Oleh : Jufri
Di setiap bulan April, kita akrab merayakan Raden Ajeng Kartini sebagai simbol kebangkitan perempuan Indonesia. Namun di sela-sela ingatan kolektif itu, ada satu nama yang sering luput kita beri ruang yang sama: Rasuna Said. Jika Kartini menyalakan cahaya melalui pemikiran dan pendidikan, maka Rasuna datang membawa api—api keberanian yang menyala di panggung-panggung perjuangan.
Saya selalu merasa, ada sesuatu yang berbeda ketika membaca kisah Rasuna Said. Ia bukan hanya berbicara tentang perubahan, tetapi menjalaninya dengan risiko nyata. Lahir dari tanah Minangkabau yang sarat tradisi intelektual, ia tumbuh dengan keyakinan bahwa ilmu tidak boleh berhenti di kepala. Ilmu harus berani turun ke gelanggang, berhadapan dengan ketidakadilan, dan jika perlu, menantang kekuasaan.
Di masa kolonial, ketika banyak orang memilih diam demi keselamatan, Rasuna justru memilih bersuara. Ia berdiri di hadapan massa, menyampaikan kritik yang tajam terhadap penjajahan. Suaranya bukan sekadar retorika; ia adalah panggilan kesadaran. Tidak heran jika kemudian ia menjadi perempuan pertama yang dijerat dengan speek delict, hukum kolonial yang membungkam kebebasan berbicara. Namun seperti banyak pejuang sejati, penjara justru memperkuat gaung namanya. Dari sana lahir julukan yang begitu kuat: “Singa Podium dari Tanah Minang.”
Bagi Rasuna, perjuangan perempuan bukanlah isu pinggiran. Melalui Persatuan Muslimin Indonesia, ia menanamkan kesadaran bahwa perempuan harus hadir dalam denyut politik dan arah bangsa. Ia tidak ingin perempuan hanya menjadi penonton sejarah. Perempuan, menurutnya, harus menjadi penulisnya.
Setelah Indonesia merdeka, langkahnya tidak surut. Ia tetap hadir di ruang-ruang strategis negara, dari parlemen hingga Dewan Pertimbangan Agung, berdialog bahkan dengan Soekarno. Namun yang menarik, kekuasaan tidak pernah mengubah nadanya. Ia tetap kritis, tetap berani, dan tetap berpihak pada mereka yang kecil.
Hari ini, nama Rasuna Said mungkin lebih sering kita lihat sebagai papan jalan di ibu kota, di Jakarta. Ribuan kendaraan melintas setiap hari, tergesa oleh urusan masing-masing. Saya sendiri pernah membayangkan, berapa banyak di antara kita yang benar-benar berhenti sejenak—bukan untuk menepi, tapi untuk mengingat—bahwa nama itu pernah mengguncang kesadaran sebuah bangsa.
Mungkin di sinilah letak pentingnya kita tidak hanya merayakan Hari Kartini, tetapi juga memberi ruang pada “Hari Rasuna Said”—bukan sekadar sebagai tanggal seremonial, tetapi sebagai momentum refleksi. Sebab sejarah perempuan Indonesia tidak hanya ditulis dengan gagasan yang indah, tetapi juga dengan keberanian yang berisiko.
Dan dari Rasuna Said, kita belajar satu hal yang sederhana namun dalam: kata-kata, jika lahir dari keberanian, tidak hanya terdengar—ia mampu menggerakkan, bahkan mengubah arah sejarah. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni


