No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Begal Jalanan

15 Juni 2026
in Daerah, Nasional, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Farid Wajdi

Fenomena begal tidak layak dibaca sebagai kriminalitas jalanan semata. Pembegalan hanyalah satu potongan dari puzzle yang jauh lebih besar tentang bagaimana kejahatan telah menemukan ruang hidup di berbagai sudut kehidupan sosial.

Sulit menutup mata terhadap kenyataan tersebut. Dalam birokrasi, publik berulang kali disuguhi kasus korupsi yang menyeret pejabat dari berbagai tingkatan.

Dalam pelayanan publik, praktik pungutan liar masih muncul meskipun reformasi birokrasi terus dikampanyekan.

Dalam dunia usaha terdapat penipuan dan manipulasi.

Dalam ruang digital berkembang kejahatan siber dengan berbagai modus baru.

BACA JUGA

Rektor UMSU Minta Dosen STIKes Indah Medan Kedepankan Nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Usai Resmi Bergabung

Global Ehsan Relief Indonesia Gandeng HMJ Kessos FISIP UMSU Gelar ‘Wakaf Qur’an’ di Kampung Badur

Anang AA, Akademisi Pengalaman Global Berkarakter Ulul Albab

Pesan Ketum PP Muhammadiyah kepada PAN: Hidupkan Kembali Jiwa Reformasi Sejati

Inisiatif “Ramadan Jaga Bumi” Ajak Umat Muslim Adopsi Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Muhammadiyah Kenalkan Pushbike yang Bermanfaat buat Anak-anak dan Orang Tua 

Di jalanan, masyarakat berhadapan dengan begal yang sewaktu-waktu dapat merampas harta sekaligus mengancam nyawa.

Gambaran tersebut melahirkan kesan yang mengganggu: kejahatan seperti sedang menyempurnakan dirinya sendiri. Korupsi merampas uang rakyat melalui meja kekuasaan. Pungutan liar memeras masyarakat melalui pelayanan. Narkotika merusak generasi melalui ketergantungan. Begal meneror warga melalui kekerasan di jalanan. Masing-masing bekerja dengan cara berbeda, tetapi menuju tujuan yang sama: menggerus kepercayaan publik terhadap hukum dan negara.

Yang lebih mengkhawatirkan, berbagai bentuk kejahatan tersebut sering tampak lebih adaptif dibandingkan sistem yang berusaha memberantasnya. Ketika satu modus dipatahkan, modus lain muncul. Ketika satu jaringan dibongkar, jaringan baru tumbuh. Ketika satu pelaku ditangkap, pelaku lain mengambil tempat yang kosong. Kejahatan bergerak cepat, sedangkan pembenahan sistem sering berjalan lambat.

Di tengah situasi seperti itu, masyarakat menyaksikan pergantian kepemimpinan yang terus berlangsung. Kapolda berganti. Kapolres berganti. Gubernur berganti. Wali kota berganti. Bupati berganti. Setiap pergantian disertai janji perubahan, strategi baru, program baru, slogan baru, dan optimisme baru.

Namun jalanan sering kali memberikan kesaksian yang berbeda. Korupsi tetap muncul dalam pemberitaan. Pungutan liar tetap terdengar dalam keluhan masyarakat. Narkotika tetap beredar.
Begal tetap beraksi. Pergantian pemimpin seolah berlangsung lebih cepat daripada perubahan yang dirasakan masyarakat. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan yang tidak nyaman tetapi perlu diajukan: apakah masalah sesungguhnya terletak pada figur, atau justru pada sistem yang belum berhasil diperbaiki secara mendasar?

Sebab apabila persoalan terus berulang selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, sulit menjelaskan semuanya sebagai kesalahan individu semata. Ada sesuatu yang lebih dalam. Ada kelemahan struktural yang memungkinkan berbagai bentuk kejahatan terus bereproduksi. Ada celah yang tidak pernah benar-benar ditutup. Ada akar masalah yang belum disentuh secara serius.

Wibawa Hukum

Dalam konteks begal, misalnya, publik hampir setiap waktu menyaksikan pola yang sama. Pelaku ditangkap. Barang bukti diamankan. Konferensi pers digelar. Pernyataan keras disampaikan. Operasi besar dilaksanakan.

Namun beberapa pekan atau beberapa bulan kemudian muncul kasus baru dengan pola yang nyaris serupa. Muncul kesan bahwa negara terlalu sering sibuk mengobati gejala, tetapi belum sepenuhnya berhasil menyembuhkan penyakitnya.

Tidak berarti kerja aparat harus diabaikan. Banyak anggota kepolisian bekerja keras, bahkan mempertaruhkan keselamatan dalam menghadapi pelaku kejahatan. Banyak pengungkapan kasus patut diapresiasi. Namun keberhasilan penegakan hukum tidak dapat diukur hanya dari jumlah tersangka yang berhasil ditangkap. Ukuran yang jauh lebih penting adalah rasa aman yang dirasakan masyarakat.

Apakah warga merasa tenang saat berkendara pada malam hari? Apakah orang tua tidak lagi khawatir ketika anaknya pulang larut? Apakah masyarakat dapat menggunakan ruang publik tanpa dihantui ketakutan menjadi korban berikutnya?

Jika jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut masih belum memuaskan, berarti pekerjaan besar masih menunggu untuk diselesaikan.

Begal sesungguhnya merupakan indikator yang menunjukkan kondisi kesehatan sosial sebuah daerah. Tingginya intensitas pembegalan tidak hanya berbicara tentang pelaku kriminal. Fenomena tersebut berbicara tentang lemahnya pengawasan sosial, rapuhnya ketahanan keluarga, pengaruh narkotika, ketimpangan ekonomi, efektivitas pendidikan, serta kapasitas negara dalam menjaga keamanan warga.

Karena itu, penyelesaiannya tidak dapat bergantung pada operasi penertiban yang bersifat sesaat. Dibutuhkan pendekatan yang jauh lebih menyeluruh. Penegakan hukum harus konsisten dan tidak mengenal kompromi. Pemberantasan narkotika harus dilakukan secara serius. Pendidikan karakter perlu diperkuat.

Kesempatan ekonomi harus diperluas. Sistem pengawasan wilayah rawan harus dimodernisasi. Kehadiran negara harus benar-benar dirasakan hingga ke jalan-jalan yang selama ini dianggap rawan.

Jika tidak, masyarakat akan terus menyaksikan paradoks yang sama: pemimpin berganti, jabatan berganti, slogan berganti, program berganti, tetapi rasa takut tetap tinggal.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah daerah bukan terletak pada banyaknya baliho pembangunan, megahnya gedung pemerintahan, atau tingginya angka investasi. Ukuran yang paling sederhana justru terletak pada pertanyaan berikut: dapatkah masyarakat hidup dengan aman?

Sebab ketika korupsi masih merajalela di ruang kekuasaan, pungutan liar masih mengganggu pelayanan publik, dan begal masih bebas meneror jalanan, sesungguhnya yang sedang menghadapi krisis bukan hanya sektor keamanan. Yang sedang dipertaruhkan adalah kewibawaan hukum, kredibilitas institusi, dan kepercayaan masyarakat terhadap negara itu sendiri.

Tidak ada ancaman yang lebih berbahaya bagi sebuah daerah selain keadaan ketika masyarakat mulai menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang normal. Ketika rasa takut berubah menjadi kebiasaan, sesungguhnya alarm darurat telah lama berbunyi. (*)

 

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

 

Tags: BegalkorupsiPencuianPerampokan
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Jika Korupsi Sudah Seperti Fardu Ain
Nasional

Jika Korupsi Sudah Seperti Fardu Ain

by Mujaddid
24 Juli 2026
22
Perang Geng Berjubah Hukum
Nasional

Perang Geng Berjubah Hukum

by Mujaddid
11 Juli 2026
21
Mahupiki Apresiasi Peningkatan Kinerja Kejaksaan Agung
Nasional

Pakar Kritisi Pidato Klarifikasi Jampidsus: Hukum Membaca Bukti, Bukan Orasi!

by Mujaddid
10 Juli 2026
27
Komedi Hitam Penegakan Hukum
Nasional

Komedi Hitam Penegakan Hukum

by Mujaddid
1 September 2026
43
Korupsi dan Hilangnya Akal Sehat Kekuasaan: Catatan Muhammadiyah untuk Indonesia Berkemajuan
Muhammadiyah

Korupsi dan Hilangnya Akal Sehat Kekuasaan: Catatan Muhammadiyah untuk Indonesia Berkemajuan

by Mujaddid
7 Juli 2026
16
Dosen Hukum Pidana: Tragedi Daycare Yogya adalah Penyiksaan Terencana, Bukan Sekadar Kelalaian
Nasional

Mengapa Koruptor Baru Terus Lahir Pasca-OTT? Ini Analisis Pakar Hukum Pidana

by Mujaddid
8 Juni 2026
78
Busyro Muqoddas: Karakter Muhammadiyah itu Memberi, Tidak Meminta Apalagi Mengemis kepada Pemerintah
Muhammadiyah

Korupsi Lebih Berat dari Pandemi, Busyro Muqoddas Serukan Muhasabah Politik di Indonesia

by Mujaddid
22 Mei 2026
47
Menghitung Kerugian Negara
Nasional

Menghitung Kerugian Negara

by Mujaddid
7 April 2026
66
Berburu di Kebun Binatang
Jufri Daily

Berburu di Kebun Binatang

by Mujaddid
12 Maret 2026
38
Nizam Mukhlis
IMM

Aktivis IMM UMSU Tanggapi OTT KPK terhadap Wamenaker Immanuel Ebenezer

by Mujaddid
23 Agustus 2025
74

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Kampus Berdampak, Prodi Biokewirausahaan UMJT Gelorakan Literasi Numerasi di SMAN Mejayan Madiun
  • UMSU Melejit
  • Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
  • Tuan Rumah Konferensi Next-D 2026, UMSU Kumpulkan 200 Pakar Digital Lintas Negara
  • Hari Radio Nasional, Fajar Junaedi: Industri Radio Perlu Adaptasi Multiplatform
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

UMSU Melejit
Muhammadiyah

UMSU Melejit

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
Nasional

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir
Daerah

Sinergisme PPL: Penguatan Kebijakan Pembangunan Daerah

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.