Senin, Agustus 10, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Hindari Kata Rohingya, Aung San Suu Kyi Disebut Ingin Hapus Identitas Etnis Minoritas

Mujaddid by Mujaddid
2019/12/20
in Internasional
Reading Time: 2 mins read
0
Bagikan di Facebook
Bagikan di Twitter
Bagikan di Whatsapp

TAJDID.ID || Ada yang luput dari pengamatan media saat Aung San Suu Kyi habis-habisan menolak tuduhan Myanmar melakukan genosida, yaitu ia hanya sekali menyebut Rohingya. Dalam 30 menit pidato tertulis di Pengadilan Internasional (ICJ), Suu Kyi mengeluarkan 3.379 kata untuk menggambarkan etnis minoritas yang dibantai bertahun-tahun di negara bagian Rakhine.

Dalam catatan Al Jazeera, Suu Kyi hanya sekali menyebut kata Rohingya saat merujuk pada organisasi perlawanan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). Ia tidak bisa menghindari penyebutan kata itu, karena berkaitan dengan pembelaan terhadap militer Myanmar.

Aktivis Muslim Rohingya dan kritikus mengatakan penolakan menggunakan kata Rohingya adalah bagian upaya Myanmar menghapus identitas minoritas, dan itu hak mereka.

Kaamil Ahmed, jurnalis yang melaporkan Rohingya dan sedang menulis buku, mengatakan; “Orang Myanmar secara rutin menyebut Muslim Rohingya dengan kata Benggala dan Kalars, dua kata yang merujuk pada warna kulit yang gelap.”

Penggunaan Benggala dan Kalars merupakan bentuk penyangkalan terhadap eksistensi Muslim Rohingya sebagai penduduk asli Rakhine. Suu Kyi tidak menggunakan Benggala dan Kalars, tapi menganggap Muslim Rohingya bukan bagian Myanmar.

“Suu Kyi menolak menyebut Rohingya, karena dikalim sebagai istilah polarisasi,” kata Ahmed.

Muslim Rohingya adalah masyarakat etnis dengan populasi satu juta dari 50 juta penduduk Buddha Myanmar. Seluruhnya tinggal di Rakhine, negara bagian termiskin di Myanmar, dan berbicara dialek Bengali.

Mereka tidak dianggap sebagai satu dari 135 kelompok etnis terdaftar di negara itu, dan dikeluarkan dari UU Kewarganegaraan tahun 1982. Akibatnya, Muslim Rohingya adalah masyarakat tanpa negara.

Untuk mendapat kewarga-negaraan, mereka perlu membuktikan bahwa mereka telah tinggal di Myanmar selama 60 tahun. Menariknya, dokumen tidak pernah tersedia untuk menunjukan hal itu. Akibatnya, hak-hak mereka untuk beribadah, belajar, bekerja, bepergian, menikah, dan mengakses layanan kesehatan, dibatasi.

Wai Wai Nu, aktivis Rohingya yang berbasis di Yangon mengatakan, penolakan Suu Kyi atas tuduhan genosida terasa lengkap dengan sikapnya tidak menyebut Rohingya.

“Dia tahu penyebab genosida adalah kata Rohingya, dan dia hindari penyebutan kata itu dalam penyangkalannya,” kata Wai Wai Nu kepada Al Jazeera.

Sikap itu juga memperlihatkan, lanjut Wai Wai Nu, Suu Kyi tidak punya keinginan memulihkan hak hak kami. Suu Kyi menolak eksistensi Rohingya, dan penolakannya terhadap penyebutan nama adalah upaya penghancuran secara fisik dan mental.

Mencermati kembali pidato Suu Kyi, pemenang Nobel Perdamaian lebih suka menyebut Rohingya sebagai Muslim, tapi bukan Muslim Rohingya. Lebih jelasnya, sebagai pengganti kata Rohingya, Suu Kyi menggunakan kalimat; Muslim, orang, warga sipil dan anggota komunitas Rakhine.

Ro Nya San Lwin, aktivis Rohingya dan pendiri Free Rohingya Coalition, mengatakan; “Dulu, Suu Kyi memanggil kami Rohingya. Jelang Pemilu 2015, dia mengharamkan lidahnya menyebut kata Rohingya.”

Setelah mendapat tempat di pemerintahan Myanmar, Suu Kyi mendesak pemerintahnya tidak menggunakan kata Rohingya atau Benggali, tapi Muslim dari Rakhine.

“Menolak memanggil kami Rohingya adalah bagian genosida. Suu Kyi melakukan genosida di depan pengadilan internasional,” katanya.

Menurut Ro Nya San Lwin, muslim adalah identitas agama. Sedangkan Rohingya adalah identitas etnis. “Kini, kami akan menyebutnya genocide genocide, atau penyangkal genosida,” kata San Lwin. (*)


 

Tags: Aung San Suu KyigenosidaRohingya
Previous Post

Menebar Semangat “Zero Waste Lifestyle” di Event Tahura Fest II

Next Post

Ikuti Jejak Ozil, Khabib Nurmagomedov Dukung dan Do’akan Muslim Uighur

Related Posts

Kepedulian Menguatkan Asa: Program Orang Tua Asuh PCIA Malaysia Bantu Pendidikan Anak Sanggar Bimbingan

Kepedulian Menguatkan Asa: Program Orang Tua Asuh PCIA Malaysia Bantu Pendidikan Anak Sanggar Bimbingan

5 Agustus 2026
131
Menelusuri Metodologi Baru untuk Peradaban Islam Modern

Menelusuri Metodologi Baru untuk Peradaban Islam Modern

1 Agustus 2026
109
Dari Kuala Lumpur ke Bandung: Cerita Fatin Temukan Vibe Positif dan Kehangatan Kuliah di UM Bandung

Dari Kuala Lumpur ke Bandung: Cerita Fatin Temukan Vibe Positif dan Kehangatan Kuliah di UM Bandung

31 Juli 2026
106
UMSU dan Open University Malaysia Kolaborasi Program Perkuliahan Jarak Jauh

UMSU dan Open University Malaysia Kolaborasi Program Perkuliahan Jarak Jauh

30 Juli 2026
109
Hilmee Mideng, Mahasiswa Asal Thailand Lulus Sarjana Kesejahteraan Sosial FISIP UMSU

Hilmee Mideng, Mahasiswa Asal Thailand Lulus Sarjana Kesejahteraan Sosial FISIP UMSU

29 Juli 2026
147
FKIP UMSU Perkuat Kerja Sama Internasional melalui Community Service Program di Muslim Suksa School Thailand

FKIP UMSU Perkuat Kerja Sama Internasional melalui Community Service Program di Muslim Suksa School Thailand

28 Juli 2026
115
Next Post
Ikuti Jejak Ozil, Khabib Nurmagomedov Dukung dan Do’akan Muslim Uighur

Ikuti Jejak Ozil, Khabib Nurmagomedov Dukung dan Do'akan Muslim Uighur

Mulai Menggelinding, Hari ini 2 Aksi Bela Muslim Uighur Digelar di Medan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20096 shares
    Share 8038 Tweet 5024
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11918 shares
    Share 4767 Tweet 2980
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9190 shares
    Share 3676 Tweet 2298
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6315 shares
    Share 2526 Tweet 1579
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6102 shares
    Share 2441 Tweet 1526

OPINI

Muhammadiyah dan Seni Berkompromi: Melawan Arus Tanpa Kehilangan Arah
Jufri Daily

Muhammadiyah dan Seni Berkompromi: Melawan Arus Tanpa Kehilangan Arah

9 Agustus 2026
112
Dua Busur Panah Muhammadiyah dari Jawa Tengah
Jufri Daily

Dua Busur Panah Muhammadiyah dari Jawa Tengah

8 Agustus 2026
133
UNIMUS Jadi Saksi! Muktamar Tapak Suci XVI, Meneguhkan Iman & Pukulan
Nasional

UNIMUS Jadi Saksi! Muktamar Tapak Suci XVI, Meneguhkan Iman & Pukulan

7 Agustus 2026
112
Menjaga Silaturahmi, Menguatkan Soliditas
Daerah

Menjaga Silaturahmi, Menguatkan Soliditas

7 Agustus 2026
124
Marbot Bukan Sekadar Penjaga Masjid, tetapi Penjaga Peradaban
Daerah

Marbot Bukan Sekadar Penjaga Masjid, tetapi Penjaga Peradaban

7 Agustus 2026
129
Gelanggang yang Menempa Kader Muhammadiyah
Nasional

Dari Gelanggang Menuju Peradaban: Rekonstruksi Tapak Suci sebagai Organisasi Berbasis Pengetahuan

6 Agustus 2026
170

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan