Oleh: Heri Isnaini
Ada satu pola cerita yang tampaknya tidak pernah kehilangan pembaca. Dari cerita rakyat yang diwariskan secara lisan, hikayat klasik, novel populer, film layar lebar, hingga serial yang kita tonton melalui gawai, kisah perjalanan selalu menemukan tempatnya sendiri di hati manusia.
Kita menyukai cerita tentang seseorang yang meninggalkan rumah, menghadapi berbagai ujian, bertemu orang-orang baru, mengalami kegagalan, menemukan sesuatu yang berharga, lalu pulang sebagai pribadi yang berbeda. Pola itu begitu sederhana, tetapi terus berulang dalam berbagai bentuk.
Saya sering memikirkan hal ini ketika membaca cerita rakyat Nusantara, novel-novel Indonesia modern, maupun kisah-kisah sufistik yang bertutur tentang pencarian makna hidup.
Mengapa perjalanan selalu menarik? Mengapa kita terus mengikuti langkah seorang tokoh yang berjalan jauh dari tempat asalnya?
Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada pemikiran Northrop Frye dalam Anatomy of Criticism (1957). Dalam teori arketipalnya, Frye menghubungkan berbagai bentuk sastra dengan siklus mitologis yang ia sebut sebagai mythoi. Salah satu yang paling menarik adalah Mythos of Summer, yang berkaitan dengan romance.
Bagi Frye, romance bukan sekadar cerita percintaan sebagaimana dipahami dalam budaya populer saat ini. Romance adalah dunia petualangan, pencarian, ujian, kemenangan, dan transformasi. Dunia ini dipenuhi tokoh yang bergerak menuju sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri. Ketika membaca teori Frye, saya merasa bahwa ia sedang menjelaskan mengapa manusia selalu tertarik pada kisah perjalanan.
Jika kita menelusuri sejarah sastra dunia, kita akan menemukan bahwa kisah perjalanan termasuk bentuk narasi yang paling tua. Odyssey karya Homer bercerita tentang perjalanan panjang Odysseus untuk pulang ke rumah.
Dalam tradisi India, Ramayana mengisahkan perjalanan Rama untuk menyelamatkan Sinta.
Dalam tradisi Islam, kisah perjalanan Nabi Musa, Nabi Yusuf, dan Nabi Muhammad saw. memiliki posisi yang sangat penting.
Di Indonesia, pola serupa muncul dalam cerita Panji, kisah Ciung Wanara, Lutung Kasarung, hingga berbagai legenda lokal. Meskipun berbeda latar budaya, semuanya memiliki struktur yang mirip: ada keberangkatan, ujian, pencarian, dan perubahan.
Menurut Frye, kemunculan pola yang berulang ini bukan kebetulan. Ia menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan imajinatif yang sama. Kita membutuhkan cerita yang memperlihatkan kemungkinan pertumbuhan dan transformasi. Sebab itu, perjalanan dalam sastra bukan sekadar perpindahan tempat. Perjalanan adalah metafora kehidupan itu sendiri.
Dalam Anatomy of Criticism, Frye menjelaskan bahwa romance merupakan bentuk sastra yang bergerak menuju idealisasi. Tokoh romance biasanya memiliki kualitas yang lebih tinggi dibanding manusia biasa. Mereka lebih berani, lebih kuat, lebih gigih, atau lebih setia.
Namun yang menarik, kelebihan itu bukan tujuan utama cerita. Dan yang lebih penting adalah proses pencarian yang mereka jalani.
Frye menyebut bahwa dunia romance merupakan dunia pencarian (quest). Tokoh bergerak menuju sesuatu yang dianggap bernilai: kebenaran, cinta, kebijaksanaan, kemenangan, atau keselamatan. Ketika membaca Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, misalnya, kita tidak hanya mengikuti perjalanan Ikal secara geografis. Kita mengikuti perjalanan intelektual dan spiritualnya. Ia meninggalkan keterbatasan, menghadapi berbagai tantangan, lalu menemukan dunia yang lebih luas.
Pola yang sama dapat ditemukan dalam banyak novel populer Indonesia. Tokoh utama sering kali berangkat dari ruang yang sempit menuju ruang yang lebih besar. Mereka mencari sesuatu yang belum mereka miliki. Dan pembaca, tanpa sadar, ikut melakukan perjalanan itu.
Mengapa Perjalanan Selalu Menarik?
Menurut saya, alasan utamanya adalah sebab manusia sendiri merupakan makhluk yang selalu berada dalam perjalanan.
Kita lahir tanpa mengetahui siapa diri kita. Seiring waktu, kita belajar, gagal, jatuh cinta, kehilangan, dan terus berubah. Hidup tidak pernah benar-benar statis. Sebab itu, ketika membaca kisah perjalanan, kita sesungguhnya sedang membaca refleksi diri sendiri.
Psikolog Carl Gustav Jung menyebut proses ini sebagai individuasi (individuation), yakni perjalanan seseorang menuju pemahaman yang lebih utuh tentang dirinya.
