dan dapat menjangkau siapa saja tanpa memandang usia.
Jika dahulu seseorang memperoleh pengetahuan dari guru, ulama, atau buku-buku yang jelas sumbernya, kini berbagai pandangan dapat ditemukan hanya melalui layar ponsel. Potongan ceramah, kutipan motivasi, opini pribadi, hingga informasi yang belum tentu benar bercampur menjadi satu.
Kondisi ini tidak hanya memengaruhi generasi muda, tetapi juga orang tua. Akibatnya, perbedaan pandangan dalam keluarga menjadi sesuatu yang semakin sering terjadi.
Dalam beberapa kasus, seorang anak mungkin menemukan bahwa pemahaman tertentu yang diyakini keluarganya tidak sepenuhnya sejalan dengan ajaran Islam yang ia pelajari. Situasi seperti ini sering menimbulkan dilema. Di satu sisi, ia ingin menjaga rasa hormat kepada orang tuanya. Di sisi lain, ia juga tidak ingin mengabaikan keyakinan yang diyakininya benar.
Di sinilah pentingnya memahami bahwa berbakti bukan berarti mengorbankan prinsip-prinsip agama. Seorang anak tetap berkewajiban menjaga adab, tetapi tidak diperintahkan untuk mengikuti sesuatu yang bertentangan dengan syariat.
Pelajaran berharga mengenai hal ini dapat ditemukan dalam kisah Nabi Ibrahim a.s. Al-Qur’an menceritakan bagaimana beliau hidup di tengah masyarakat yang menyembah berhala. Bahkan, ayah beliau sendiri termasuk orang yang membuat dan memperdagangkan berhala tersebut. Meski demikian, Nabi Ibrahim tidak mengikuti keyakinan ayahnya. Beliau tetap mempertahankan tauhid yang diyakininya sebagai kebenaran.
Menariknya, penolakan tersebut tidak dilakukan dengan caci maki atau sikap kasar. Sebaliknya, beliau tetap berbicara dengan lembut dan penuh penghormatan. Kisah ini menunjukkan bahwa menjaga akidah dan menjaga adab bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Dalam kehidupan nyata, perbedaan pandangan antara orang tua dan anak sering kali tidak dapat dihindari. Perbedaan tersebut bisa muncul dalam berbagai hal, mulai dari cara memahami suatu persoalan keagamaan, menyikapi informasi yang beredar di media sosial, hingga menentukan pilihan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kondisi seperti ini, seorang anak sering berada dalam posisi yang tidak mudah. Ia ingin tetap menghormati orang tuanya, tetapi pada saat yang sama juga ingin mempertahankan keyakinan yang diyakininya benar. Jika tidak disikapi dengan bijaksana, perbedaan tersebut dapat memicu ketegangan yang merenggangkan hubungan dalam keluarga.
Karena itu, kemampuan berdialog dengan baik menjadi sangat penting. Seorang anak perlu belajar menyampaikan pendapatnya dengan bahasa yang santun, menghindari nada merendahkan, serta tetap menunjukkan rasa hormat kepada kedua orang tuanya meskipun tidak selalu sepakat dengan mereka.
Selain itu, penting untuk dipahami bahwa berbakti kepada orang tua tidak hanya diwujudkan ketika hubungan sedang harmonis. Justru, nilai birrul walidain sering kali tampak ketika seorang anak mampu menjaga sikapnya di tengah perbedaan dan ujian. Menahan emosi saat berdiskusi, tidak membalas ucapan yang menyakitkan dengan perkataan yang lebih buruk, serta tetap mendoakan kebaikan bagi kedua orang tua merupakan bentuk bakti yang sangat bernilai di sisi Allah.
Sikap seperti ini menunjukkan bahwa seorang anak tidak hanya memahami ajaran agama secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, tujuan dari birrul walidain bukan sekadar menciptakan kepatuhan, melainkan membangun hubungan yang dilandasi kasih sayang, penghormatan, dan keinginan untuk saling membawa kepada kebaikan.
Oleh karena itu, birrul walidain tidak boleh dipahami hanya sebagai ketaatan mutlak terhadap setiap perintah orang tua. Berbakti juga berarti menghadirkan kasih sayang, perhatian, dan penghormatan dalam kehidupan sehari-hari. Menyempatkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka, membantu pekerjaan yang dapat kita lakukan, mendoakan mereka, menjaga nama baik keluarga, serta berbicara dengan tutur kata yang lembut merupakan bagian dari bakti yang sering kali terlupakan.
Pada akhirnya, seorang Muslim dituntut untuk mampu menyeimbangkan antara keteguhan dalam memegang prinsip agama dan kelembutan dalam memperlakukan orang tua. Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai fitnah zaman, keseimbangan inilah yang menjadi salah satu wujud nyata birrul walidain yang sesungguhnya. (*)
Penulis adalah Mahasiswa Program Pendidikan Kader Ulama Tarjih Muhammadiyah dan Aisyiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya












