Oleh: Heri Isnaini
Ketika mendengar istilah sastra profetik, sebagian besar pembaca sastra Indonesia segera mengingat nama Kuntowijoyo. Bersamaan dengan itu, muncul pula tiga kata yang selama ini menjadi penanda utama gagasannya: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Tiga konsep tersebut dianggap sebagai fondasi sastra profetik, sebuah konsep dalam sastra yang tidak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, tetapi juga tentang tanggung jawab kemanusiaan dan kesadaran ketuhanan.
Dalam berbagai diskusi sastra, ketiga konsep itu sering dijelaskan secara terpisah. Humanisasi dipahami sebagai upaya memanusiakan manusia. Liberasi dipahami sebagai pembebasan dari berbagai bentuk penindasan. Sementara transendensi dipahami sebagai kesadaran manusia akan kehadiran Tuhan. Ketiganya menjadi kerangka yang sangat penting dalam memahami sastra profetik.
Namun, setelah membaca kembali puisi-puisi Kuntowijoyo, saya menemukan sesuatu yang jarang dibicarakan. Di balik humanisasi, liberasi, dan transendensi, terdapat energi spiritual yang lebih mendasar. Energi itulah yang membuat sastra profetik tetap hidup dan relevan hingga hari ini. Energi itu bernama mahabbah.
Mahabbah sering diterjemahkan sebagai cinta kepada Tuhan. Akan tetapi, dalam tradisi tasawuf, mahabbah bukan sekadar perasaan. Ia adalah cara berada. Ia adalah cara manusia memandang dirinya, sesamanya, alam semesta, dan Tuhan. Mahabbah bukan emosi yang sesekali datang lalu menghilang. Ia adalah pusat kesadaran yang menggerakkan seluruh laku spiritual manusia.
Sebab itu, saya berpendapat bahwa mahabbah sesungguhnya merupakan jantung sastra profetik. Tanpa cinta kepada Tuhan, transendensi hanya menjadi konsep yang dingin. Tanpa cinta kepada manusia, humanisasi hanya berubah menjadi slogan moral. Tanpa cinta kepada keadilan, liberasi hanya menjadi gerakan sosial yang kehilangan ruhnya. Dan, Mahabbah adalah sumber yang menghidupi ketiganya.
Dalam puisi-puisi Kuntowijoyo, mahabbah tidak hadir sebagai teori. Ia hadir sebagai pengalaman. Ia hadir melalui simbol-simbol yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti melalui hujan, daun, laut, menara, jalan, rumah, anak-anak, dan berbagai fenomena yang tampak biasa. Namun justru dari hal-hal sederhana itulah pengalaman spiritual memperoleh kedalamannya.
Perhatikan sajak “Bangun-Bangun”. /Apakah maksud-Mu mengirim awan itu/ Apakah maksud-Mu mengirim hujan itu/ Apakah maksud-Mu mengirim pohon randu itu/ Engkau masih memanggilku juga/ Aku cinta kepada-Mu/.
Pada pandangan pertama, puisi ini tampak sederhana. Akan tetapi, jika dibaca secara sufistik, puisi ini mengandung kesadaran yang sangat mendalam. Penyair tidak bertanya tentang dirinya sendiri. Ia bertanya tentang maksud Tuhan.
Awan, hujan, dan pohon randu tidak lagi dipandang sebagai objek alam semata. Semuanya berubah menjadi tanda-tanda Ilahi. Dunia menjadi kitab yang harus dibaca. Alam menjadi bahasa yang harus dipahami.
Dalam tradisi tasawuf, kesadaran seperti inilah yang menjadi awal perjalanan mahabbah. Seorang salik mulai menyadari bahwa seluruh semesta adalah isyarat yang mengarah kepada Tuhan.
Menariknya, cara pandang ini juga dekat dengan kebijaksanaan Jawa. Dalam tradisi Jawa dikenal konsep eling, yaitu kesadaran untuk selalu mengingat asal-usul dan tujuan hidup. Orang yang eling mampu melihat makna di balik setiap peristiwa. Hujan bukan sekadar hujan. Pohon bukan sekadar pohon. Segala sesuatu mengandung petunjuk yang mengarahkan manusia kepada Yang Mahatinggi.
Dari sinilah mahabbah bermula. Bukan dari dogma. Bukan dari ketakutan. Melainkan dari kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam seluruh ciptaan.
Namun, perjalanan spiritual tidak berhenti pada mahabbah. Dalam tradisi tasawuf, cinta berkembang menjadi uns, yaitu keintiman batin dengan Tuhan.
Tahap ini tampak jelas dalam sajak “Diam”. /hanya napas yang lembut/ menghembus cinta/ daun-daun/ menghapus debu/.
Tidak ada ledakan emosi dalam puisi ini. Tidak ada seruan yang keras. Tidak ada ekstase yang berlebihan. Yang ada hanyalah napas yang lembut dan daun-daun yang bergerak perlahan.
Di sinilah keistimewaan Kuntowijoyo. Ia tidak menggambarkan cinta kepada Tuhan sebagai pengalaman yang spektakuler. Cinta justru hadir dalam keheningan. Dalam kesadaran yang nyaris tidak terdengar.
Di tengah dunia modern yang semakin bising, puisi ini terasa seperti pengingat bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak selalu ditemukan dalam keramaian. Keintiman spiritual sering kali lahir dari kemampuan manusia untuk diam, mendengarkan dirinya sendiri, dan merasakan kehadiran Tuhan dalam kesunyian.
Tahap berikutnya tampak dalam sajak “Mobil”. /Aku menutup mata/ aku ingin melihat rumahku/ Alangkah jelasnya, Tuhan/.
Puisi ini sangat menarik karena pengalaman spiritual tidak terjadi di masjid, di gunung, atau di ruang pertapaan. Pengalaman itu justru terjadi di dalam mobil, di tengah dunia modern yang penuh kebisingan.
Kuntowijoyo seolah ingin mengatakan bahwa Tuhan tidak berada jauh dari kehidupan manusia. Tuhan hadir di tengah kemacetan, kesibukan, dan rutinitas sehari-hari. Kerinduan kepada Tuhan tidak menuntut manusia meninggalkan dunia. Sebaliknya, manusia dituntut menemukan Tuhan di dalam dunia itu sendiri.
Di sinilah sastra profetik memperlihatkan kekhasannya. Spiritualitas tidak dipisahkan dari realitas sosial. Keintiman dengan Tuhan tidak menjauhkan manusia dari kehidupan.
Sebaliknya, keintiman itu justru membuat manusia semakin peka terhadap realitas. Kesadaran seperti inilah yang kemudian melahirkan humanisasi. Seseorang yang mencintai Tuhan akan lebih mudah mencintai sesamanya.
Seseorang yang merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya akan lebih mudah menghargai martabat manusia lain. Sebab itu, humanisasi dalam sastra profetik bukan sekadar agenda sosial. Humanisasi lahir dari pengalaman spiritual yang mendalam.
Hal yang sama berlaku pada liberasi. Mengapa seseorang membela orang tertindas? Mengapa seseorang menolak ketidakadilan? Mengapa seseorang rela berkorban demi orang lain? Jawaban terdalamnya adalah cinta.
Liberasi yang tidak dilandasi cinta mudah berubah menjadi kemarahan. Sebaliknya, liberasi yang lahir dari mahabbah akan menghasilkan pembebasan yang manusiawi. Cinta memperluas empati. Cinta menghapus jarak. Cinta membuat penderitaan orang lain terasa sebagai penderitaan kita sendiri.
Sebab itu, mahabbah bukan hanya pengalaman vertikal antara manusia dan Tuhan. Mahabbah juga melahirkan tanggung jawab horizontal terhadap sesama manusia.
Puncak perjalanan spiritual tersebut hadir dalam sajak “Laut”. /Matanya adalah matamu/ Tubuhnya adalah tubuhmu/ Sukmanya adalah sukmamu/.
Inilah tahap yang dalam tradisi tasawuf disebut makrifat. Makrifat bukan pengetahuan intelektual. Makrifat adalah penyaksian batin. Seseorang tidak lagi hanya mengetahui Tuhan, tetapi mengalami kehadiran-Nya secara eksistensial.
Dalam puisi ini, batas antara aku dan Engkau mulai mengabur. Yang tersisa adalah kesadaran tentang kedekatan yang tidak lagi dapat dijelaskan sepenuhnya oleh bahasa. Simbol laut menjadi sangat penting. Laut adalah keluasan. Laut adalah kedalaman. Laut adalah misteri.
Dalam banyak tradisi sufistik, laut melambangkan hakikat yang tak pernah habis dijelajahi. Ombaknya adalah pengalaman hidup manusia. Kedalamannya adalah rahasia ketuhanan.
Tidak mengherankan jika Kuntowijoyo menghadirkan simbol Dewa Ruci dalam puisi ini. Kisah Dewa Ruci dalam tradisi Jawa merupakan kisah pencarian diri yang berujung pada penemuan hakikat kehidupan. Dengan demikian, puisi Laut memperlihatkan pertemuan yang indah antara tasawuf Islam dan kebijaksanaan Jawa.
Pada titik ini, mahabbah berkembang menjadi uns. Uns berkembang menjadi makrifat. Dan makrifat bukan akhir perjalanan, melainkan cara baru dalam memandang kehidupan. Melalui pembacaan semacam ini, tampak bahwa sastra profetik Kuntowijoyo sesungguhnya dibangun oleh satu energi yang sama, yakni mahabbah.
Mahabbah melahirkan transendensi karena cinta membuat manusia mencari Tuhan.
Mahabbah melahirkan humanisasi karena cinta membuat manusia menghormati sesamanya.
Mahabbah melahirkan liberasi karena cinta membuat manusia menolak penindasan.
Humanisasi, liberasi, dan transendensi bukanlah konsep-konsep yang berdiri sendiri. Ketiganya tumbuh dari akar yang sama, yakni cinta Ilahi. Mungkin inilah yang membuat puisi-puisi Kuntowijoyo tetap terasa hidup hingga sekarang. Ia tidak hanya menawarkan keindahan bahasa atau kedalaman intelektual. Ia menawarkan sesuatu yang lebih mendasar: pengalaman menjadi manusia yang mencintai.
Di tengah dunia yang semakin gaduh, ketika agama sering berubah menjadi perdebatan dan spiritualitas sering direduksi menjadi simbol-simbol lahiriah, puisi-puisi Kuntowijoyo mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana tetapi sangat penting. Bahwa pada akhirnya, jalan menuju Tuhan adalah jalan cinta.
Dan sastra profetik, pada hakikatnya, adalah sastra yang menjaga nyala cinta itu tetap hidup. (*)
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.






