Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Iduladha dan Bahasa Pengorbanan

Mujaddid by Mujaddid
2026/05/28
in Esai, Islam, Nasional, Opini
Reading Time: 2 mins read
0
Iduladha dan Bahasa Pengorbanan
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Heri Isnaini

Hari Raya Iduladha selalu membawa suasana yang berbeda. Ia tidak hanya datang bersama gema takbir atau aroma daging yang mengepul dari halaman rumah, tetapi juga bersama sebuah pertanyaan tua yang terus hidup di dalam diri manusia, yakni apa yang sanggup kita korbankan?

Kita hidup di zaman yang terlalu sering memuja kepemilikan. Orang berlomba mengumpulkan harta, pengaruh, citra, bahkan perhatian.

Media sosial berubah menjadi etalase besar tempat manusia saling mempertontonkan keberhasilan. Semua ingin terlihat utuh, bahagia, dan menang.

Namun, Iduladha justru datang membawa pelajaran sebaliknya, yakni tentang merelakan.

Dan ternyata merelakan adalah pekerjaan batin yang paling sulit. Dalam kehidupan sehari-hari, pengorbanan sering hadir dalam bentuk yang tidak heroik. Ia tidak selalu tampak seperti kisah besar dalam sejarah agama atau legenda-legenda kuno.

Kadang pengorbanan hadir dalam tubuh seorang ibu yang diam-diam mengurangi kebutuhan dirinya demi anak-anaknya.

Hadir dalam ayah yang menunda membeli sesuatu yang ia inginkan karena biaya sekolah semakin mahal.

Hadir dalam seorang perantau yang memilih tidak pulang agar uangnya bisa dikirim ke rumah.

Orang-orang semacam ini jarang bicara tentang pengorbanan. Mereka tidak membuat pidato. Tidak menulis status panjang tentang kesedihan mereka. Tetapi justru dari tubuh-tubuh yang diam itulah dunia bertahan.

Saya sering merasa bahasa pengorbanan memang tidak pernah riuh. Ia bekerja seperti akar pohon yang tidak terlihat, tetapi menjaga kehidupan tetap tegak.

Dan sastra, sesungguhnya, sejak lama hidup dari kesadaran semacam itu. Puisi-puisi terbaik lahir dari kehilangan. Cerpen-cerpen paling menyentuh lahir dari manusia yang harus melepaskan sesuatu dalam hidupnya. Bahkan hikayat dan legenda Nusantara dipenuhi tokoh-tokoh yang rela mengorbankan cinta, tubuh, atau masa depannya demi sesuatu yang dianggap lebih besar. Sebab sastra pada dasarnya adalah usaha manusia memahami luka.

Iduladha lalu memperlihatkan luka itu dalam bentuk yang sangat nyata. Di halaman masjid, sapi-sapi kurban berdiri tenang di tengah keramaian manusia. Anak-anak berlarian membawa kupon daging. Lelaki-lelaki memegang tali dengan wajah tegang. Ibu-ibu menyiapkan kantong plastik sambil bercakap tentang harga kebutuhan pokok yang semakin mahal.

Semua tampak sederhana, tetapi di sanalah sebenarnya kehidupan sedang menulis puisinya sendiri.

Kadang saya merasa halaman masjid saat Iduladha lebih puitis daripada banyak festival sastra. Karena di sana manusia belajar sesuatu yang sangat mendasar bahwa hidup tidak bisa hanya diisi oleh keinginan untuk memiliki. Ada saat ketika manusia harus rela melepaskan sebagian miliknya agar orang lain tetap bisa hidup dengan layak.

Daging kurban akhirnya bukan sekadar makanan. Ia menjadi bahasa sosial. Ia mengatakan bahwa di tengah dunia yang semakin individualistis, manusia masih memiliki kemungkinan untuk berbagi.

Dan bukankah sastra yang baik juga bekerja demikian? Ia membuat manusia merasa tidak sendirian. Ia membuat seseorang yang sedang terluka merasa bahwa ada orang lain yang pernah mengalami kesedihan serupa. Ia menghadirkan empati di tengah dunia yang semakin sibuk pada dirinya sendiri.

Sebab itu saya selalu percaya, Iduladha dan sastra bertemu pada satu titik yang sama. Keduanya mengajarkan manusia agar tidak menjadi makhluk yang hanya pandai menguasai, tetapi juga mampu merelakan. (✳️)

 

📌 Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Tags: Heri IsnainiIduladhakurbanPengorbanasastra
Previous Post

Transformasi KOKAM Jateng: Dari Pengamanan hingga Pelayanan Juru Sembelih Halal Bersertifikat BNSP

Next Post

Kurban dan Kesalehan Sosial

Related Posts

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
123
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Kayu Gelondongan dan Hutan Kita

Muktamar Muhammadiyah: Menyalakan Pencerahan, Merawat Demokrasi, Membangun Peradaban

29 Juni 2026
108
Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

29 Juni 2026
104
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
Next Post
Kurban dan Kesalehan Sosial

Kurban dan Kesalehan Sosial

Cegah Kriminalitas, Shohibul: Muhammadiyah Perlu Tentukan Prioritas Orientasi Dakwahnya

LHKP Muhammadiyah Sumut Desak Pemerintah Hentikan Personifikasi Kurban APBN

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan