• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Sabtu, April 25, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Menyalakan Habis Gelap Terbitlah Terang

Farid Wajdi by Farid Wajdi
2026/04/21
in Nasional, PTM/A
0
Menyalakan Habis Gelap Terbitlah Terang
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Farid Wajdi

Setiap 21 April, bangsa ini kembali menyebut nama R.A. Kartini. Namanya hadir di ruang kelas, panggung sekolah, layar televisi, pidato seremonial, hingga linimasa media sosial yang dipenuhi kutipan inspiratif.

Sehari penuh, republik ini seakan bersandar pada satu sosok perempuan muda dari Jepara yang menolak tunduk pada nasib zamannya.

Namun di balik perayaan yang berulang itu, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih mendesak: apakah bangsa ini sungguh sedang merawat api gagasan Kartini, atau sekadar memelihara upacara yang nyaman bagi ingatan, tetapi miskin keberanian bagi masa depan?

Tanggal 21 April memang ditetapkan sebagai Hari Kartini untuk mengenang kelahiran tokoh penting dalam sejarah emansipasi perempuan Indonesia.

Namun Kartini tidak pernah cukup dipahami sebagai penanda kalender. Kartini adalah kesadaran yang menolak gelap. Kartini adalah keberanian berpikir di tengah tatanan yang membenci pertanyaan. Kartini adalah suara yang lahir dari ruang terkungkung, lalu menembus batas zaman dan menjelma cahaya bagi generasi sesudahnya.

Judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” terlalu sering dibaca sebagai ungkapan optimistis yang puitis. Padahal kalimat itu menyimpan filsafat kehidupan yang amat dalam. Gelap bukan hanya absennya cahaya. Gelap dapat menjelma kebodohan yang dipelihara, ketidakadilan yang diwariskan, tradisi yang membelenggu, kekuasaan yang menutup ruang pikir, atau ketimpangan yang dianggap lumrah.

Terang pun bukan hadiah yang turun dari langit. Terang adalah hasil pergulatan batin, hasil pendidikan, hasil keberanian, hasil perlawanan terhadap keadaan yang menolak berubah.

Kartini memahami sesuatu yang kerap luput dibaca banyak orang: penindasan paling kuat sering hadir dalam rupa kewajaran. Struktur yang timpang dibungkus adat. Pembatasan dibalut kesopanan. Ketidaksetaraan dihias atas nama kodrat.

Karena itu, perlawanan pertama bukan selalu amarah di jalan, melainkan keberanian bertanya. Mengapa perempuan dibatasi? Mengapa pengetahuan hanya milik segelintir orang? Mengapa manusia diminta menerima takdir yang ditulis orang lain? Pertanyaan semacam itu tampak sederhana, tetapi sering mengguncang fondasi kuasa.

Michel Foucault (1975) menjelaskan relasi kuasa bekerja bukan hanya lewat kekerasan terbuka, tetapi juga melalui disiplin, kebiasaan, dan norma yang tampak biasa. Kartini telah membaca gejala tersebut jauh sebelum kosa kata modern lahir. Saat menulis kegelisahan tentang perempuan, pendidikan, dan kebebasan, sesungguhnya Kartini sedang membongkar mesin kuasa yang bekerja diam-diam di balik budaya.

Pada abad ke-19, tembok yang mengurung perempuan tampak nyata dalam bentuk adat feodal dan larangan belajar. Pada abad ke-21, tembok itu berubah lebih halus, lebih licin, dan kerap tak terlihat. Dunia digital menjanjikan keterbukaan, namun sekaligus menghadirkan bentuk gelap baru.

Perempuan dapat berbicara di ruang daring, tetapi sering dibalas pelecehan. Perempuan dapat berkarya, namun dihujani penghinaan tubuh. Perempuan dapat tampil sebagai pemimpin, tetapi diserang bukan gagasannya, melainkan rupa, usia, suara, bahkan kehidupan pribadinya.

Teknologi memang memperluas panggung, tetapi tidak otomatis menghapus prasangka. Algoritma kerap justru memperbesar bias karena sistem digital menyukai sensasi, konflik, dan kemarahan. Konten yang merendahkan bergerak lebih cepat dibanding gagasan yang mencerahkan. Dalam lanskap semacam itu, perjuangan emansipasi memasuki babak baru: bukan hanya membuka pintu ruang publik, melainkan menjaga martabat manusia di tengah arus informasi yang tak pernah tidur.

Shoshana Zuboff (2019) mengingatkan era digital melahirkan kapitalisme pengawasan, saat data manusia diubah menjadi komoditas dan perilaku publik diarahkan secara sistematis. Dalam pengalaman perempuan, ancaman itu terasa berlapis. Data pribadi dapat diperdagangkan, citra tubuh dieksploitasi, selera dibentuk, rasa percaya diri dipermainkan industri yang menjual standar kecantikan sempit. Gelap modern kadang tidak datang sebagai larangan, tetapi sebagai rayuan yang memerangkap.

 

Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan

Karena itu, menyalakan Kartini pada masa kini tidak cukup melalui pujian terhadap pendidikan secara umum. Pendidikan yang dibutuhkan zaman digital adalah kemampuan membaca dunia secara kritis. Anak-anak perempuan perlu menguasai sains, teknologi, kecerdasan buatan, literasi media, keamanan digital, serta keberanian berpikir merdeka. Tanpa bekal itu, akses internet hanya membuka pintu baru menuju ketergantungan yang lebih canggih.

Paulo Freire (1970) menyebut pendidikan sejati sebagai praktik pembebasan. Pendidikan bukan sekadar hafalan, melainkan jalan agar manusia memahami struktur yang menindas lalu mengubahnya. Semangat itu sangat dekat dengan jiwa Kartini. Sekolah yang hanya melatih kepatuhan tidak akan melahirkan terang. Sekolah yang menumbuhkan nalar, empati, dan keberanian akan melahirkan generasi pembuka jalan.

Pembacaan jujur terhadap kondisi perempuan Indonesia hari ini menunjukkan kemajuan sekaligus pekerjaan rumah besar. Perempuan telah hadir dalam birokrasi, kampus, bisnis, teknologi, seni, dan gerakan sosial.

Namun capaian formal belum selalu berubah menjadi keadilan substantif. Kesenjangan upah masih terasa. Beban kerja domestik masih timpang. Kekerasan berbasis gender belum surut. Representasi politik kerap berhenti pada angka tanpa pengaruh nyata.

Martha Nussbaum (2000) menawarkan pendekatan kapabilitas: kemajuan manusia tidak cukup diukur melalui pendapatan atau statistik, tetapi melalui kemampuan nyata menjalani hidup bermartabat. Dalam kerangka itu, pertanyaan penting bukan sekadar berapa banyak perempuan bekerja, melainkan apakah pekerjaan tersebut aman, adil, layak, dan membuka ruang berkembang.

Kartini juga patut dibaca melampaui isu perempuan semata. Gagasannya menyentuh inti kemanusiaan universal: hak setiap insan untuk tumbuh. Siapa pun yang dihalangi berkembang karena kelas sosial, wilayah, ekonomi, identitas, atau keterbatasan teknologi sedang berhadapan dengan bentuk gelap yang lain.

Menyalakan Kartini berarti memperjuangkan siapa pun yang dipinggirkan.

Ada ironi saat nama Kartini dirayakan besar-besaran, tetapi ruang digital dipenuhi perundungan terhadap perempuan yang berani bersuara.

Ada paradoks saat kutipan Kartini beredar viral, tetapi korban kekerasan masih berjuang mencari keadilan.

Ada kehampaan saat kebaya dipakai sehari penuh, tetapi banyak anak perempuan di pelosok masih berjuang memperoleh sekolah layak dan internet memadai.

Ritual tanpa transformasi hanya melahirkan nostalgia. Bangsa yang terlalu sibuk mengenang pahlawan sering lupa melanjutkan pekerjaan mereka. Kartini tidak memerlukan pemujaan berlebihan. Yang dibutuhkan adalah keberanian intelektual serupa: berani bertanya ketika banyak orang memilih diam, berani belajar ketika banyak orang nyaman dalam kebodohan, berani membela martabat ketika banyak orang tunduk pada kenyamanan.

Jürgen Habermas (1962) menegaskan demokrasi bertumpu pada ruang publik rasional, tempat warga bertukar gagasan secara setara.

Pada era digital, ruang publik itu berpindah ke layar. Jika ruang tersebut dipenuhi hoaks, kebencian, misogini, dan persekusi, terang akan meredup. Jika ruang itu diisi pengetahuan, solidaritas, dan kebebasan berpikir, cahaya Kartini menemukan rumah barunya.

Menyalakan Habis Gelap Terbitlah Terang berarti memastikan setiap anak perempuan dapat belajar tanpa takut putus sekolah.

Berarti memastikan perempuan bekerja tanpa diskriminasi dan tanpa kekerasan.

Berarti memastikan teknologi menjadi alat pemberdayaan, bukan sarana penghinaan.

Berarti memastikan suara perempuan hadir dalam pengambilan keputusan, dari desa hingga pusat kekuasaan.

Berarti memastikan kecerdasan perempuan tidak diperlakukan sebagai ancaman.

Terang tidak datang otomatis bersama pergantian zaman. Internet tidak otomatis melahirkan kebebasan. Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menghadirkan keadilan. Demokrasi tidak otomatis memuliakan perempuan. Terang selalu menuntut kerja panjang: pendidikan, keberanian moral, institusi yang adil, budaya setara, dan kesediaan menolak kebiasaan lama yang menindas.

Setiap 21 April, bangsa ini sesungguhnya sedang bercermin. Apakah Kartini hanya akan tinggal sebagai nama yang nyaman disebut, atau hadir sebagai kesadaran yang menggugat kemapanan?

Gelap tidak pernah benar-benar lenyap; gelap hanya berganti wajah. Karena itu, terang pun harus terus dinyalakan ulang.

Selama masih ada manusia yang berani berpikir merdeka, berani belajar tanpa takut, dan berani membela martabat sesama, nyala Kartini tidak akan pernah padam. (*)

 

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

 

Tags: RA Kartini
Previous Post

Kaderisasi: Menanamkan Cinta dan Menjaga Martabat Organisasi

Next Post

Dukung  Pembangunan Kampus Terpadu UMSU, Bupati Deli Serdang Siapkan Jalan Alternatif Jelang Muktamar 49 Muhammadiyah 2027

Related Posts

Dari Kartini ke Rasuna: Ketika Kata-kata Menjadi Perlawanan

Dari Kartini ke Rasuna: Ketika Kata-kata Menjadi Perlawanan

22 April 2026
109
Next Post
Dukung  Pembangunan Kampus Terpadu UMSU, Bupati Deli Serdang Siapkan Jalan Alternatif Jelang Muktamar 49 Muhammadiyah 2027

Dukung  Pembangunan Kampus Terpadu UMSU, Bupati Deli Serdang Siapkan Jalan Alternatif Jelang Muktamar 49 Muhammadiyah 2027

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In