Menariknya, banyak kisah perjalanan dalam sastra memperlihatkan proses yang serupa. Tokoh tidak hanya berpindah tempat. Ia juga berubah secara batin.
Dalam konteks ini, perjalanan menjadi simbol pertumbuhan. Mungkin itulah sebabnya kita selalu ingin mengetahui bagaimana cerita berakhir. Kita ingin tahu apakah tokoh berhasil menemukan apa yang ia cari. Sebab secara tidak langsung, kita juga sedang bertanya tentang diri kita sendiri.
Jika dicermati, sastra Indonesia penuh dengan kisah perjalanan. Dalam Salah Asuhan karya Abdul Muis, Hanafi melakukan perjalanan budaya dan identitas. Ia berusaha menjadi bagian dari dunia Barat, tetapi justru kehilangan pijakan dirinya.
Dalam Para Priyayi karya Umar Kayam, perjalanan terjadi melalui perubahan status sosial dan pendidikan.
Dalam novel-novel Ahmad Tohari, perjalanan sering hadir dalam bentuk pencarian makna hidup di tengah perubahan masyarakat. Bahkan, dalam cerita rakyat seperti Lutung Kasarung, perjalanan fisik selalu disertai transformasi moral dan spiritual.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa perjalanan bukan sekadar tema sastra. Ia merupakan salah satu cara utama sastra Indonesia memahami manusia.
Sebagai pembaca sastra sufistik, saya sering merasa bahwa bentuk perjalanan yang paling menarik justru bukan perjalanan geografis, melainkan perjalanan spiritual.
Dalam karya-karya Jalaluddin Rumi, perjalanan sering digambarkan sebagai pencarian menuju Sang Kekasih.
Dalam Mantiq al-Tayr karya Fariduddin Attar, sekawanan burung melakukan perjalanan panjang untuk menemukan Simurgh, hanya untuk menyadari bahwa yang mereka cari sesungguhnya adalah diri mereka sendiri.
Bacaan-bacaan seperti ini mengingatkan saya pada salah satu aspek penting dalam teori Frye. Menurut Frye, romance sering bergerak menuju dunia ideal, sebuah dunia yang melampaui kenyataan sehari-hari. Dalam sastra sufistik, dunia ideal itu dapat berupa penyatuan dengan Tuhan, pencapaian makrifat, atau kesadaran tentang hakikat diri. Sebab itu, perjalanan spiritual dapat dibaca sebagai bentuk romance yang sangat mendalam. Tokohnya tetap berangkat, menghadapi ujian, dan mencari sesuatu. Hanya saja yang dicari bukan benda atau kemenangan, melainkan makna.
Menariknya, pola romance tidak pernah benar-benar hilang. Film-film populer Indonesia masih menggunakannya. Novel remaja masih menggunakannya. Bahkan banyak konten digital yang viral sebenarnya dibangun di atas pola yang sama. Kita menyukai kisah seseorang yang berjuang dari nol hingga berhasil. Kita menyukai cerita tentang orang biasa yang menemukan potensi luar biasa dalam dirinya. Kita menyukai perjalanan sebab perjalanan memberi harapan bahwa perubahan itu mungkin. Dalam bahasa Frye, romance adalah dunia kemenangan atas hambatan. Dan selama manusia masih menghadapi hambatan dalam hidupnya, selama itu pula romance akan terus hidup.
Salah satu hal yang saya pelajari dari Frye adalah bahwa sastra tidak pernah jauh dari kehidupan. Ketika kita membaca kisah perjalanan, kita tidak hanya menikmati petualangan tokohnya. Kita sedang belajar memahami perjalanan kita sendiri. Setiap orang memiliki “rumah” yang suatu saat harus ditinggalkan. Setiap orang menghadapi rintangan yang harus diatasi. Setiap orang mencari sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami. Sebab itu, kisah perjalanan selalu terasa personal. Meskipun tokohnya hidup di zaman yang berbeda, budaya yang berbeda, atau bahkan dunia yang berbeda, kita tetap dapat mengenali diri kita di dalamnya.
Northrop Frye menunjukkan bahwa romance merupakan salah satu pola dasar dalam sastra dunia. Ia berhubungan dengan Mythos of Summer, yakni dunia pertumbuhan, pencapaian, dan kemenangan. Melalui konsep ini, kita dapat memahami mengapa kisah perjalanan selalu menarik bagi pembaca. Perjalanan bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanan adalah metafora tentang manusia yang terus mencari dirinya sendiri.
Dari cerita Panji hingga Laskar Pelangi, dari hikayat klasik hingga novel kontemporer, dari kisah para sufi hingga film-film populer, pola itu terus berulang. Dan mungkin, alasan terdalam kita mencintai kisah perjalanan adalah sebab kita semua sedang menjalaninya.
Setiap hari, dengan cara yang berbeda-beda, kita melangkah menuju sesuatu yang belum sepenuhnya kita ketahui. Kita mencari makna, kebijaksanaan, cinta, atau mungkin diri kita sendiri.
Sastra hanya membantu kita menyadari bahwa perjalanan itu tidak pernah kita tempuh sendirian. (*)
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya.
Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.











