Oleh: Jufri
Saya punya banyak kawan dan sahabat yang memutuskan untuk berada di dalam lingkaran kekuasaan. Sebagian berangkat dengan niat yang mulia: ingin mengubah keadaan dari dalam sistem. Ada yang memilih menjadi kepala sekolah, dilantik menjadi birokrat hingga level yang cukup tinggi, ada pula yang masuk ke dunia politik lalu menjadi wakil rakyat.
Saya menghormati pilihan mereka. Sebab membangun bangsa memang membutuhkan orang-orang baik, baik di luar maupun di dalam sistem. Namun perjalanan itu ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.
Rata-rata mereka akhirnya harus berkompromi dengan lingkungan dan budaya birokrasi yang sudah mengakar. Sebuah budaya yang sering kali begitu kuat sehingga hampir mustahil diubah hanya dengan modal jabatan dan niat baik. Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai.
Sebagian mampu bertahan dengan idealismenya. Tetapi tidak sedikit yang perlahan kalah oleh situasi. Awalnya hanya mengikuti irama karena merasa terpaksa. Lama-kelamaan, irama itu menjadi kebiasaan. Bahkan tanpa sadar mereka melakukan hal yang dulu pernah mereka kritik.
Niat untuk mengubah dari dalam justru berubah menjadi proses diubah secara perlahan dari dalam. Yang semula ingin memperbaiki sistem, akhirnya menyesuaikan diri dengan sistem.
BACA JUGA 👉 Ilusi Mengubah Sistem dari Dalam
Ada seorang sahabat yang pernah berkata kepada saya, “Menjadi pejabat sekarang harus punya jantung yang sangat kuat.” Tekanan bukan hanya datang dari masyarakat atau media, tetapi kadang justru dari pihak-pihak yang seharusnya menjadi penjaga aturan dan penegak hukum. Dalam situasi seperti itu, mempertahankan integritas menjadi perjuangan yang tidak ringan.
Tetapi setelah kita pelajari lebih dalam, ada satu hal yang patut diubah secara signifikan di negeri ini, yaitu sistem dan budaya yang justru membuat orang-orang baik berpotensi terjebak melakukan kesalahan ketika mereka sedang berusaha memperbaiki keadaan.
Sesungguhnya banyak orang baik di berbagai instansi pemerintahan maupun lembaga negara. Mereka memiliki integritas, kompetensi, dan niat yang tulus. Namun, tidak sedikit yang akhirnya memilih tidak berada di posisi-posisi strategis karena menyadari begitu besarnya tekanan dan kompromi yang harus dihadapi. Akibatnya, ruang-ruang penting justru kehilangan figur-figur terbaik yang seharusnya menjadi motor perubahan.
Orang-orang yang memiliki niat baik justru sering kali tidak siap, atau memilih tidak bersaing dalam situasi seperti ini. Bukan karena mereka tidak mencintai bangsa ini, bukan pula karena mereka tidak mau berkorban. Mereka hanya takut menjadi korban, atau bahkan dikorbankan oleh sistem yang belum sepenuhnya berpihak kepada integritas. Ketika risiko mempertahankan kejujuran terasa lebih besar daripada manfaatnya, banyak orang baik akhirnya memilih mengabdi dalam ruang yang lebih tenang daripada masuk ke pusaran kekuasaan yang penuh tekanan.
Sementara itu, orang-orang yang licik justru terus berusaha mempertahankan bahkan memperluas kekuasaannya. Dengan berbagai cara mereka berupaya mengubah hukum, aturan, bahkan etika penyelenggaraan negara demi memuluskan nafsu kekuasaan. Yang dirusak bukan hanya tata kelola pemerintahan dan sendi-sendi negara hukum, tetapi juga psikologi bangsa. Sebab ketika anak-anak muda menyaksikan bahwa aturan dapat diubah demi kepentingan segelintir orang, sementara orang-orang yang jujur dan berintegritas justru tersingkir, mereka perlahan kehilangan kepercayaan kepada keadilan, kejujuran, dan arti sebuah pengabdian.
Inilah kerusakan yang paling berbahaya. Kerusakan fisik masih bisa diperbaiki. Kerusakan ekonomi masih bisa dipulihkan. Tetapi ketika psikologi bangsa telah rusak, ketika generasi muda mulai menganggap kejujuran tidak lagi penting, hukum bisa diubah sesuai kepentingan penguasa, dan kekuasaan dapat dipertahankan dengan berbagai cara, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar masa kini, melainkan masa depan Indonesia.
Itulah sebabnya, gagasan “mengubah dari dalam” sering kali berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih keras. Ia bisa menjadi harapan, tetapi juga dapat berubah menjadi ilusi apabila seseorang tidak memiliki fondasi moral, keberanian, dan keteguhan prinsip yang kokoh. Di sisi lain, negara berkewajiban membangun sistem yang melindungi orang-orang berintegritas, bukan justru melemahkan atau mengalahkan mereka.
Bangsa ini membutuhkan lebih banyak pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter. Orang-orang yang mampu berkata “tidak” ketika semua orang berkata “ya”, yang tetap berdiri tegak ketika arus mengajak untuk hanyut. Namun bangsa ini juga membutuhkan sistem yang sehat, sehingga orang baik tidak terus-menerus berjuang sendirian melawan budaya yang salah.
Negara yang besar bukanlah negara yang memudahkan orang-orang licik bertahan di puncak kekuasaan, melainkan negara yang memberi ruang, perlindungan, dan keberanian bagi orang-orang baik untuk memimpin. Sebab masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa hari ini, tetapi juga oleh psikologi yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Jika psikologi bangsa rusak, maka kerusakan itu akan melampaui satu generasi dan menjadi beban bagi generasi-generasi berikutnya. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni












