Periode Penjajahan Jepang
Pada mulanya, Jepang datang dengan membawa hawa persahabatan bagi masyarakat lokal. Jepang pada waktu itu yang bersekutu dengan Nazi Jerman pada era Perang Dunia II, berhasil mengusir belanda tanpa syarat pada 9 Maret 1942. Disinilah dimulai penjajahan Jepang selama kurang lebih 3 tahun.
Kegembiraan masyarakat lokal pada waktu itu dengan datangnya jepang bukan tanpa sebab, selain berhasil mengusir Belanda dan memenjarakan sebagian serdadunya, Jepang juga mengirim pelajar pribumi ke Jepang untuk dididik.
Tapi masyarakat sangat menyadari tujuan Jepang, yang akan menipponkan bangsa jajahannya, dan mengganti agamanya dengan Sintoisme secara perlahan.
Maka dari itu perlawanan keras tetap muncul dimana-mana, selama bukan bangsa sendiri yang mengelola tumpah darahnya, maka semangat perlawanan tidak akan pernah luntur.
Lalu kemudian umat Islam fokusnya terbagi, ada yang berjuang lewat perang fisik, dan ada juga berjuang lewat pemikiran melalui organisasi.
Akhirnya, Jepang membentuk suatu Kantor Urusan Agama Daerah atau Shumubu pada 1944. Disinilah peran aktif Kahar Muzakkar maupun Wahid Hasyim dalam memperjuangkan Islam walaupun dalam pengawasan Jepang.
Karena agitasi dan perlawanan yang terlalu keras, MIAI yang didukung oleh NU dan Muhammadiyah dibubarkan oleh Jepang. Dan Jepang membentuk suatu organisasi baru yaitu Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi dengan KH. Hasyim Asy’ari sebagai pemimpinnya.
Masyumi semakin berkembang dan kokoh , yang menyebabkan Jepang melakukan reorganisasi Shumubu yang bertujuan agar segala permasalahan agama tidak terlalu dipersulit. Dan membuat Masyumi dan Umat Islam lebih leluasa terhadap dakwah atau penyebaran agamanya.
Kemudian setelah Jepang membentuk Masyumi yang bertujuan mempersatukan Nasionalis dan Agamis, Jepang juga membentuk Hizbullah sebagai organisasi kemiliteran untuk pemuda-pemuda maupun rakyat lokal.
Karena desakan terus-menerus dari PD II, Jepang akhirnyamenjajikan kemerdekaan bagi Indonesia dengan dibentuknya BPUPKI.
Ketika semakin terdesak dan dibomnya kota Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945, Jepang semakin melemah dan Fokusnya bukan lagi kepada wilayah jajahannya.
Akhirnya momentum ini dimanfaatkan oleh rakyat untuk memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Bung Karno.
Selama masa penjajahan Jepang, walaupun banyak kekejaman yang dilakukannya, tetapi tidak sedikit juga keuntungan-keuntungan yang didapatkan oleh rakyat Indonesia.
Arah politik Jepang pada waktu itu sebatas memobilisasi massa untuk kepentingan perang Asia Timur Raya, beda halnya dengan Belanda yang menindas rakyat dengan mengeksploitasi SDA Indonesia. Karena tujuan itulah, Jepang memberikan kesempatan yang terbuka lebar bagi para golongan Islam dan Nasionalis Sekuler untuk berpolitik maupun berlatih militer dan sebagainya.
Tapi walaupun begitu, kejahatan-kejahatan Jepang yang pernah dilakukan, tetap susah untuk dilupakan.
Periode Orde Lama
Setelah di proklamirkannya Kemerdekaan Indonesia oleh Bung Karno , semua masyarakat dari berbagai lapisan dalam keadaan bergembira dan merayakan hari bersejarah itu
Tapi itu tidak lama, banyak PR besar yang harus di selesaikan oleh pemimpin-pemimpin nasional kala itu. Seperti dasar negara, bentuk pemerintahan, bahkan kedatangan kembali kolonial Belanda.
Setelah jalan panjang mencapai dasar negara yaitu Pancasila pada 1 Juni 1945, akhirnya Panitia Sembilan melengkapi rumusan dokumen penetapan dasar negara tersebut pada 22 Juni 1945, salah satu diantaranya ialah Piagam Jakarta sebagai Mukaddimah atau Pembukaan UUD 1945.
Tapi poin atau sila pertama dari Piagam Jakarta itu, mendapatkan penolakan dari utusan Indonesia Bagian Timur. Yang bunyinya “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”
Lalu Bung Hatta pada sidang pertama PPKI 18 Agustus 1945 mengusulkan sila tersebut dengan “Ketuhan Yang Maha Esa”. Dan semuanya sepakat.
Selain pada pembentukan dasar negara itu, dan Agresi Militer Belanda yang berakhir 1949. Banyak pemberontakan-pemberontakan yang terjadi, salah satunya yaitu DI/TII pimpinan S.M Kartosoewiryo yang bertujuan mendirikan Negara Islam.
DI/TII merupakan perjuangan yang paling terlama ditumpas karena masyarakat pada waktu itu juga mendukung, dan Daud Beureueh di Aceh, Amir Fattah di Jawa Tengah, Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, dan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan ikut bergabung dengan DI/TII Jawa Barat Pimpinan Kartosoewiryo. DI/TII bertahan dari 1949-1962.
Lalu Partai Masyumi yang sebelumnya populer, bahkan anggotanya pernah menduduki jabatan Perdana Menteri seperti M.Natsir, Sukiman Wirdjosandjojo, dan Burhanuddin Harahap. Kemudian menjadi nomor dua di Pemilu 1955 dan memperjuangkan Islam dlsebagai dasar negara di Konstituante. Akhirnya dibubarkan bersamaan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1960 oleh Bung Karno-karena dianggap anggotanya terlibat pada pemberontakam PRRI.
Untuk ranah Pendidikan Islam, pada masa orde lama adalah berkembangnya Madrasah-Madrasah, Masuknya pelajaran agama di Sekolah Umum bahkan swasta, Perguruan Tinggi Islam dan lain-lain. Peran Muhammadiyah bahkan NU sangat terasa pada era ini, apalagi terkait pesantren-pesantren bahkan perjuangan dakwah oleh kalangan kepemudaan.
Tapi ketika tahun 1949-1965 dimana era Demokrasi Terpimipin yang semuanya di bawah komando Presiden Soekarno, banyak pemikir Islam yang ditahan akibat terlalu kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah diantaranya Buya Hamka, Syarifuddin Prawinegara, Burhanuddin Harahap, dan lain-lain.





