Oleh: Marta Pujiono
Di tengah pesatnya perkembangan digital, generasi muda berada dalam budaya yang serba cepat. Informasi dapat diakses dalam beberapa detik, hiburan bisa dinikmati kapan saja,berbagai kebutuhan dapat terpenuhi hanya dengan menyentuh layar. Kenyamanan ini memberikan banyak keuntungan, namun menimbulkan masalah terkait dengan penurunan kemampuan untuk menunda kepuasan atau yang disebut delay gratification.
Delay gratification merupakan kemampuan individu untuk menahan dorongan sementara untuk mendapatkan hasil yang lebih baik di waktu mendatang.
Dalam kehidupan anak-anak dan remaja, kemampuan ini tercermin dari punya kesadaran diri untuk belajar dengan lebih serius dibandingkan menghabiskan waktu untuk bermain gadget, menabung lebih baik daripada belanja tanpa dampak manfaat, serta lebih memusatkan perhatian pada tujuan jangka panjang daripada kesenangan sesaat. Kemampuan ini berperan penting dalam membangun karakter yang kuat dan berfokus pada masa depan.
Muhammadiyah, sejak awal telah memberikan contoh teladan berupa prinsip-prinsip kemajuan yang berbasiskan pengetahuan, disiplin, dan usaha yang gigih. KH Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa transformasi yang signifikan muncul melalui langkah-langkah yang panjang, dedikasi, dan ketekunan. Oleh karena itu, semangat untuk maju tidak terbentuk dari budaya yang instan maupun praktis , melainkan dari keinginan untuk menjalani proses yang ada demi kebaikan bersama yang lebih luas.
Namun, budaya serba cepat sekarang semakin memiliki dampak besar terhadap generasi muda. Fenomena FOMO ,serta kemudahan layanan transaksi Digital sering kali mendorong anak muda untuk memenuhi hasrat mereka tanpa berpikir panjang. Jika situasi ini terus dibiarkan, akan muncul generasi yang tidak kuat menghadapi proses dan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan.
Padahal, saat ini memerlukan generasi yang Tangguh dapat berpikir maju kedepan, memiliki disiplin tinggi, serta mampu mengendalikan diri. Prestasi dalam pendidikan, karir, maupun interaksi sosial tidak datang secara cepat, akan tetapi melalui kesungguhan dalam menjalani proses.
Dalam pandangan Islam, kemampuan untuk menahan diri adalah bagian dari budi pekerti yang baik. Ajaran tentang kesabaran, kedisiplinan, dan pengendalian diri yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis sangat berkaitan dengan konsep menunda kepuasan. Maka dari itu, keluarga, institusi pendidikan, dan komunitas harus bekerja sama, kolaborasi saling kuat menguatkan untuk membangun budaya menunda kepuasan demi mencapai tujuan yang lebih penting.
Generasi yang Berkemajuan bukanlah kelompok yang selalu menerima apa yang mereka inginkan dengan segera, tetapi adalah generasi yang bisa mengendalikan diri untuk mencapai tujuan di masa depan. Di zaman yang serba cepat ini, menunda kepuasan bukanlah sekadar pilihan, melainkan suatu keharusan. Dari kemampuan ini, akan muncul individu yang kuat, pemimpin yang memiliki visi, dan Generasi Tangguh yang semakin berkembang.(*)
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan Prodi Bimbingan dan Konseling













