No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Alegori Gua Plato dan Fenomena Kritik terhadap Kekuasaan di Indonesia

30 Mei 2026
in Nasional, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Robert Hardiyanto

Dalam Alegori Gua, Plato menggambarkan manusia sebagai tahanan yang sejak lahir hidup di dalam gua. Mereka hanya melihat bayangan di dinding dan menganggap bayangan itu sebagai kenyataan. Ketika salah satu tahanan berhasil keluar dan melihat dunia yang sebenarnya, ia menyadari bahwa selama ini dirinya hidup dalam ilusi. Namun ketika kembali ke dalam gua untuk memberitahu yang lain, ia justru ditolak, diejek, bahkan dianggap berbahaya.

Meski ditulis lebih dari dua ribu tahun lalu, alegori tersebut masih relevan untuk memahami kondisi sosial-politik modern, termasuk fenomena kritik terhadap kekuasaan yang terjadi di Indonesia saat ini.

 

Bayangan dalam Ruang Publik Modern

Di era digital, “bayangan” tidak lagi berbentuk pantulan cahaya di dinding gua, melainkan informasi yang terus-menerus diproduksi melalui media sosial, propaganda politik, buzzer, algoritma, dan narasi yang dibangun oleh berbagai kelompok kepentingan.

Masyarakat sering kali menerima informasi yang berulang-ulang muncul sebagai kebenaran tanpa proses verifikasi yang memadai. Akibatnya, ruang publik dipenuhi persepsi yang belum tentu identik dengan realitas.

Ketika seseorang mencoba mempertanyakan suatu kebijakan, mengkritik penguasa, atau mengungkap sisi lain dari sebuah persoalan, ia sering dianggap mengganggu kenyamanan narasi yang sudah diterima mayoritas.
Dalam konteks inilah kritik menjadi mirip dengan tindakan tahanan yang keluar dari gua. Ia mencoba menunjukkan bahwa ada realitas yang lebih kompleks dibanding apa yang selama ini dipercaya.

 

Kritik sebagai Upaya Keluar dari Gua

Dalam negara demokrasi, kritik bukan ancaman bagi negara. Kritik justru merupakan mekanisme koreksi agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol.

Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan berpendapat sebagai hak warga negara. Namun berbagai laporan dan perdebatan publik menunjukkan adanya kekhawatiran sebagian masyarakat sipil mengenai menyempitnya ruang kritik, meningkatnya stigma terhadap kelompok kritis, serta kecenderungan mengaitkan kritik dengan ancaman terhadap negara atau stabilitas nasional.

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana kritik kadang tidak diperlakukan sebagai masukan, melainkan dianggap sebagai bentuk permusuhan.

BACA JUGA: Kutukan “Naga Baru”

Dalam logika Alegori Gua, kondisi ini mirip ketika para tahanan lebih nyaman mempertahankan bayangan yang mereka kenal daripada menghadapi kenyataan yang mungkin mengguncang keyakinan mereka.

 

Ketika Pengkritik Dianggap Musuh

Salah satu gejala yang sering muncul dalam masyarakat yang terpolarisasi adalah pelabelan terhadap pihak yang berbeda pendapat.

Alih-alih membahas substansi kritik, perhatian justru dialihkan kepada identitas pengkritiknya. Mereka dapat dicap sebagai provokator, pembenci negara, tidak nasionalis, bahkan dituduh memiliki kepentingan asing.

Berbagai organisasi masyarakat sipil dan lembaga HAM menyoroti kecenderungan pelabelan semacam ini karena berpotensi menciptakan rasa takut dalam ruang demokrasi.

Padahal dalam negara demokrasi, loyalitas kepada bangsa tidak selalu diwujudkan melalui pujian kepada pemerintah. Dalam banyak kasus, kritik justru lahir dari kepedulian terhadap masa depan negara.

Seseorang yang mengkritik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, ketimpangan sosial, atau kebijakan yang dianggap merugikan rakyat belum tentu membenci negaranya. Bisa jadi ia sedang berusaha memperbaikinya.

 

Bahaya Kebenaran yang Mengaku Absolut

Namun Alegori Gua juga memberikan peringatan penting bagi para pengkritik.

Tidak semua orang yang mengaku membawa “cahaya” benar-benar membawa kebenaran. Dalam dunia politik, kritik pun dapat berubah menjadi propaganda jika tidak didasarkan pada fakta, data, dan kejujuran intelektual.

Karena itu, masyarakat tidak boleh terjebak pada dua ekstrem:

Pertama, menerima semua narasi pemerintah tanpa kritik.

Kedua, menolak semua kebijakan pemerintah hanya karena kebencian politik.

BACA JUGA

Puisi~puisi Zahra Nur Alfiyah (2)

Pimpinan FEB UMSU Berikan Dukungan Penuh untuk 3 Tim Mahasiswa yang Lolos jadi Finalis di Ajang KMI Expo XIV dan Pimnas 36

Jumlah Hadiah Tantangan Prof Suteki kepada Prof Mahfud Naik jadi Rp 11.350.000

UMP Luncurkan Akademi Sepakbola Muhammadiyah untuk Cetak Talenta Muda Berprestasi

Penggeledahan Rumah Ketua KPK Firli Bahuri Layak Diapresiasi

Nama yang Ditinggalkan, Makna yang Ditinggikan

Keduanya sama-sama berpotensi menjadi “gua” baru yang membatasi kemampuan berpikir kritis.
Sikap yang diperlukan adalah kemampuan memeriksa fakta, mendengar berbagai sudut pandang, dan bersedia mengoreksi keyakinan sendiri ketika menemukan informasi yang lebih kuat.

 

Indonesia dan Ujian Demokrasi

Perjalanan demokrasi Indonesia setelah Reformasi menunjukkan bahwa kebebasan yang diperoleh tidak selalu berjalan tanpa tantangan.
Berbagai perdebatan mengenai kebebasan berekspresi, ruang kritik, posisi masyarakat sipil, peran aparat keamanan, hingga penggunaan regulasi yang dianggap multitafsir menunjukkan bahwa demokrasi bukan sesuatu yang selesai dibangun sekali jadi. Demokrasi adalah proses yang harus terus dijaga.

Dalam perspektif Alegori Gua, tantangan terbesar bukan sekadar menemukan kebenaran, melainkan menjaga keberanian untuk terus mencarinya.

Karena sering kali manusia lebih menyukai kenyamanan ilusi daripada ketidaknyamanan fakta.

Penutup

Alegori Gua mengajarkan bahwa masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang tidak memiliki kritik, melainkan masyarakat yang mampu menerima kritik sebagai bagian dari pencarian kebenaran.

Kekuasaan yang kuat tidak ditentukan oleh kemampuannya membungkam suara berbeda, tetapi oleh kemampuannya mendengar, menguji, dan menjawab kritik secara terbuka.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kritik yang disampaikan tidak berubah menjadi fitnah, kebencian, atau manipulasi informasi.
Karena tujuan akhir demokrasi bukan kemenangan penguasa ataupun oposisi, melainkan terciptanya ruang publik yang memungkinkan kebenaran terus dicari, diuji, dan diperjuangkan bersama.

Dalam bahasa Plato, tugas manusia bukan tinggal selamanya di dalam gua, tetapi terus berusaha membedakan mana bayangan, mana cahaya, dan mana kebenaran yang sesungguhnya. (*)

 

Penulis adalah Pengurus PDM Tangsel, Anggota Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata. Pengurus PCM Ciputat Timur, Anggota Majelis Penelitian dan Pengembangan.

Tags: Alegori GoakekuasaankritikRobert Hardiyanto
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Plot Twist dalam Drama Politik
Editorial

Plot Twist dalam Drama Politik

by Mujaddid
19 September 2026
74
Budak Tahta (Buta)
M. Risfan Sihaloho

Budak Tahta (Buta)

by Mujaddid
7 September 2026
72
Politik: Cara Merampok Dunia
Nasional

Politik: Cara Merampok Dunia

by Mujaddid
26 Agustus 2026
111
Menguji Kedaulatan Anggota Koperasi di Balik Penyiapan Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih
Daerah

Menguji Kedaulatan Anggota Koperasi di Balik Penyiapan Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih

by Mujaddid
19 Juni 2026
70
Ilusi Mengubah Sistem dari Dalam
Nasional

Ilusi Mengubah Sistem dari Dalam

by Mujaddid
1 September 2026
86
Sentimen versus Argumen
Nasional

Sentimen versus Argumen

by Mujaddid
3 Juni 2026
95
Ketika Keadilan Menjadi Milik yang Kuat: Membaca Plato di Tengah Realitas Indonesia
Esai

Ketika Keadilan Menjadi Milik yang Kuat: Membaca Plato di Tengah Realitas Indonesia

by Mujaddid
1 Juni 2026
96
Ditantang Mundur dari ASN Jika Ingin Kritik Pemerintah, Begini Jawaban Feri Amsari
Nasional

Ditantang Mundur dari ASN Jika Ingin Kritik Pemerintah, Begini Jawaban Feri Amsari

by Mujaddid
20 April 2026
190
Kriminalisasi Suara Kritis
Nasional

Kriminalisasi Suara Kritis

by Mujaddid
18 April 2026
167
Kritik Gratis, Jembatan Tidak Jadi
Nasional

Kritik Gratis, Jembatan Tidak Jadi

by Mujaddid
9 April 2026
91

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai
  • Siswa SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta Juara 1 Nasional ISPO 2026 Lewat Sistem IoT Penyiraman Cabai
  • Ekstrakurikuler Karawitan SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo Latih Ibu-Ibu Sekolah Lansia, Perkuat Pelestarian Budaya dan Kepedulian Antargenerasi
  • Perkuat Pengabdian kepada Masyarakat, SPs UMSU Gelar Bazar UMKM, Donor Darah, dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
  • Kuliah Umum SPs UMSU Hadirkan Pemprov Sumut, Bahas Digitalisasi UMKM dan Ekonomi Kreatif
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?
Nasional

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?

Pertanyaan Hakim dan Pertanyaan Munkar-Nakir
Jufri Daily

Pertanyaan Hakim dan Pertanyaan Munkar-Nakir

Sang Surya di Horison Pesisir: Dakwah Muhammadiyah Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Bahari
AUM

Sang Surya di Horison Pesisir: Dakwah Muhammadiyah Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Bahari

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.