Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Pagi ini Senin dua hari menjelang Idul Adha yang juga dikenal sebagai hari raya kurban atau hari raya haji. Saya membaca gambar-gambar atau meme yang menarik dan mengundang perhatian saya. Di tengah suasana umat Islam mempersiapkan hewan kurban, membersihkan hati, dan mengingat keteladanan Nabi Ibrahim AS tentang pengorbanan dan keikhlasan, media sosial justru dipenuhi berbagai sindiran politik, kritik kekuasaan, dan keresahan rakyat yang dituangkan dalam gambar sederhana namun penuh makna.
Ada meme yang membandingkan pemimpin masa lalu dengan pemimpin hari ini. Ada pula yang mempertanyakan mengapa kritik kepada penguasa sering dianggap kebencian. Bahkan ada yang menyentil soal keluarga, jabatan, dan lingkar kekuasaan yang dianggap semakin sempit untuk rakyat biasa.
Semua itu sesungguhnya bukan hanya soal siapa presidennya. Lebih dalam dari itu, ini adalah gambaran tentang hubungan antara rakyat, kekuasaan, dan harapan yang mulai mengalami jarak.
Di negeri ini rakyat sebenarnya tidak terlalu menuntut banyak. Mereka hanya ingin hidup lebih tenang, harga kebutuhan tidak mencekik, pekerjaan tersedia, listrik tidak sering mati, pendidikan terjangkau, dan hukum berdiri tanpa memilih wajah. Tetapi ketika kehidupan terasa makin berat, sementara di layar televisi dan media sosial rakyat disuguhi kemewahan kekuasaan, maka lahirlah satire, meme, dan sindiran sebagai bahasa perlawanan paling sederhana.
Media sosial akhirnya menjadi “warung kopi digital” tempat rakyat melampiaskan isi hati. Kadang lucu, kadang tajam, kadang juga berlebihan. Tetapi satu hal yang tidak bisa dipungkiri: meme sering lahir dari rasa kecewa yang lama dipendam.
Padahal demokrasi sejatinya memberi ruang agar rakyat dapat berbicara tanpa takut dicurigai. Kritik bukan berarti membenci negara. Mengingatkan penguasa bukan berarti ingin menjatuhkan bangsa. Justru bangsa yang sehat adalah bangsa yang pemimpinnya bersedia mendengar suara-suara kecil dari bawah.
Idul Adha sendiri mengajarkan nilai yang sangat dalam tentang pengorbanan. Nabi Ibrahim AS tidak mempertahankan ego dan kepentingannya sendiri. Beliau mengajarkan bahwa kekuasaan tertinggi sekalipun harus tunduk kepada nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Maka sangat ironis jika di zaman modern hari ini, ada pemimpin atau elite yang justru lebih sibuk mempertahankan kekuasaan dibanding memperjuangkan pengorbanan untuk rakyat.
Kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Kurban juga tentang menyembelih keserakahan, egoisme, kerakusan jabatan, dan sikap merasa paling benar. Sebab sering kali yang paling sulit dikorbankan manusia bukan kambing atau sapi, tetapi ambisi dan kepentingannya sendiri.
Bangsa ini memerlukan lebih banyak pemimpin yang mau mendengar dibanding marah. Lebih banyak pemimpin yang siap dikritik dibanding sibuk mencari pujian. Sebab sejarah tidak pernah benar-benar mencintai penguasa yang anti kritik.
Dan rakyat pun sebenarnya harus belajar lebih dewasa. Jangan mudah terpecah hanya karena fanatisme politik. Jangan sampai persaudaraan rusak karena berbeda pilihan. Karena setelah pemilu selesai, yang tetap hidup bersama di negeri ini tetaplah rakyat yang sama.
Mungkin itu sebabnya gambar-gambar yang saya baca pagi ini terasa menarik. Ia bukan sekadar hiburan media sosial, tetapi semacam cermin yang memantulkan kegelisahan zaman. Sebuah tanda bahwa rakyat ingin didengar, bukan hanya diminta memilih lima tahun sekali.
Menjelang Idul Adha ini, mungkin yang paling penting bukan sekadar siapa yang paling kuat mempertahankan kekuasaan, tetapi siapa yang paling ikhlas berkorban demi rakyatnya. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni







