Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Etika Profetik di Era Algoritma: Upaya IMM Memanusiakan Manusia dalam Representasi Media Sosial

Mujaddid by Mujaddid
2026/05/18
in Esai, IMM, MahasiswaMu Menulis, Muhammadiyah, Nasional, Opini, PTM/A
Reading Time: 5 mins read
0
Etika Profetik di Era Algoritma: Upaya IMM Memanusiakan Manusia dalam Representasi Media Sosial
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Susilo

Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, terutama dalam cara masyarakat berkomunikasi dan membangun hubungan sosial. Kehadiran media sosial seperti Instagram, TikTok, Twitter, dan Facebook menjadikan ruang digital sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial tidak lagi sekadar tempat berbagi foto atau hiburan, tetapi telah menjadi ruang publik modern tempat masyarakat membentuk identitas, menyampaikan pendapat, bahkan mencari pengakuan sosial.

Namun, di balik kebebasan tersebut terdapat sistem “algoritma” yang bekerja secara tersembunyi untuk menentukan konten apa yang layak dilihat pengguna. Algoritma ini memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memandang perempuan.

Dalam banyak kasus, algoritma justru menciptakan “cermin retak” yang menampilkan citra perempuan secara tidak utuh, penuh stereotip, dan dipengaruhi bias gender yang mendalam.

Di tengah kondisi tersebut, organisasi kader seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan etika profetik dalam ruang digital. Etika profetik bukan hanya berbicara tentang moralitas individual, tetapi juga tentang misi kemanusiaan yang berlandaskan nilai kenabian: humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Dalam konteks media sosial, IMM dituntut untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga agen perubahan yang memanusiakan manusia di tengah dominasi algoritma.

Algoritma media sosial merupakan sistem otomatis yang digunakan platform digital untuk mengatur dan merekomendasikan konten kepada pengguna. Algoritma bekerja berdasarkan data aktivitas pengguna, seperti apa yang disukai, ditonton, dikomentari, atau dibagikan. Semakin tinggi interaksi terhadap suatu konten, semakin besar peluang konten tersebut disebarkan kepada lebih banyak orang.

Tujuan utama sistem ini adalah meningkatkan engagement agar pengguna menghabiskan waktu lebih lama di platform tersebut.

Akan tetapi, algoritma sebenarnya tidak benar-benar netral. Ia adalah produk dari “pelatihan” data. Algoritma dibangun dari data perilaku manusia yang telah dipengaruhi budaya sosial, termasuk budaya patriarki dan stereotip gender yang sudah lama berkembang di masyarakat. Jika data yang masuk mengandung bias, maka sistem yang dihasilkan akan mereproduksi bias tersebut dalam skala yang jauh lebih masif.

Dalam konteks ini, algoritma bertindak sebagai kurator yang sering kali meminggirkan keberagaman realitas perempuan demi konten yang dianggap “menjual” secara statistik.

Algoritma media sosial bekerja berdasarkan logika keterlibatan pengguna. Konten yang paling banyak menarik perhatian akan lebih sering dimunculkan. Akibatnya, muncul budaya sensasionalisme, polarisasi opini, hingga eksploitasi emosi publik demi memperoleh likes, komentar, dan shares. Manusia akhirnya dipandang bukan sebagai subjek bermartabat, melainkan objek konsumsi digital.

Fenomena ini terlihat dalam maraknya ujaran kebencian, penyebaran hoaks, perundungan siber, serta budaya pencitraan yang berlebihan. Representasi manusia di media sosial sering kali kehilangan dimensi autentik dan spiritual. Nilai seseorang diukur dari jumlah pengikut, estetika visual, atau viralitas konten.

Dalam kondisi demikian, media sosial dapat menciptakan dehumanisasi secara halus.

Secara sosiologis, era algoritma juga membentuk apa yang disebut sebagai “masyarakat performatif”, yaitu masyarakat yang terdorong untuk terus menampilkan citra tertentu demi pengakuan sosial. Identitas menjadi komoditas digital. Banyak individu mengalami krisis mental akibat tekanan untuk selalu terlihat sempurna di ruang maya.

Di sinilah pentingnya menghadirkan etika profetik sebagai landasan moral dalam bermedia sosial.

Etika profetik merupakan konsep yang dikembangkan oleh Kuntowijoyo melalui gagasan ilmu sosial profetik. Konsep ini bersumber dari nilai-nilai kenabian yang tercermin dalam Al-Qur’an, khususnya pada prinsip, Humanisasi (amar ma’ruf) memanusiakan manusia, Liberasi (nahi munkar) membebaskan manusia dari penindasan dan ketidakadilan, Transendensi (tu’minuna billah) menghubungkan manusia dengan nilai ketuhanan.

Dalam konteks media sosial, humanisasi berarti membangun komunikasi yang menghargai martabat manusia. Liberasi berarti melawan manipulasi informasi, eksploitasi digital, dan ketimpangan akses media. Sedangkan transendensi berarti menjadikan aktivitas digital sebagai ruang refleksi moral dan spiritual, bukan sekadar arena popularitas.

Etika profetik berbeda dengan etika digital yang hanya berfokus pada aturan teknis penggunaan media. Etika profetik menempatkan manusia sebagai pusat nilai dengan orientasi moral dan spiritual yang lebih mendalam.

Peran kita sebagai kader IMM yaitu: IMM memiliki posisi strategis dalam membangun budaya digital yang sehat. IMM tidak hanya bertugas mencetak intelektual muda, tetapi juga kader yang memiliki sensitivitas sosial dan moralitas publik.

Membangun Literasi Digital yang Beretika

IMM dapat menjadi pelopor literasi digital berbasis nilai kemanusiaan. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, dan menjaga etika komunikasi. Kader IMM harus mampu melawan budaya hoaks, ujaran kebencian, dan propaganda digital dengan pendekatan intelektual dan dialogis.

Media sosial seharusnya menjadi ruang edukasi dan pemberdayaan masyarakat, bukan arena konflik tanpa substansi.

Menghadirkan Narasi Humanis

Di tengah konten media sosial yang sering mengedepankan sensasi, IMM perlu menghadirkan narasi alternatif yang lebih humanis. Konten yang mengangkat solidaritas sosial, pendidikan, keadilan, kesehatan mental, dan pemberdayaan masyarakat merupakan bentuk nyata etika profetik dalam ruang digital. Narasi humanis penting untuk mengingatkan bahwa teknologi seharusnya melayani manusia, bukan mengendalikan manusia. IMM dapat memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan nilai empati, toleransi, dan kepedulian sosial.

Menolak Dehumanisasi Digital

Etika profetik juga menuntut keberanian untuk menolak praktik dehumanisasi di media sosial, seperti perundungan siber, eksploitasi privasi, diskriminasi, dan budaya cancel. IMM harus menjadi kelompok intelektual yang kritis terhadap sistem algoritma yang memicu polarisasi dan manipulasi emosi publik.

Dalam hal ini, kader IMM perlu mengembangkan kesadaran bahwa kebebasan berekspresi harus tetap disertai tanggung jawab moral.

Menguatkan Spirit Transendensi

Media sosial sering membuat manusia terjebak dalam budaya validasi sosial dan pencitraan. IMM dapat menghadirkan dimensi transendensi dengan menanamkan kesadaran bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh algoritma, melainkan oleh integritas moral dan kontribusi sosialnya. Spirit transendensi juga mengajarkan bahwa aktivitas digital harus memiliki orientasi kemaslahatan. Bermedia sosial bukan sekadar mencari popularitas, tetapi juga sarana dakwah intelektual dan kemanusiaan.

Meskipun penting, penerapan etika profetik menghadapi berbagai tantangan. Pertama, algoritma media sosial cenderung mempromosikan konten emosional dan kontroversial dibandingkan konten edukatif. Kedua, budaya instan membuat masyarakat lebih menyukai informasi singkat daripada refleksi mendalam. Ketiga, arus kapitalisme digital menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas ekonomi.

Selain itu, generasi muda juga menghadapi krisis identitas akibat banjir informasi digital. Dalam situasi ini, IMM perlu memperkuat kaderisasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan orientasi moral. Gerakan profetik di media sosial harus dilakukan secara kreatif dan relevan dengan bahasa generasi muda. Dakwah digital tidak cukup hanya normatif, tetapi juga harus komunikatif, inklusif, dan solutif.

Era algoritma menghadirkan tantangan besar bagi nilai kemanusiaan. Media sosial yang semestinya menjadi sarana komunikasi justru sering melahirkan dehumanisasi, polarisasi, dan krisis identitas.

Dalam kondisi tersebut, etika profetik menjadi penting sebagai fondasi moral dalam membangun ruang digital yang lebih manusiawi. Sebagai organisasi kader Islam, IMM memiliki peran strategis untuk memanusiakan manusia melalui literasi digital, narasi humanis, perlawanan terhadap dehumanisasi, dan penguatan nilai transendensi.

Kehadiran IMM di media sosial tidak boleh sekadar mengikuti arus algoritma, tetapi harus menjadi gerakan moral yang mengembalikan teknologi pada tujuan utamanya: melayani kemanusiaan.

Dengan demikian, etika profetik bukan hanya konsep teoritis, melainkan sebuah gerakan sosial yang relevan untuk menjawab krisis moral di era digital. Di tengah dominasi algoritma, IMM dituntut untuk tetap menghadirkan wajah Islam yang humanis, kritis, dan berkeadaban.

Daftar Isi

 

  • Kuntowijoyo. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan, 1991.
  • Kuntowijoyo. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004.
  • Manuel Castells. The Rise of the Network Society. Oxford: Blackwell Publishing, 2010.
  • Shoshana Zuboff. The Age of Surveillance Capitalism. New York: Public Affairs, 2019.
  • Marshall McLuhan. Understanding Media: The Extensions of Man. New York: McGraw-Hill, 1964.
  • Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Nilai Dasar Ikatan (NDI) IMM. DPP IMM.
    Muhammadiyah. Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
  • Zygmunt Bauman. Liquid Modernity. Cambridge: Polity Press, 2000.

Susilo. Seorang kader IMM yang berusia 22 tahun. Saat ini berkuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Jakarta. Pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Seni Budaya dan Olahraga PK IMM FIP UMJ periode 2024-2025.

Tags: MahasiswaMu Menulis
Previous Post

Kader Muhammadiyah Bukan Soal Keturunan

Next Post

Siap-siap! Bikin Akun Medsos Bakal Wajib Pakai Nomor HP, Komdigi Godok Aturan Baru

Related Posts

Perkuat Keadilan Ekologis, FH UMSU dan WALHI Nasional Jalin Sinergi Strategis Advokasi Hukum Lingkungan

Perkuat Keadilan Ekologis, FH UMSU dan WALHI Nasional Jalin Sinergi Strategis Advokasi Hukum Lingkungan

30 Juni 2026
108
FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
119
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
UMSU dan Telkom Gelar Pelatihan AI Gemini Academy

UMSU dan Telkom Gelar Pelatihan AI Gemini Academy

30 Juni 2026
103
Kunjungi UMSU, Chosun University Korea Selatan Gelar Pertunjukan Tari Tradisional

Kunjungi UMSU, Chosun University Korea Selatan Gelar Pertunjukan Tari Tradisional

30 Juni 2026
103
LPPM UMSU Hadir di Desa Gung Pinto, Wujudkan Pengabdian Nyata untuk Lingkungan, Kesehatan, dan Kemandirian Masyarakat

LPPM UMSU Hadir di Desa Gung Pinto, Wujudkan Pengabdian Nyata untuk Lingkungan, Kesehatan, dan Kemandirian Masyarakat

29 Juni 2026
115
Next Post
Siap-siap! Bikin Akun Medsos Bakal Wajib Pakai Nomor HP, Komdigi Godok Aturan Baru

Siap-siap! Bikin Akun Medsos Bakal Wajib Pakai Nomor HP, Komdigi Godok Aturan Baru

Dari Xinjiang hingga Beijing, UMSU Perkuat Diplomasi Pendidikan dan Kebudayaan dengan Tiongkok

Dari Xinjiang hingga Beijing, UMSU Perkuat Diplomasi Pendidikan dan Kebudayaan dengan Tiongkok

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan