Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Hindari Kata Rohingya, Aung San Suu Kyi Disebut Ingin Hapus Identitas Etnis Minoritas

Mujaddid by Mujaddid
2019/12/20
in Internasional
Reading Time: 2 mins read
0
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

TAJDID.ID || Ada yang luput dari pengamatan media saat Aung San Suu Kyi habis-habisan menolak tuduhan Myanmar melakukan genosida, yaitu ia hanya sekali menyebut Rohingya. Dalam 30 menit pidato tertulis di Pengadilan Internasional (ICJ), Suu Kyi mengeluarkan 3.379 kata untuk menggambarkan etnis minoritas yang dibantai bertahun-tahun di negara bagian Rakhine.

Dalam catatan Al Jazeera, Suu Kyi hanya sekali menyebut kata Rohingya saat merujuk pada organisasi perlawanan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). Ia tidak bisa menghindari penyebutan kata itu, karena berkaitan dengan pembelaan terhadap militer Myanmar.

Aktivis Muslim Rohingya dan kritikus mengatakan penolakan menggunakan kata Rohingya adalah bagian upaya Myanmar menghapus identitas minoritas, dan itu hak mereka.

Kaamil Ahmed, jurnalis yang melaporkan Rohingya dan sedang menulis buku, mengatakan; “Orang Myanmar secara rutin menyebut Muslim Rohingya dengan kata Benggala dan Kalars, dua kata yang merujuk pada warna kulit yang gelap.”

Penggunaan Benggala dan Kalars merupakan bentuk penyangkalan terhadap eksistensi Muslim Rohingya sebagai penduduk asli Rakhine. Suu Kyi tidak menggunakan Benggala dan Kalars, tapi menganggap Muslim Rohingya bukan bagian Myanmar.

“Suu Kyi menolak menyebut Rohingya, karena dikalim sebagai istilah polarisasi,” kata Ahmed.

Muslim Rohingya adalah masyarakat etnis dengan populasi satu juta dari 50 juta penduduk Buddha Myanmar. Seluruhnya tinggal di Rakhine, negara bagian termiskin di Myanmar, dan berbicara dialek Bengali.

Mereka tidak dianggap sebagai satu dari 135 kelompok etnis terdaftar di negara itu, dan dikeluarkan dari UU Kewarganegaraan tahun 1982. Akibatnya, Muslim Rohingya adalah masyarakat tanpa negara.

Untuk mendapat kewarga-negaraan, mereka perlu membuktikan bahwa mereka telah tinggal di Myanmar selama 60 tahun. Menariknya, dokumen tidak pernah tersedia untuk menunjukan hal itu. Akibatnya, hak-hak mereka untuk beribadah, belajar, bekerja, bepergian, menikah, dan mengakses layanan kesehatan, dibatasi.

Wai Wai Nu, aktivis Rohingya yang berbasis di Yangon mengatakan, penolakan Suu Kyi atas tuduhan genosida terasa lengkap dengan sikapnya tidak menyebut Rohingya.

“Dia tahu penyebab genosida adalah kata Rohingya, dan dia hindari penyebutan kata itu dalam penyangkalannya,” kata Wai Wai Nu kepada Al Jazeera.

Sikap itu juga memperlihatkan, lanjut Wai Wai Nu, Suu Kyi tidak punya keinginan memulihkan hak hak kami. Suu Kyi menolak eksistensi Rohingya, dan penolakannya terhadap penyebutan nama adalah upaya penghancuran secara fisik dan mental.

Mencermati kembali pidato Suu Kyi, pemenang Nobel Perdamaian lebih suka menyebut Rohingya sebagai Muslim, tapi bukan Muslim Rohingya. Lebih jelasnya, sebagai pengganti kata Rohingya, Suu Kyi menggunakan kalimat; Muslim, orang, warga sipil dan anggota komunitas Rakhine.

Ro Nya San Lwin, aktivis Rohingya dan pendiri Free Rohingya Coalition, mengatakan; “Dulu, Suu Kyi memanggil kami Rohingya. Jelang Pemilu 2015, dia mengharamkan lidahnya menyebut kata Rohingya.”

Setelah mendapat tempat di pemerintahan Myanmar, Suu Kyi mendesak pemerintahnya tidak menggunakan kata Rohingya atau Benggali, tapi Muslim dari Rakhine.

“Menolak memanggil kami Rohingya adalah bagian genosida. Suu Kyi melakukan genosida di depan pengadilan internasional,” katanya.

Menurut Ro Nya San Lwin, muslim adalah identitas agama. Sedangkan Rohingya adalah identitas etnis. “Kini, kami akan menyebutnya genocide genocide, atau penyangkal genosida,” kata San Lwin. (*)


 

Tags: Aung San Suu KyigenosidaRohingya
Previous Post

Menebar Semangat “Zero Waste Lifestyle” di Event Tahura Fest II

Next Post

Ikuti Jejak Ozil, Khabib Nurmagomedov Dukung dan Do’akan Muslim Uighur

Related Posts

Kunjungi UMSU, Chosun University Korea Selatan Gelar Pertunjukan Tari Tradisional

Kunjungi UMSU, Chosun University Korea Selatan Gelar Pertunjukan Tari Tradisional

30 Juni 2026
103
Tampil di IConICS 2026 Malaysia, Akademisi UMSU Dorong Penguatan Karakter Pendidikan Agama Islam di Era Digital

Tampil di IConICS 2026 Malaysia, Akademisi UMSU Dorong Penguatan Karakter Pendidikan Agama Islam di Era Digital

17 Juni 2026
113
Ayyoub Bouaddi, Sang Metronom Muda Maroko yang Menjinakkan Samba Brazil

Ayyoub Bouaddi, Sang Metronom Muda Maroko yang Menjinakkan Samba Brazil

15 Juni 2026
169
Penyiksaan oleh Aparat TNI-Polri di Sumut Ancam Demokrasi dan Hak Asasi Warga

Kesaksian Akademisi: AI Menipu Saya, Jangan Percaya Buta!

14 Juni 2026
167
Ironi Piala Dunia 2026: Deportasi Wasit Somalia Omar Artan Bukti Nyata Islamofobia Struktural AS

Ironi Piala Dunia 2026: Deportasi Wasit Somalia Omar Artan Bukti Nyata Islamofobia Struktural AS

14 Juni 2026
141
Syeikh Reza dan Peggy Melati Sukma Undang Mahasiswa UMSU Magang di New Zealand

Syeikh Reza dan Peggy Melati Sukma Undang Mahasiswa UMSU Magang di New Zealand

14 Juni 2026
149
Next Post
Ikuti Jejak Ozil, Khabib Nurmagomedov Dukung dan Do’akan Muslim Uighur

Ikuti Jejak Ozil, Khabib Nurmagomedov Dukung dan Do'akan Muslim Uighur

Mulai Menggelinding, Hari ini 2 Aksi Bela Muslim Uighur Digelar di Medan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
108
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
116
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
117

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan