No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Webinar MAHUTAMA, Prof Atip: Hati-hati dengan “Stick and Carrot” China!

1 Juni 2020
in Muhammadiyah, Nasional
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

TAJDID.ID-Medan || Pakar Hukum Internasional Unpad,  Prof. KH. Atip Latiful Hayat SH LLM PhD mengatakan, bahwa masalah Tenaga Kerja Asing (TKA) itu terkait dengan paradigma ketatanegaraan, karena memang satu negara tidak bisa terlepas dari relasinya dengan negara lain.

Untuk Indonesia, Prof Atip mengungkapkan, bahwa di dalam konstitusi UUD 45 hanya ada 1 pasal yang mengatur soal hubungan internasional, yakni Pasal 11 UUD 45.

“Mengapa cuma 1 pasal? Hal ini disebabkan para fonding father kita memiliki sikap yang sangat hati-hati terhadap asing, karena pengalaman bangsa Indonesia sebangai bangsa yang pernah dijajah,” ungkapnya dalam acara Webinar Nasional: “Kontroversi Kedatangan TKA Pada Masa Pandemi Dalam Perspektif Ketatanegaraan” yang digelar Masyarakat Hukum Tata Negara (MAHUTAMA) pada Sabtu (16 Mei 2020) jam 13.00-15.00 WIB

Kemudian, lanjutnya, ada satu hal yang harus dipahami, terutama kaitannya dengan mengapa demikian sensitifnya soal TKA dari China.

Prof Atif menegaskan bahwa hal ini sama sekali masalah rasisme, tapi lebih kepada masalah dominasi dan hegemoni, yang mana pemerintah itu tidak paham atau tidak mau tahu. Hingga akhirnya ada kesan jika menyebut China langsung dituding rasis, pada hal ini lebih persoalan dominasi dan hegemoni.

“Dan yang namanya kolonialisme aqidahnya adalah dominasi. Artinya, tidak ada kolonialisme tanpa dominasi,” tegasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam hukum internasional ada beberapa prinsip yang harus dipahami.

Pertama prinsip reciprocity. Artinya dalam relasi internasional itu harus  timbal balik yang kemudian diikat dalam hukum. Tidak boleh pemerintah melakukan satu relasi internasional dengan mengabaikan reciprocity.

“Nah, sekarang terkait TKA dari China reciprocity-nya tidak ada, apakah tenaga kerja kita kesitu, tidak ada. Bahkan yang terjadi pada proyek China itu semua dari mereka, mulai dari alatnya dan orangnya. Jadi sebenarnya kita tidak sedang membangun ekonomi nasional, tapi sedang menonton,” sebutnya .

BACA JUGA

Fakultas Hukum UMSU dan Kejari Medan Sepakat Bangun Kerjasama

Kantor Layanan Lazismu Perumnas Medan II Salurkan Bantuan “Indonesia Siaga”

Kisah Si Cerdik Taklukkan Si Cerdas

MIS Muhammadiyah Marubun Jaya Tanah Jawa Studi Tiru ke SD Muhasaba

Dosen Muda Raih Hadiah Utama UMMAD EduRide

Perkuat Sinergitas, Fakultas Teknik UMSU dan HMJ Gelar Silaturraim dan Buka Puasa Bersama

Kedua, asas non-permenbelity, artinya tidak boleh ada kedaulatan kita yang dimasuki. Asas non-permenbelty itu sudah sangat sensitif sekali, apalagi dalam kondisi pandemi sekarang ini.

“Apa yang terjadi sangat menonjok perasaan. Disaat rakyat di suruh di rumah saja, 500 TKA China justru mau dibiarkan masuk begitu saja tanpa ada penjelasan yang rasional. Mereka pikir rakyat Indonesia itu bodoh,” tukasnya.

Satu lagi yang penting diketahui, kata Prof Atif, adalah watak negara (state behaviour)  China itu dalam berhukum internasional tidak mau dalam kerangka multiliteral. Artinya, China lebih suka dengan hubungan bilateral dengan mengandalkan stick and carrot.

“KIta tentu masih ingat dengan kasus perseteruan China dengan Filipina soal Laut China Selatan. Waktu itu China begitu marah kepada Filipina, karena adanya indikasi campur tangan negara lain (Asean). China ingin menyelesaikan peroalan mereka secara bilateral, dan akhirnya dia menggunakan stick and carrot untuk memecahbelah Asean,” jelasnya.

Prof Atif mengingatkan supaya Indonesia berhati-hati berhubungan dengan negara yang state behaviour cenderung lebih menyukai bilateral dan mengandalkan stick and carrot.

“Karena nanti suatu saat jika Indonesia ingin menunjukkan independensi dan kedaulatannya, maka ia akan mainkan carrot-nya,” katanya.

Namun meskipun demikian, kata Prof Atip,  bukan berarti kemudian TKA itu menjadi haram. Menurutnya ada 3 filosofi TKA yang mesti dipenuhi, yakni mendatangkan investasi, alih teknologi dan alih keahlian.

“Pertanyaanya kemudian, apa betul terkait dengan investasi? Apa lagi dalam kondisi pandemi sekarang. Kemudian alih teknologi, saya rasa itu cuma bunga-bunga bahasa yang sampai sekarang tidak pernah ada. Terlebih terkait proyek China itu bukan alih teklnologi namanya, buktinya orang-orangnya pun berasal dari china semua . Kemudian alih keahlian, apanya alih keahlian? Faktanya TKA yang datang itu cuma buruh kasar,” ungkapnya.

 

Rakyat Indonesia Pekerja Keras

Selain itu, Prof Atif menilai, pemerintah sepertinya kurang memahami kondisi yang sebenarnya terjadi, dimana potret ekonomi dalam negeri sudah sedemikian dikuasai oleh kelompok tertentu.

Tapi menurutnya itu tidak masalah. Justru yang jadi masalah adalah stigmatisasi yang mendiskreditkan rakyat Indonesia tidak pekerja keras atau pemalas.

“Rakyat Indonesia sangat pekerja keras dan tidak pemalas. Tapi regulasi tidak memberikan proteksi. Menurut saya tidak ada keberesan dalam konteks ekonomi nasional itu tanpa ada peran regulasi dari pemerintah yang memberikan peluang untuk itu,” sebutnya.

“Mereka tidak paham sekeras apapun kita bekerja, tapi kalu regulasi mengkerangkeng tidak akan mungkin berkembang. Apakan dengan UU Minerba yang penuh kontroversi yang kemaren diputuskan, rakyat Indonesia akan mendapatkan apa dari situ ? Tidak dapat apa-apa sama sekali,” tambahnya.

Kemudian Ia membandingkan yang berlaku di Malaysia, dimana pemerintahnya membuat new economy policy dengan memberikan semacam privilege kepada bangsa Melayu

“Itu diperlukan, supaya ada keadilan yang proporsional dalam berkompetisi dan itu bukan sebuah diskriminasi. Hukum itu mengenal eksepsi dan eksepsi itu dibuat dalam rangka proteksi,” tegasnya.

Diakhir paparannya, ia menghimbau pemerintah dalam bernegara menggunakan manajemen yang rasional.

“Jangan menganggap rakyat itu bodoh murakkab, artinya menganggap rakyat itu kepentingannya cuma  soal perut semata,”tutupnya. (*)

Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Budak Tahta (Buta)
M. Risfan Sihaloho

Budak Tahta (Buta)

by Mujaddid
7 September 2026
5
Korban Dugaan Kriminalisasi, Nenek Marlina Diputus Lepas oleh Hakim di PN Lubuk Pakam
Daerah

Korban Dugaan Kriminalisasi, Nenek Marlina Diputus Lepas oleh Hakim di PN Lubuk Pakam

by Mujaddid
7 September 2026
7
Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan
Jufri Daily

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan

by Mujaddid
7 September 2026
3
50 Petugas LazisMu Sumut akan Ikuti Program Akademi Jurnalistik Filantropi
LazisMu

50 Petugas LazisMu Sumut akan Ikuti Program Akademi Jurnalistik Filantropi

by Mujaddid
7 September 2026
2
KKN Tematik UMSU Ajak Kaum Ibu Desa Sicanggang Bijak Bermedia Sosial
Daerah

KKN Tematik UMSU Ajak Kaum Ibu Desa Sicanggang Bijak Bermedia Sosial

by Mujaddid
7 September 2026
5
PPPK Berpeluang Jadi PNS 2027, Guru Swasta Bersertifikasi Jangan Dianaktirikan
Daerah

PPPK Berpeluang Jadi PNS 2027, Guru Swasta Bersertifikasi Jangan Dianaktirikan

by Mujaddid
7 September 2026
18
PC IMM OKU Timur Dorong Mahasiswa Baru UM OKU Timur Jadi Generasi Kritis dan Peduli Bangsa
Daerah

PC IMM OKU Timur Dorong Mahasiswa Baru UM OKU Timur Jadi Generasi Kritis dan Peduli Bangsa

by Mujaddid
7 September 2026
5
Konsolidasi Gerakan, Pemuda Muhammadiyah Jateng Gelar Rapimwil di Magelang
Daerah

Konsolidasi Gerakan, Pemuda Muhammadiyah Jateng Gelar Rapimwil di Magelang

by Mujaddid
7 September 2026
2
Pelantikan IPM Kids SD Muhammadiyah 03 Pematangsiantar, Cetak Kader Muda Berkarakter dan Berilmu
AUM

Pelantikan IPM Kids SD Muhammadiyah 03 Pematangsiantar, Cetak Kader Muda Berkarakter dan Berilmu

by Mujaddid
7 September 2026
1
Peduli Kaum Duafa SDIT Muhammadiyah Manggeng Kunjungi Kediaman Nenek Rasni
AUM

Peduli Kaum Duafa SDIT Muhammadiyah Manggeng Kunjungi Kediaman Nenek Rasni

by Mujaddid
7 September 2026
27

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Budak Tahta (Buta)
  • Korban Dugaan Kriminalisasi, Nenek Marlina Diputus Lepas oleh Hakim di PN Lubuk Pakam
  • Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan
  • 50 Petugas LazisMu Sumut akan Ikuti Program Akademi Jurnalistik Filantropi
  • KKN Tematik UMSU Ajak Kaum Ibu Desa Sicanggang Bijak Bermedia Sosial
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Budak Tahta (Buta)
M. Risfan Sihaloho

Budak Tahta (Buta)

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan
Jufri Daily

Muhammadiyah Gerakanku: Bergerak dengan Ilmu, Berkemajuan dan Berkelanjutan

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia
Daerah

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini
Daerah

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini

Alumni PTM Garda Terdepan Islam Berkemajuan
Muhammadiyah

Alumni PTM Garda Terdepan Islam Berkemajuan

Konten Kreator ‘Parmitu’
Daerah

Konten Kreator ‘Parmitu’

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.