Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Alegori Gua Plato dan Fenomena Kritik terhadap Kekuasaan di Indonesia

Mujaddid by Mujaddid
2026/05/30
in Nasional, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Alegori Gua Plato dan Fenomena Kritik terhadap Kekuasaan di Indonesia
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Robert Hardiyanto

Dalam Alegori Gua, Plato menggambarkan manusia sebagai tahanan yang sejak lahir hidup di dalam gua. Mereka hanya melihat bayangan di dinding dan menganggap bayangan itu sebagai kenyataan. Ketika salah satu tahanan berhasil keluar dan melihat dunia yang sebenarnya, ia menyadari bahwa selama ini dirinya hidup dalam ilusi. Namun ketika kembali ke dalam gua untuk memberitahu yang lain, ia justru ditolak, diejek, bahkan dianggap berbahaya.

Meski ditulis lebih dari dua ribu tahun lalu, alegori tersebut masih relevan untuk memahami kondisi sosial-politik modern, termasuk fenomena kritik terhadap kekuasaan yang terjadi di Indonesia saat ini.

 

Bayangan dalam Ruang Publik Modern

Di era digital, “bayangan” tidak lagi berbentuk pantulan cahaya di dinding gua, melainkan informasi yang terus-menerus diproduksi melalui media sosial, propaganda politik, buzzer, algoritma, dan narasi yang dibangun oleh berbagai kelompok kepentingan.

Masyarakat sering kali menerima informasi yang berulang-ulang muncul sebagai kebenaran tanpa proses verifikasi yang memadai. Akibatnya, ruang publik dipenuhi persepsi yang belum tentu identik dengan realitas.

Ketika seseorang mencoba mempertanyakan suatu kebijakan, mengkritik penguasa, atau mengungkap sisi lain dari sebuah persoalan, ia sering dianggap mengganggu kenyamanan narasi yang sudah diterima mayoritas.
Dalam konteks inilah kritik menjadi mirip dengan tindakan tahanan yang keluar dari gua. Ia mencoba menunjukkan bahwa ada realitas yang lebih kompleks dibanding apa yang selama ini dipercaya.

 

Kritik sebagai Upaya Keluar dari Gua

Dalam negara demokrasi, kritik bukan ancaman bagi negara. Kritik justru merupakan mekanisme koreksi agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol.

Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan berpendapat sebagai hak warga negara. Namun berbagai laporan dan perdebatan publik menunjukkan adanya kekhawatiran sebagian masyarakat sipil mengenai menyempitnya ruang kritik, meningkatnya stigma terhadap kelompok kritis, serta kecenderungan mengaitkan kritik dengan ancaman terhadap negara atau stabilitas nasional.

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana kritik kadang tidak diperlakukan sebagai masukan, melainkan dianggap sebagai bentuk permusuhan.

BACA JUGA: Kutukan “Naga Baru”

Dalam logika Alegori Gua, kondisi ini mirip ketika para tahanan lebih nyaman mempertahankan bayangan yang mereka kenal daripada menghadapi kenyataan yang mungkin mengguncang keyakinan mereka.

 

Ketika Pengkritik Dianggap Musuh

Salah satu gejala yang sering muncul dalam masyarakat yang terpolarisasi adalah pelabelan terhadap pihak yang berbeda pendapat.

Alih-alih membahas substansi kritik, perhatian justru dialihkan kepada identitas pengkritiknya. Mereka dapat dicap sebagai provokator, pembenci negara, tidak nasionalis, bahkan dituduh memiliki kepentingan asing.

Berbagai organisasi masyarakat sipil dan lembaga HAM menyoroti kecenderungan pelabelan semacam ini karena berpotensi menciptakan rasa takut dalam ruang demokrasi.

Padahal dalam negara demokrasi, loyalitas kepada bangsa tidak selalu diwujudkan melalui pujian kepada pemerintah. Dalam banyak kasus, kritik justru lahir dari kepedulian terhadap masa depan negara.

Seseorang yang mengkritik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, ketimpangan sosial, atau kebijakan yang dianggap merugikan rakyat belum tentu membenci negaranya. Bisa jadi ia sedang berusaha memperbaikinya.

 

Bahaya Kebenaran yang Mengaku Absolut

Namun Alegori Gua juga memberikan peringatan penting bagi para pengkritik.

Tidak semua orang yang mengaku membawa “cahaya” benar-benar membawa kebenaran. Dalam dunia politik, kritik pun dapat berubah menjadi propaganda jika tidak didasarkan pada fakta, data, dan kejujuran intelektual.

Karena itu, masyarakat tidak boleh terjebak pada dua ekstrem:

Pertama, menerima semua narasi pemerintah tanpa kritik.

Kedua, menolak semua kebijakan pemerintah hanya karena kebencian politik.

Keduanya sama-sama berpotensi menjadi “gua” baru yang membatasi kemampuan berpikir kritis.
Sikap yang diperlukan adalah kemampuan memeriksa fakta, mendengar berbagai sudut pandang, dan bersedia mengoreksi keyakinan sendiri ketika menemukan informasi yang lebih kuat.

 

Indonesia dan Ujian Demokrasi

Perjalanan demokrasi Indonesia setelah Reformasi menunjukkan bahwa kebebasan yang diperoleh tidak selalu berjalan tanpa tantangan.
Berbagai perdebatan mengenai kebebasan berekspresi, ruang kritik, posisi masyarakat sipil, peran aparat keamanan, hingga penggunaan regulasi yang dianggap multitafsir menunjukkan bahwa demokrasi bukan sesuatu yang selesai dibangun sekali jadi. Demokrasi adalah proses yang harus terus dijaga.

Dalam perspektif Alegori Gua, tantangan terbesar bukan sekadar menemukan kebenaran, melainkan menjaga keberanian untuk terus mencarinya.

Karena sering kali manusia lebih menyukai kenyamanan ilusi daripada ketidaknyamanan fakta.

Penutup

Alegori Gua mengajarkan bahwa masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang tidak memiliki kritik, melainkan masyarakat yang mampu menerima kritik sebagai bagian dari pencarian kebenaran.

Kekuasaan yang kuat tidak ditentukan oleh kemampuannya membungkam suara berbeda, tetapi oleh kemampuannya mendengar, menguji, dan menjawab kritik secara terbuka.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kritik yang disampaikan tidak berubah menjadi fitnah, kebencian, atau manipulasi informasi.
Karena tujuan akhir demokrasi bukan kemenangan penguasa ataupun oposisi, melainkan terciptanya ruang publik yang memungkinkan kebenaran terus dicari, diuji, dan diperjuangkan bersama.

Dalam bahasa Plato, tugas manusia bukan tinggal selamanya di dalam gua, tetapi terus berusaha membedakan mana bayangan, mana cahaya, dan mana kebenaran yang sesungguhnya. (*)

 

Penulis adalah Pengurus PDM Tangsel, Anggota Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata. Pengurus PCM Ciputat Timur, Anggota Majelis Penelitian dan Pengembangan.

Tags: Alegori GoakekuasaankritikRobert Hardiyanto
Previous Post

Ousmane Dembélé: Di Antara Gemuruh Stadion, Dekapan Hangat Keluarga, dan Teduhnya Doa

Next Post

Bungkam Ejekan “Liga Petani”, PSG Segel Status Penguasa Eropa Back-to-Back!

Related Posts

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
119
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

29 Juni 2026
104
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Next Post
Bungkam Ejekan “Liga Petani”, PSG Segel Status Penguasa Eropa Back-to-Back!

Bungkam Ejekan "Liga Petani", PSG Segel Status Penguasa Eropa Back-to-Back!

Mahabbah sebagai Jantung Sastra Profetik

Mahabbah sebagai Jantung Sastra Profetik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
116
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan