Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Energi Listrik dan Peradaban Digital

Mujaddid by Mujaddid
2026/05/24
in Esai, Nasional, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
Energi Listrik dan Peradaban Digital
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Farid Wajdi

Peradaban modern berdiri di atas listrik. Gedung pencakar langit, pusat data, jaringan internet, rumah sakit modern, industri digital, transportasi massal, hingga telepon genggam di tangan manusia, seluruhnya hidup dari arus energi yang mengalir tanpa henti.

Ketika listrik menyala, manusia merasa dunia berjalan normal. Namun begitu listrik padam beberapa jam saja, kepanikan langsung menyebar. Kota modern mendadak terlihat rapuh. Teknologi yang selama ini dipuja berubah lumpuh.

Peradaban digital ternyata hanya sejauh colokan listrik. Listrik bukan lagi sekadar kebutuhan teknis. Energi listrik telah berubah menjadi syarat eksistensi peradaban modern.

Ironisnya, manusia modern sering merasa paling maju dalam sejarah, padahal ketergantungannya justru semakin ekstrem. Semakin canggih teknologi, semakin besar ketergantungan terhadap listrik.

Manusia abad digital hidup dalam paradoks besar: merasa menguasai dunia melalui teknologi, tetapi sangat tidak berdaya ketika arus listrik berhenti mengalir.

Bayangkan kota metropolitan tanpa listrik selama dua hari. Internet mati. ATM lumpuh. Pompa air berhenti. Lift tidak bergerak. Rumah sakit bertahan dengan genset darurat. Sinyal komunikasi melemah. Sistem pembayaran digital gagal bekerja. Makanan rusak di pendingin. Transportasi kacau. Dalam hitungan jam, modernitas berubah menjadi kekacauan.

Peristiwa semacam itu memperlihatkan satu kenyataan pahit: peradaban modern sangat kuat di permukaan, tetapi menyimpan kerentanan serius di fondasi dasarnya.

Dalam sejarah manusia, perubahan besar selalu ditentukan oleh energi. Peradaban agraris berkembang melalui tenaga manusia dan hewan. Revolusi industri bertumpu pada batu bara dan mesin uap. Abad ke-20 dikuasai minyak bumi. Abad ke-21 bergerak menuju peradaban listrik, digital, dan kecerdasan artifisial.

Namun ada satu ironi besar yang jarang dibicarakan. Dunia modern sibuk memamerkan teknologi canggih, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, dan transformasi digital, sementara fondasi energinya sendiri belum sepenuhnya aman. Banyak negara berlomba membangun aplikasi pintar, tetapi gagal membangun sistem energi yang benar-benar tangguh.

 

Euforia Modernisasi Simbolik

Akibatnya, satu gangguan listrik mampu melumpuhkan jutaan aktivitas manusia sekaligus.

Peradaban digital sesungguhnya sangat sensitif terhadap krisis energi. Data center membutuhkan listrik tanpa jeda. cloud computing bergantung pada stabilitas daya. Kecerdasan artifisial memerlukan energi dalam jumlah besar. Bahkan media sosial yang setiap hari dipenuhi narasi kemajuan teknologi, seluruhnya bergantung pada server yang terus menyala selama dua puluh empat jam.

Karena itu, slogan transformasi digital tanpa ketahanan energi hanya menghasilkan ilusi kemajuan.

Banyak negara berkembang terjebak dalam euforia modernisasi simbolik. Gedung pintar dibangun. Kota digital dipromosikan. Startup dipuji sebagai masa depan ekonomi. Namun infrastruktur energinya masih rapuh. Pemadaman listrik masih sering terjadi. Transmisi mudah terganggu. Distribusi tidak merata. Ketahanan sistem lemah.

Modernitas semacam ini ibarat membangun istana kaca di atas tanah retak.

Indonesia menghadapi paradoks tersebut secara nyata. Pemerintah berbicara tentang hilirisasi industri, ekonomi digital, kendaraan listrik, dan kecerdasan artifisial.

Namun dalam waktu bersamaan, pemadaman massal masih terjadi di berbagai wilayah. Ketika satu gangguan transmisi mampu memicu blackout luas, publik dipaksa menyadari satu kenyataan sederhana: Indonesia ingin melompat menuju peradaban digital, tetapi fondasi energinya belum sepenuhnya siap menopang lompatan tersebut.

Persoalan terbesar Indonesia bukan sekadar kekurangan listrik. Persoalan utamanya terletak pada ketahanan sistem.

Selama bertahun-tahun, pembangunan energi lebih sibuk mengejar angka megawatt. Pemerintah bangga mengumumkan tambahan pembangkit baru, tetapi lupa bahwa peradaban modern tidak hanya membutuhkan listrik tersedia, melainkan listrik yang stabil, tahan gangguan, dan mampu bertahan dalam situasi krisis.

Negara maju memahami logika tersebut sejak lama. Mereka membangun sistem berlapis. Jika satu jalur terganggu, jalur lain mengambil alih. Jika satu pusat gagal, sistem cadangan bergerak otomatis. Mereka mengembangkan smart grid, keamanan siber kelistrikan, artificial intelligence untuk deteksi gangguan, serta jaringan energi berbasis mitigasi bencana.

Sebaliknya, banyak negara berkembang masih terjebak pada pola reaktif. Infrastruktur dibiarkan menua. Sistem diperbaiki setelah krisis terjadi. Permintaan maaf lebih sering muncul dibanding reformasi mendasar.

 

Urat Saraf Peradaban

Padahal listrik bukan sekadar komoditas ekonomi. Listrik adalah urat saraf negara modern.

Tanpa listrik stabil, tidak ada industri kuat. Tanpa listrik stabil, tidak ada ekonomi digital. Tanpa listrik stabil, tidak ada keamanan nasional yang benar-benar kokoh. Negara boleh memiliki sumber daya alam melimpah, tetapi tanpa sistem energi tangguh, seluruh potensi tersebut dapat runtuh hanya karena satu gangguan besar.

Karena itu, energi hari ini telah berubah menjadi arena perebutan kekuatan global. Konflik Rusia-Ukraina memperlihatkan betapa energi dapat digunakan sebagai instrumen tekanan geopolitik. Eropa mengalami guncangan besar akibat ketergantungan gas terhadap Rusia. Harga energi melonjak. Inflasi meningkat. Industri terganggu. Krisis tersebut membuktikan energi bukan lagi urusan teknis, melainkan instrumen politik dan pertahanan.

Dunia sedang memasuki era perang energi. Dalam konteks tersebut, ketergantungan energi tanpa ketahanan sistem merupakan ancaman serius bagi masa depan negara.

Ironisnya, banyak elite politik lebih tertarik membangun pencitraan proyek besar dibanding memperkuat fondasi dasar energi nasional. Infrastruktur megah lebih mudah dipamerkan dibanding investasi jaringan transmisi atau modernisasi distribusi listrik yang tidak terlalu terlihat publik.

Padahal justru dari kabel-kabel yang jarang diperhatikan itulah kehidupan modern bergerak.

Krisis energi juga memperlihatkan wajah ketimpangan sosial. Di kota besar, listrik dianggap kebutuhan normal. Namun di banyak wilayah terpencil, akses listrik masih terbatas dan tidak stabil. Anak-anak belajar dengan penerangan minim. Aktivitas ekonomi tersendat. Teknologi sulit berkembang. Ketimpangan energi akhirnya berubah menjadi ketimpangan pendidikan, ekonomi, dan masa depan.

Karena itu, pembangunan energi sesungguhnya bukan hanya proyek infrastruktur, melainkan proyek keadilan sosial dan proyek peradaban.

Abad ke-21 akan ditentukan oleh negara yang mampu mengelola energi secara cerdas. Negara dengan sistem energi kuat akan memimpin industri digital, kecerdasan artifisial, dan ekonomi masa depan. Sebaliknya, negara dengan sistem energi rapuh akan terus tertinggal, meskipun memiliki sumber daya alam melimpah.

Peradaban modern bergerak melalui arus listrik yang nyaris tidak terlihat mata manusia. Namun dari aliran tak terlihat tersebut, ekonomi hidup, teknologi berkembang, industri bergerak, dan negara mempertahankan stabilitasnya.

Ketika listrik menyala, manusia merasa dunia aman. Ketika listrik padam, manusia baru sadar betapa rapuh peradaban yang selama ini dibanggakan.

Karena itu, energi listrik bukan sekadar soal cahaya. Energi listrik telah berubah menjadi penentu hidup-matinya peradaban digital modern. (*)

 

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

–

Tags: listrikListrik PadamPeradaban Digital
Previous Post

Blackout Sumatera Lumpuhkan Aktivitas Masyarakat, Pemuda Muhammadiyah: PLN Jangan Hanya Minta Maaf, Rakyat Berhak Dapat Kompensasi Nyata

Next Post

Blackout Sumatera, Ethics of Care Desak Audit Total Ketahanan Sistem Kelistrikan Nasional

Related Posts

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
138
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
107
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Kayu Gelondongan dan Hutan Kita

Muktamar Muhammadiyah: Menyalakan Pencerahan, Merawat Demokrasi, Membangun Peradaban

29 Juni 2026
108
Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

29 Juni 2026
104
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
Next Post
Potret Satu Tahun Prabowo: Hukum Bertekuk Lutut ke Atas

Blackout Sumatera, Ethics of Care Desak Audit Total Ketahanan Sistem Kelistrikan Nasional

Usung Tema “Kami Muslim, Kami Pemimpin”, 530 Siswa SD Muhammadiyah 16 Surabaya Pukau Panggung Famfest 16

Usung Tema “Kami Muslim, Kami Pemimpin”, 530 Siswa SD Muhammadiyah 16 Surabaya Pukau Panggung Famfest 16

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
107
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan