Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Pada dekade akhir tahun 1990-an, ketika Indonesia sedang mengalami perubahan besar dalam kehidupan politik dan kebangsaannya, muncul sebuah gagasan yang banyak diperbincangkan oleh kalangan intelektual, aktivis, akademisi, dan tokoh bangsa. Gagasan itu adalah Politik Adiluhung. Istilah ini dipopulerkan oleh Amien Rais yang saat itu memimpin Muhammadiyah. Politik Adiluhung kemudian menjadi salah satu inspirasi moral yang mengiringi lahirnya era reformasi.
Bagi Amien Rais, politik bukan sekadar urusan merebut dan mempertahankan kekuasaan. Politik harus menjadi instrumen untuk menghadirkan keadilan, memperjuangkan kepentingan rakyat, dan menjaga martabat kemanusiaan. Karena itu, Politik Adiluhung menempatkan etika, integritas, dan tanggung jawab moral sebagai fondasi utama dalam kehidupan politik.
Menurut beliau, Politik Adiluhung pada dasarnya adalah upaya membumikan tauhid sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tauhid tidak cukup hanya dipahami sebagai keyakinan teologis yang diucapkan dalam syahadat atau diwujudkan dalam ritual ibadah. Tauhid harus melahirkan kesadaran sosial, kepedulian terhadap sesama, keberanian melawan ketidakadilan, serta komitmen untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat luas.
Karena itu, Politik Adiluhung sesungguhnya merupakan perwujudan dari amar makruf nahi munkar dalam ruang publik. Ketika seorang pemimpin memperjuangkan keadilan, menjaga amanah rakyat, melindungi kelompok yang lemah, dan menolak korupsi, maka sesungguhnya ia sedang menerjemahkan nilai-nilai tauhid ke dalam tindakan nyata. Sebaliknya, ketika kekuasaan digunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, maka politik kehilangan kemuliaannya.
Untuk memperkuat gagasan tersebut, Amien Rais bahkan menulis buku berjudul Tauhid Sosial: Formula Menggempur Kesenjangan. Judul buku itu sendiri mengandung pesan yang sangat mendalam. Bahwa berbagai kesenjangan ekonomi, sosial, dan politik yang terjadi di tengah masyarakat tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan teknis dan administratif semata. Diperlukan fondasi moral yang kuat, yaitu tauhid yang hidup dalam kesadaran sosial dan terwujud dalam tindakan nyata.
Tauhid sosial mengajarkan bahwa keimanan harus melahirkan kepedulian. Bahwa ibadah harus melahirkan kejujuran. Bahwa keyakinan kepada Allah harus tercermin dalam keberanian membela keadilan dan menolak kemungkaran. Tauhid sosial tidak membiarkan seseorang merasa saleh hanya karena rajin beribadah, sementara di saat yang sama membiarkan ketidakadilan, kemiskinan, dan kesenjangan tumbuh di sekitarnya.
Hari ini, puluhan tahun setelah gagasan itu diperkenalkan, kita menyaksikan bahwa banyak persoalan yang dahulu dikritik ternyata masih menjadi pekerjaan rumah bangsa. Korupsi masih terjadi. Kesenjangan sosial masih terasa. Penyalahgunaan kekuasaan masih ditemukan. Bahkan tidak jarang masyarakat merasa bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara sedang menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan.
Karena itu, ketika Muktamar Muhammadiyah ke-49 mengusung tema “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya”, apa yang dahulu dipopulerkan dan dijadikan formula oleh Amien Rais terasa kembali menemukan relevansinya. Di tengah bangsa yang sedang menghadapi berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, dan moral, tauhid sosial sebagai perwujudan nilai ketuhanan dan kemanusiaan menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dicermati.
Sebab kecerdasan yang dibutuhkan bangsa ini bukan hanya kecerdasan akademik. Bukan pula sekadar kecerdasan teknologi atau kemampuan mengelola kekuasaan. Bangsa ini memerlukan kecerdasan yang lebih utuh, yaitu kecerdasan moral, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan yang mampu membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan publik. Kecerdasan yang mampu menempatkan amanah di atas ambisi. Kecerdasan yang menjadikan jabatan sebagai sarana pengabdian, bukan sebagai alat untuk mencari penghormatan.
Tema “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya” sesungguhnya mengandung cita-cita besar tentang lahirnya manusia Indonesia yang tercerahkan. Manusia yang tidak hanya pintar berpikir, tetapi juga bijak bertindak. Manusia yang tidak hanya mampu membangun gedung-gedung tinggi, tetapi juga mampu membangun keadilan sosial. Manusia yang tidak hanya mengejar kemajuan material, tetapi juga menjaga keluhuran moral.
Dalam konteks itulah, tauhid sosial menjadi sangat relevan. Sebab bangsa yang cerdas bukan hanya bangsa yang memiliki banyak sarjana dan teknologi canggih. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu menghadirkan keadilan bagi rakyatnya. Bangsa yang pemimpinnya menjaga amanah. Bangsa yang masyarakatnya memiliki kepedulian sosial. Bangsa yang nilai-nilai ketuhanan hidup dan mewarnai perilaku sehari-hari.
Di sinilah relevansi Islam Berkemajuan yang selama ini menjadi salah satu ciri gerakan Muhammadiyah. Kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi, atau perkembangan teknologi. Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika nilai ketuhanan berjalan seiring dengan nilai kemanusiaan. Ketika ilmu pengetahuan melahirkan kebijaksanaan. Ketika kekuasaan melahirkan keadilan. Ketika kemakmuran melahirkan kepedulian.
Politik Adiluhung yang dahulu menjadi salah satu inspirasi gerakan reformasi ternyata tidak kehilangan maknanya hingga hari ini. Justru ketika bangsa menghadapi berbagai tantangan baru, gagasan tersebut semakin menemukan relevansinya. Sebab politik yang beradab, kekuasaan yang beretika, dan kepemimpinan yang berintegritas merupakan kebutuhan setiap zaman.
Pada akhirnya, bangsa yang bercahaya bukanlah bangsa yang bebas dari masalah. Bangsa yang bercahaya adalah bangsa yang memiliki cukup banyak orang baik yang terus bekerja memperbaiki keadaan. Bangsa yang para pemimpinnya tidak kehilangan nurani. Bangsa yang masyarakatnya tidak lelah menjaga akal sehat, moralitas, dan kepedulian sosial.
Mungkin karena itulah gagasan Politik Adiluhung tidak pernah benar-benar usang. Ia terus menemukan relevansinya di setiap zaman. Sebab selama masih ada kesenjangan yang harus diperkecil, ketidakadilan yang harus dilawan, dan amanah yang harus dijaga, maka membumikan tauhid sosial akan selalu menjadi pekerjaan penting. Dari sanalah lahir kecerdasan yang mencerahkan, kemajuan yang memanusiakan, dan peradaban yang membawa cahaya bagi semesta. Itulah makna terdalam dari Politik Adiluhung: membumikan tauhid sosial untuk mewujudkan Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya dalam bingkai Islam Berkemajuan. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni







